
San Hyuk memang memiliki keinginan untuk menjadikan Deepa anaknya. Tidak hanya pada Aleya, San Hyuk juga jatuh hati pada anak kecil itu. Setelah pertemuan pertama mereka, San Hyuk selalu membuat alasan agar bisa bertemu dengan Deepa. Bahkan tanpa ada Aleya pun San Hyuk sering bermain ke rumah hanya untuk bermain dan menyapa Deepa.
Tapi niat untuk menjadikan Deepa sebagai anaknya itu bukanlah perkara yang mudah. Deepa memiliki seorang ibu yang keras kepala dan bukan hal yang gampang untuk membuat Aleya menyetujui idenya. Pasti dengan alasan tidak ingin membuat San Hyuk terbebani oleh keadaannya.
Apa Aleya tidak paham juga betapa San Hyuk menginginkannya?
San Hyuk baru saja pulang dari kantor dan merebahkan dirinya di atas sofa. Jam menunjukan pukul satu dini hari. Kantor baru tempatnya bekerja benar-benar memaksa pendatang baru untuk memeras pikiran dan tenaganya demi pencapaian-pencapaian yang harus segera digapai. Jika tidak, masa depannya tidak akan berlanjut di sana. San Hyuk bertahan bukan untuk menang. Ia membutuhkan pengalaman ini untuk bisa melaksankan misi yang sudah diajukannya pada sang ayah. Bahkan keluarganya itu sudah menyetujui keinginannya untuk menikahi Aleya secara hukum. Tapi ia sendiri masih menemui jalan buntu bagaimana cara meyakinkan Aleya agar berada satu prahu bersamanya.
Tapi agaknya semesta berpihak padanya.
Tiba-tiba ponsel San Hyuk berdering. Ia buru-buru mengambilnya karena panggilan di jam seperti itu tidaklah wajar.
Benar saja, nama Aleya yang ada di seberang sana.
“Ha...” belum selesai San Hyuk menyelesaikan sapaannya, suara Aleya lebih dulu terdengar.
“Oppa!” teriak Aleya panik. Suaranya bergetar begitu mendengar panggilannya terhubung.
“Kenapa? Ada apa?” San Hyuk langsung cemas mendengar ada kepanikan dalam nada suara Aleya. Ia yang semula berbaring lantas bangun dan berjalan mengambil jaket.
“Tarik nafas dalam-dalam, tenangkan dirimu terlebih dulu, “tanpa menunggu penjelasan dari Aleya, San Hyuk sudah berjalan keluar meningglkan apartemennya.
“Deepa...Deepa panas...tadi... sempat kejang...tapi...hiks...” Aleya mulai terisak. Pikirannya tiba-tiba buntu, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Ini baru kali pertama Aleya mengalami situasi seperti ini.
“Jangan nangis...” hibur San Hyuk sambil berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir lama di basement. Ia harus memanaskan mobil itu agar tidak bermasalah karena sudah lama tidak dipakai, “sudah menghubungi 911?”
“Sudah...” jawab Aleya sambil berusaha menenangkan dirinya.
“Bilang pada petugas medis untuk membawa Deepa ke Rumah Sakit S Univeristy, aku akan menunggumu di sana. Kau mengerti?” setelah San Hyuk selesai memastikan bahwa Aleya sudah lebih tenang, ia lalu menginjak pedal gasnya menuju rumah sakit.
San Hyuk paham benar kekhawatiran Aleya dan alasan dia menghubungi San Hyuk. Agar penanganan di rumah sakit lancar, Aleya harus mengurus administrasinya. Tapi Deepa adalah anak warga negara asing yang belum di data secara resmi dalam pencatatan kewarganegaraan. Aleya hanya mengantongi surat keterangan lahir dari klinik yang dulu membantu persalinannya. Klinik itulah yang selama ini menangani kebutuhan medis Deepa. Dua hari yang lalu Deepa sudah dibawa ke klinik, mereka menyarankan jika dalam waktu dua hari sakitnya belum juga sembuh, mereka menyarankan untuk membawa Deepa ke rumah sakit.
San Hyuk sampai di rumah sakit terlebih dahulu. Setelah ia memarkirkan mobilnya, ia bergegas menuju IGD dan mencari kepala IGD. Sambil menunggu, San Hyuk berjalan ke arah meja administrasi dan menunjukan kartu identitasnya, “sebentar lagi ada pasien yang akan datang. Urus segala prosesnya dengan baik dan tenang, karena dia adalah bagian dari Suwon.” Kepala perawat itu langsung berdiri begitu mendengar bahwa orang yang ada di hadapannya berasal dari Suwon Grup.
“Kecilkan suaramu Dokter Lee, aku ke sini bukan untuk pamer!” San Hyuk meraih tangan Dokter Lee Min Seok dan menariknya menjahui kerumunan akibat kegaduan yang terjadi.
“Ada apa Tuan Muda malam-malam kemari? Ada yang sakit?” tanya Dokter Lee yang juga merupakan dokter keluraga khusus San Hyuk dengan khawatir.
“Bukan aku, aku baik-baik saja. Sebentar lagi akan ada pasien, anak-anak berusia kurang lebih empat tahun. Tolong kau urus dia.” San Hyuk tidak ingin bertele-tele, “dan jangan panggil aku Tuan Muda!” San Hyuk memberikan peringatan.
“Siapa...” belum sempat Dokter Lee bertanya, suara sirine ambulance memecah keheningan malam. Pintu mobil berwarna putih itu buru-buru dibuka dan sesuai apa yang dikatakan San Hyuk, seorang balita tidak sadarkan diri dibawa masuk ke dalam IGD.
Suasana IGD yang semula sunyi tiba-tiba gaduh karena kedatangan pasien gawat darurat. Terlebih lagi, kepala IGD sendiri yang turun tangan. Pertanyaan kenapa dan siapa tidak bisa diabaikan begitu saja. Tapi prioritas mereka yang paling utama adalah menyelamatkan anak itu terlebih dahulu.
Tubuh Aleya langsung tersungkur di lantai IGD begitu Deepa di bawa masuk untuk penanganan dokter. Semua pikiran dan tenaganya seolah ia gunakan untuk menguatkan dirinya sendiri sampai di rumah sakit. Lututnya langsung kehilangan tenaga begitu ia sampai di sana.
“Bangunlah...” San Hyuk meraih lengan Aleya dan menariknya berdiri, “dia akan baik-baik saja,” hiburnya sambil menarik Aleya masuk ke dalam jangkauan lengannya.
“Ini semua salahku...” lirih Aleya mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ia diam saja saat San Hyuk mengeratkan pelukannya.
“Tidak, ini bukan salah siapa-siapa,” San Hyuk mengusap punggung Aleya, berharap wanita itu lebih tenang.
“Aku terlalu sibuk dengan tugas akhirku hingga tidak memperhatikannya dengan benar...ini salahku...” Aleya masih terus menyalahkan dirinya sendiri walau San Hyuk sudah berusaha menenangkannya. Ia lalu membimbing Aleya ke ruang tunggu.
“Baiklah, ini memang salahmu, oleh karena itu ini jadi pengalaman yang berharga kan?” San Hyuk mencari sudut pandang lain untuk bisa mencapai logika Aleya, “setelah ini, kau harus memiliki lebih banyak waktu untuk Deepa dan tentunya untuk dirimu sendiri.”
Aleya menghentikan tangisnya dan menatap San Hyuk tajam. Bukankah biasanya ia akan terus menghiburnya? Kenapa kini ia justru menyalahkan Aleya? Dasar laki-laki tidak peka!
“Kenapa? Kau tidak terima?” San Hyuk terkekeh melihat Aleya menatapnya tajam begitu. Ia lalu mengusap sisa air mata Aleya dari pipinya, “Deepa akan baik-baik saja. Percayakan sepenuhnya dengan dokter yang menanganinya.”
“Terima kasih...” sekali lagi San Hyuk menyelamatkannya. Ia tidak tahu harus bagaimana menyampaikan rasa terima kasihnya, “aku tidak tahu bagaimana aku akan membayar semuanya nanti...”
“Datanglah padaku...” potong San Hyuk. Ia menatap Aleya dengan sungguh-sungguh, “tinggalkan semua pikiran tidak bergunamu, turunkan egomu, dan datanglah padaku...”