CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 55; Hilang



Manusia hanya bisa berharap


Lagi-lagi kuasa tangan Tuhan lah yang memegang kendali


Lagaknya harapan Jagad dan Aleya memang harus pupus sebelum berkembang. Doa yang baru saja dipanjatkan oleh sepanang manusia itu di dengar. Hanya saja bukan mengabulkan permohonannya, Tuhan justru mengujinya.


Telepon genggam Aleya yang sengaja ia letakan di atas meja bergetar. Ada nada panggil dari San Hyuk yang membuat benda pipih itu terus menuntut untuk di angkat.


“Ada apa?” Aleya langsung bertanya.


[Kamu ada di mana?]


“Di Seongbuk-Dong, ada apa?” Aleya kembali mengulangi pertanyaannya. Tiba-tiba saja hatinya merasakan firasat yang tidak enak.


[Apa kamu bersama Han Byeol?]


“Tidak...”


[Kembalilah ke Seoul secepatnya]


“Han Byeol kenapa?” tandas Aleya. Tanpa sengaja ia meninggikan suaranya. Ia tidak ingin ada dalam kebimbangan selama berada diperjalanan. Ia sadar ia tidak bisa menyingkat waktu dan terjebak pada prasangka-prasangka yang dapat menjerumuskannya.


[Aku belum bertanya ke semua orang, tapi dia menghilang...]


“Apa maksudmu...” Aleya menatap tajam ke arah Jagad. Ia tidak bisa untuk tidak menaruh curiga padanya.


[Kembalilah dulu, jangan mengemudikan mobil sendirian, aku akan menelepon salah seorang yang mengikutimu!]


San Hyuk mengakhiri panggilanya tanpa menunggu jawaban dari Aleya.


“Kenapa?” Jagad yang merasakan perubahan pada ekspresi dan sikap Aleya hanya bisa bertanya.


“Apa kakak melakukan sesuatu pada Han Byeol? Apa kakak senagaja memecah perhatianku kemari untuk mengambil Han Byeol dariku?” tuduh Aleya.


“Kau bicara apa sih? Bicara yang jelas!” Jagad menarik Aleya agar kembali duduk. Adiknya itu berusaha mengatur nafasnya sebelum kembali berbicara.


“Han Byeol menghilang...” Aleya menutup wajahnya dangan kedua tangan. Ia berusaha menghalau emosinya agar tidak memperngaruhi caranya mengambil keputusan.


“Bagaimana bisa? Bukankah ia juga memiliki pengawal?” Jagad ikut terkejut mendengarnya. Walau ia kini paham maksud pertanyaan Aleya, ia bahkan tidak tersinggung dan memprioritaskan apa yang harus dikerjakan lebih dulu, “itulah mengapa aku mengatakan pengawal kalian lemah! Kenapa kau mau mengeluarkan uang untuk orang-orang yang tidak bisa diandalkan!” Jagad ikut emosi melihat Aleya yang tidak bergeming di tempat duduknya.


“Ayo...” Jagad menarik lengan Aleya agar berdiri. Seorang pengawal sudah menunggu keduanya di depan pintu. Perhatian Aleya sepertinya sedang terpecah hingga ia tidak menyadari kedatangan pengawalnya.


“Bukan aku...” kata Jagad begitu ia dan Aleya masuk ke dalam kursi penumpang. Ia lalu menekan tombol dial di gawainya untuk menghubungi seseorang. Tapi sampai dering ke lima pun tidak ada jawaban.


“Bagaimana mungkin aku langsung mempercayainya?” Aleya menyangsikan pernyataan Jagad. Ia tidak bisa langsung percaya begitu saja mengingat salah satu potensi acaman terbesarnya ada pada laki-laki itu.


“Aku tidak memiliki niat untuk menyakiti anak-anak. Ini kenapa Robin tidak bisa dihubungi sih?” Jagad kembali mencoba menghubungi Robin. Tidak biasanya rekannya itu mengabaikan panggilannya seperi itu.


“Kenapa?” Aleya akhirnya menyadari kekhawatiran dalam nada bicara Jagad.


“Robin tidak bisa dihubungi. Sebentar...” Jagad mengganti tujuan panggilannya ke Alex. Dalam dering ketiga, panggilannya terhubung dengan orang yang dimaksud.


“Tidak...tapi orangku melihat Robin tidak kembali ke hotel setelah acara tadi siang,” jawab Alex.


“Ke mana? Ia tidak mungkin pergi sendiri kan?”


“Aku akan mencari tahu, dia bersama anak buahku saat pergi,” tanpa menunggu Alex mematikan panggilannya.


“Kenapa *timin*gnya pas sekali?” gumam Jagad pelan. Ia lalu mengirimkan pesan kepada Luna dan menanyakan kabarnya. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak tenang dengan kebetulan yang telalu linier ini.


Aleya mengabaikan Jagad dan sibuk dengan ponselnya. Ia berusaha mencari tahu kabar Han Byeol dari sumber yang ia miliki. Mungkin saja putranya itu sedang ada kegiatan lain dan luput dari pengawasan pengawal.


Tapi Han Byeol bukan tipe anak yang melakukan sesuatu tanpa izin terlebih dahulu. Anak itu tahu benar bahwa ia bersama dengan beberapa pengawal, ia tidak mungkin menyelinap pergi dari mereka begitu saja. Sebenarnya apa yang terjadi? Ponselnya juga sudah tidak aktif!


“Apa kau tahu sesuatu?” Aleya menepuk bahu pengawal yang bersamanya, “bagaimana cerita dari tim pengamanan?”


“Tuan muda masih ada di sekolahnya sampai sore tadi, Nyonya. Kami lalu mengantarnya sampai ke tempat bimbingan belajar. Tapi saat kami hendak menjempunya, pengajar di sana mengatakan bahwa Tuan Muda tidak mengikuti bimbingan hari ini. Kami sedang melakukan penyisiran di sekitar lokasi,” lapornya.


Aleya hanya bisa mengkalkulasi waktu yang paling memungkinkan untuk menebak waktu kepergian Han Byeol. Ia juga belum bisa melaporkannya ke pihak berwajib dan harus menunggu terlebih dulu. Terlebih ini adalah kasus remaja yang biasanya mendapat perhatian yang kurang karena kasus para remaja yang banyak kabur karena tingkat stress yang mereka alami. Polisi cenderung mengabaikan kasus seperti ini.


“Apa mereka sudah mengecek cctv di sekitar lokasi?” tanya Aleya lagi.


“Kami sedang mengusahakannya...”


Berbarengan dengan informasi yang didapatkan Aleya, ponsel Jagad berbunyi. Ia langsung mengangkatnya begitu melihat nama Alex ada di layar benda pipih itu.


“Gimana?” serbu Jagad.


“Kabar buruk, orang yang bersama Robin kami temukan terluka parah di dekat tempat Han Byeol melakukan bimbingan belajar. Aku  belum bisa menanyai apa yang terjadi karena dia masih tak sadarkan diri. Sementara itu aku belum menemukan Robin atau pun Han Byeol!” suara Alex saat melaporkan perkembangan informasi terdengar seperti sedang diburu sesuatu.


“Kau tahu sesuatu tentang ini?” selidik Jagad.


“Tidak...aku juga sedang mencari tahu! Ini sudah jauh dari kesepakatan kita...” Alex terdengar sedikit kesal, “Hei, kau tidak membayarku untuk ini!”


“Maafkan aku, tolong bertahanlah sedikit lagi...” Jagad hanya bisa maklum dengan kekesalan Alex. Ia memang hanya mempekerjakan Alex sebagai informan, bukan sebagai pengawal fisik.


“Aku akan menghitung kompensasinya nanti, sial!” Alex kembali mengakhiri panggilannya. Ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk melihat anak buahnya yang sedang kritis itu. Alex merasa ditipu, sepertinya lawan yang dia hadapi bukalah orang-orang Suwon Grup. Ada orang lain yang sedang bermain di antara kedua kubu itu.


“Kenapa?” tanya Aleya setelah Jagad selesai bicara.


“Ini bukan kabar baik...” Jagad menatap ponselnya dan kembali berusaha mengubungi Robin. hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban walau tersambung ke panggilan.


“Jangan membuatku takut!”


“Orang yang aku pekerjakan, yang membersamai Robin sore ini ditemukan kritis disekitar tempat bimbingan belajar Han Byeol...” Jagad menatap Aleya lamat-lamat, “Aku juga belum bisa menemukan Robin, orang itu tidak sadarkan diri...”


“Kenapa orangmu dan Robin ada di sana?” selidik Aleya.


“Aku juga tidak tahu, apa kau mengatakan sesuatu pada Robin sore tadi?” pertanyaan Jagad tidak bermaksud menyudutkan Aleya. Tapi belum pernah Robin bertindak dengan insiatifnya sendiri selama ini.