
Semilir angin musim semi menerpa anak rambut kedua insan yang terdiam dalam keheningan. Suasana dan aroma sekitar membuat keduanya sama-sama menenggelamkan diri dalam sanubari masing-masing. Mencoba menenangkan ambisi duniawi dan memahami lika-liku perjalanan hidup yang sudah dialami.
Jeda yang menentramkan. Tidak ada yang berbicara kecuali bisikan alam yang sesekali menggelitik penca indera. Bahkan cawan-cawan beraromakan teh tradional Korea yang telah disajikan oleh pramusaji menambah ketentraman batin yang didambakan oleh siapa saja.
“Maaf...”
Satu kata magis yang keluar dari mulut Jagad merobek kesunyian dengan cara yang paling mustahil yang bisa dipikirkan Aleya. Ia tidak pernah menyangka, bahkan berharap pun tidak, satu kata itu akan diikrarkan Jagad untuknya.
Aleya hanya bisa termenung, tidak bisa mencerna apalagi menanggapi maksud kata itu.
“Aku tahu, maafku tidak bisa menggugurkan dosa yang aku lakukan padamu selama ini. Tapi setidaknya, dalam hidupku, aku ingin mengatakannya sekali saja...” lanjut Jagad. Ia menyesap teh yang sudah disajikan di hadapannya sambil membuang wajah ke luar jendela. Ada rasa canggung yang sengaja ia hindari saat bertemu tatap dengan Aleya.
“Apa artinya semua ini?” pertanyaan Aleya sangat wajar. Sikap yang ditunjukan Jagad berbanding terbalik dengan kalimat yang baru saja dilontarkannya. Baru beberapa hari saja mereka bertemu, sudah banyak kejadian dan kata-kata ancaman yang terlontar dari bibirnya itu. Tapi sekarang kenapa tiba-tiba ia meminta maaf?
“Entahlah...” yang ditanya hanya mengangkat bahunya sambil menghembuskan nafas kasar, “pikiranku sedang kacau.”
“Jangan coba mengecohku,” kata Aleya sambil memperhatikan gerak-gerik Jagad. Ia kesulitan untuk membaca riak wajah kakaknya itu. Ada kekhawatiran yang jelas tersurat dari gelagatnya. Ia seoalah sedang dirundung oleh pilihan-pilihan hidup yang tidak menguntungkannya.
“Tidak, sekalipun aku melakukannya, kau akan baik-baik saja saat ini. Kau tidak melihatnya?” Jagad menyapukan pandangannya jauh ke luar, “kau kini sudah di luar jangkauanku...”
“Ada apa denganmu?” Aleya mengernyitkan dahinya melihat sisi melodramatis Jagad.
“Mungkin aku sudah gila,” tiba-tiba Jagad merasa malu sendiri dengan sikapnya yang terkesan merengek dan mengeluh seperti anak kecil.
“Kenapa kau membenciku?” Aleya memberanikan diri untuk bertanya. Walau ia sudah mengira bahwa kehadiannya tidak diharapkan dan lebih pada sebuah ancaman, tapi itu tidak lantas memberikan hak pada Jagad untuk melakukan segala perbuatan itu padanya. Ia butuh alasan, ia butuh jawaban yang bisa memberikan kejelasan atas semua sikap Jagad selama ini.
“Aku hanya melakukannya agar aku bisa bertahan hidup,” jawaban Jagad sungguh di luar perkiraan Aleya.
“Aku tidak mengerti!” bagaimana Aleya akan mengerti jika itulah arti dari semua penderitaan ini.
“Adiku yang sesungguhnya bernama Moona sebelum kau datang dan mengisi tempatnya. Ya, itulah tugas diberikan padamu untuk menjaga psikis Mama,” terang Jagad begitu ia mendapati Aleya yang terdiam.
Fakta ini adalah sesuatu yang baru bagi Aleya. Ia tidak pernah mendengar cerita ini sebelumnya. Aleya memilih untuk diam dan mendengar cerita Jagad secara keseluruhan.
“Kau ingat bukan? Walau memang aku keterlaluan, tapi aku sangatlah menyadari arti dan keberadaanmu untuk Mama. Aku memperlakukanmu dengan baik kan?” Aleya tidak terlalu ingat detailnya. Ia memang kehilangan sebagian besar masa kecilnya. Tapi benar, Jagad memperlakukannya dengan baik selama mereka ada dilingkungan rumah. Semasa sekolah pun Jagad tidak terang-terangan melakukan perundungan fisik dan verbal pada Aleya. Ia adalah tipe imidator yang membuat Aleya lebih tidak bisa berteman dan memiliki teman.
“Tapi, Mama tidak tahu kalau di dalam tubuhmu mengalir darah yang sama dengan Moona. Kau memang penyelamat, tapi kau adalah bom waktu di keluarga kecil kami,” Jagad tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada sang ayah. Ia benar-benar menyayangkan hal ini harus terjadi pada keluarganya.
“Yang lebih menyedihkan lagi adalah Mama. Tanpa tahu perbuatan Papa dibelakangnya, ia membesarkan benih perselingkuhan suaminya sendiri dengan penuh kasih sayang. Apa kau pikir aku akan tetap waras jika melihat itu semua?” Jagad hanya bisa memendam karena ia tahu benar bagaimana perkembangan psikis ibunya setelah Moona pergi. Ia tidak bisa berbuat banyak karena ia masih anak kecil yang belum bisa melindungi ibunya kala itu.
“Sejak kapan kau mengetahuinya? Kalau kau dan aku bersaudara?” Aleya mulai melihat darimana masalah ini berasal. Ia mulai menganggap kebencian yang ia terima jelas dari mana asalnya. Jika ia menjadi Jagad pun mungkin ia tidak akan kuasa menanggung beban itu sendirian.
“Sejak kita SMA dan tak hanya itu saja yang harus kau ketahui...” Jagad menatap tajam ke arah Aleya. Melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan olehnya, “ibumu masih hidup. Kau benar-benar bukan anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga kami. Apa kau sama sekali tidak tahu masalah ini? Papa tidak pernah memberimu petunjuk?”
“Jika aku tahu, kau pikir aku akan diam saja menerima segala perlakuanmu?” sinis Aleya.
“Lalu sebenarnya apa peranmu? Tidak, peran apa yang seharusnya melekat padamu?” inilah jalan buntu yang menjadi hambatan Jagad selama ini. Ia tidak bisa menarik garis yang logis untuk satu hal ini hingga ia tidak tahu di sisi mana Aleya berdiri.
“Mana aku tahu? Jika aku selicik itu mana mungkin aku akan diam saja saat kau memperlakukanku seperti boneka! Kenapa kau memilih posisi yang sulit dengan berpura-pura mencintaiku padahal kau sangat membenciku?” Aleya menarik nafas dalam-dalam untuk menekan emosinya. Ia tidak datang ke sini untuk membuat dirinya sendiri meledak dalam cengkraman amarah. Namun cerita yang disampikan oleh Jagad justru membuatnya merasa ketidakadilan yang sangat menyakitkan. Kenapa ia harus menanggung semua yang sejak awal tidak menjadi kesalahannya?
“Ah, iya. Kau tidak penasaran dengan ibumu?” Jagad menyadari ceritanya belum lengkap.
“Kakak tahu ibuku?” kata ibu sebenarnya sangat asing keluar dari mulut Aleya. Sejak awal ia tidak memilikinya hingga ia tidak terlalu sepenasaran itu dengan sosok ibunya. Aleya juga bukan lagi anak kecil yang membutuhkan sosok ibu untuk menjaganya. Ia bahkan sudah menjadi ibu.
“Ibumu ada di penjara...” Jagad sengaja menjeda kalimatnya. Ia menunggu Aleya agar wanita itu menatapnya seolah kalimat yang akan diucapkan berikutnya membutuhkan kesiapan dalam penerimaannya, “Ibumu ada dipenjara karena terbukti bersalah telah membuat seseorang kehilangan nyawa. Dan orang malang itu adalah Moona.”
Keheningan lagi-lagi menyelimuti dua pasang mata yang kini saling menatap. Satu pasang menunjukan kepahitan yang selama ini ia pendam sedangkan sepasang yang lain penuh doa dan harap apa yang baru saja ia dengar tidaklah benar.