CallyDaniel

CallyDaniel
85‐Semua belum usai



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Semua orang terkejut dengan suara yang berasal dari atap rumah, dan lebih mengejutkan lagi saat mereka tahu jika ternyata Sonya mengetahui kedatangan mereka. Semua orang saling memandang, tatapan penuh tanya tertuju pada Edo yang kini berada bersama mereka.


"Apa ini jebakan anda tuan Edo," tanya Cally penuh curiga.


"Kalian salah paham, aku sama sekali tak pernah berkomuniksi dengan wanita itu setelah pertengkaran kami," sanggah Edo dengan tuduhan Cally.


"Hhaaaha, dia memang tak memberitahuku dengan pengkhianatannya. Beruntung aku memiliki menantu yang begitu setia terhadapku," seru Sonya.


"Vira," seru serempak semua orang.


"Kalau kalian ingin anak ini selamat, minta Cally naik dan bawa cucuku kesini."


"Tidak! Dia istriku, jadi aku akan menemaninya kemanapun dia pergi," tahan David yang menggenggam tangan istrinya.


"Hhaha romantis sekali kalian ini. "


"Dia anakku, aku akan naik dan membawanya turun."


"Benar juga, jadi silahkan kalian berdua juga ****** Letta silahkan naik! Kalian semua tetap diam ditempat."


Sonya mengarahkan sebuah pistol pada Laisa, Shaka begitu geram melihat ketakutan yang coba ditutupi oleh adiknya tersebut. Ingin sekali ia berlari naik bersama mamanya, namun jika ia begitu nekat maka keselamatan adiknya jadi taruhannya.


"Boy, kamu tenang sama papa disini. Kita bertindak kalau mama sudah memberi aba-aba."


"Iya pah."


Perlahan ketiganya menaiki anak tangga yang sudah begitu usang, penuh debu juga jamur yang menempel pada setiap sisi tembok yang dilewatinya. David yang menggendong Meya berjalan didepan sedang kedua wanita berada disisi belakang saling bergandengan.


"Tahan mereka."


Sonya memberi perintah anak buahnya saat melihat ketiganya sudah ada didepan matanya. Dengan paksa salah satu anak buah Sonya merebut Meya, sedang setelahnya mereka di ikat bersama.


"Brengsek, anda begitu curang," hardik David dengan tatapan tak sukanya.


"Suka-suka saya, ini wilayah saya. Kalian yang cari mati datang sendiri kesini bukan," ejeknya ketika melihat ketiganya tak berdaya.


Dengan begitu kasar Sonya mendorong tubuh Laisa hingga tersungkur ditanah, menendang Laisa meminta bocah itu untuk merangkak menuju mamanya. Letta begitu marah melihat anaknya diperlakukan dengan begitu kasar didepan matanya.


"Percayalah, anakku akan datang dan mencabik-cabikmu hingga ketulang-tulangmu," geram Letta dengan tatapan murka.


"Mamaa," panggil Laisa yang berusaha merangkak kearahnya.


David berhasil melepaskan ikatan tali yang membelit Letta juga Cally, ternyata para anak buah Sonya sengaja tidak mengikat mereka dengan kuat. Dan sepertinya Sonya tak menyadari jika anak buahnya sudah mengkhianatinya.


Letta masih menatap Laisa yang berusaha mendekatinya, gadis kecil itu mungkin sudah kesakitan sebab kini ia terlihat begitu menahan air matanya.


"Sayang kamu bisa nak," seru Cally menyemangati Laisa dengan masih berpura-pura terikat.


Namun sayang sekali, Sonya menarik kaki Laisa dan membuat jarak yang begitu jauh antara Laisa dengan mamanya. Letta benar-benar sudah tak bisa menahan amarahnya, telebih saat ia melihat putrinya menangis kesakitan.


Ia bangkit dan secepat kilat berlari mengambial Laisa yang ada dibawah Sonya. Sungguh gerakan yang begitu cepat hingga Sonya sendiri tak bisa menghindarinya.


"Brengsek! Tangkap mereka," teriak Sonya.


Semua orang yang ada dibawah begitu terkajut dengan apa yang terjadi, Shaka sudah tak tahan sehingga ia berlari menyusul mama juga yang lainnya. Arga tak mungkin meninggalkan putranya, ia meminta Orland untuk menjaga keselamatan Edo dibawah.


"Sungguh baik sekali masih memikirkan nyawaku ini, " batin Edo melihat kepergian Arga.


"Pah, dimana mama?"


Daniel juga Vira baru saja sampai dengan begitu tergesa-gesa, Edo menatap Vira menantunya. Ia berjalan perlahan mendekati Vira dan melayangkan sebuah tamparan keras untuk wanita tersebut. Semua orang terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Lancang kamu! Pengkhianat," murka Edo membeberkan apa yang telah Vira lakukan.


Daniel tak menyangka jika istrinya mencuranginya lagi, ia benar-benar kecewa hingga tak sudi bersebelahan dengan Vira.


"Aku hanya ingin anakku baik-baik saja, dimana letak salahku," tanya Vira.


"Cucuku akan baik-baik saja karena mereka tak mungkin menyakitinya. Meya hanya umpan pinjaman yang digunakan untuk Sonya," jelas Edo, namun Vira sama sekali tak menggubrisnya.


"Percuma tuan menjelaskan situasinya, hati wanita ini sudah terlalu busuk untuk menerima kebenaran," sindir Orland tanpa memperhatikan Vira.


Semua orang terkejut saat sebuah teriakan menggema dengan begitu kencangnya, Vira panik dan segera berlari menuju kelantai atas dengan diikuti Daniel suaminya.


Semua orang berkumpul dilantai atas, Sonya begitu terpojok dengan posisinya saat ini. Letta dengan berani melawan setelah ia berhasil menyelamatkan putrinya, Letta memberikan Laisa pada David dan memintanya membawa gadis itu turun.


Meya terbangun dari tidurnya, ia begitu kebingungan saat melihat semua orang tengah berkumpul bersama.


"Oma," lirih panggil Meya.


Sonya lengah saat berbalik menatap sang cucu, Shaka segera berlari dan merebut pistol dari tangan Sonya.


Dor!


"Akhhh."


Semua orang terkejut, semua orang tercengang dengan kejadian secepat kilat didepan matanya itu. Shaka menembakkan pistol itu tepat mengenai kaki Sonya, membuat wanita itu tersungkur dengan darah segar mengalir dari kakinya.


"Kamu melukai oma ku," marah Meya yang membantu Sonya.


"Itu hukuman untuk berani menyentuh adikku," serunya yang kembali mengarahkan pistolnya.


Namun dengan secepat kilat Arga merebut pistol tersebut dan membuang semua pelurunya. Tatapan tak suka Shaka berikan pada Arga yang menghentikannya, ia hanya ingin menghukum orang-orang yang mencelakai adiknya.


"Kak Shaka, jangan kak," seru Laisa menangis.


Vira tiba dan segera mendekati putrinya, memeluk dengan erat tubuh Meya yan begitu dirindukannya. Daniel mencoba menghentikan aliran darah Sonya yang terus saja mengalir.


"Papy, bocah itu yang menembak oma," tunjukknya pada Shaka didepannya.


Keduanya tercengang, namun tatapan Shaka entah mengapa begitu mengintimidasi mereka. Bahkan Vira tak berani berlama-lama menatap bocah laki-laki itu.


"Shaka, kamu bawa adik kamu pergi ya. Biar papa yang urus disini," bisik Arga.


Tiba-tiba Sonya menepuk tangannya tiga kali, beberapa orang berbaju hitam muncul dan segera menangkap semua orang termasuk Meya Vira juga Daniel putranya.


"Tuan mohon tunggu disini," tahan Orland ketika melihat Edo hendak menyusul semuanya.


"Hhahahaa, kalian salah jika mengira saya tidak menyiapkan rencana cadangan. Hajar para laki-laki itu," tunjukknya pada Arga David juga Shaka yang ada didepannya.


"Jangan sentuh putraku! Pukul aku," teriak Arga yang begitu histeris melihat putranya digebuki didepan matanya.


"Akhh, lepaskan anakku," teriak Letta tak tega.


"Kaka, kak Shaka. Berhenti jangan sakiti kakaku," tangis pecah Laisa melihat darah segar mengalir dari tubuh kakanya.


Shaka terkulai lemah tak berdaya ditanah setelah babak belur dihajar begitu juga Arga juga David yang ditundukkan paksa oleh para anak buah Sonya.


"Jahanam! Beraninya melawan anak kecil, pengecut," hardik Letta dengan begitu marahnya.


"Lancang! Tampar wanita itu."


"Mamaaa," teriak Laisa histeris.


"Hhahaa sudah ku katakan kalian tidak akan bisa mengalahkanku. Kalian semua akan mati mengenaskan disini, mati dengan mengenaskan," menunjukkan sebuah remot kendali bom ditangannya.


"Mama gila," teriak Daniel.


"Mama sudah benar-benar mengecewakanku ma! Aku begitu menyayangi dan menghormati mama, aku meninggalkan semua yang nggak mama suka termasuk meninggalkan Cally yang begitu aku cintai! Itu semua demi mama, tapi mama sama sekali tidak menghargai itu," seru Daniel mengutarakan kekecewaannya.


"Kamu nyatanya masih mencintai ****** itu bahkan sampai detik ini! Ini yang kamu bilang menuruti keinginan mama," teriak Sonya.


"Benar, bahkan hingga detik ini dan melihatnya menikahi lak-laki lain namun aku masih sangat mencintainya," sendu Daniel menatap Cally yang juga babak belur wajahnya.


"Semua sudah terlambat! Kalian bawalah anak juga cucuku turun, kita akan meledakkan tempat ini secepatnya," seru Sonya.


"Terlalu percaya diri merasa dirinya menang," gumam Arga dengan begitu perlahan.


"Pemenanglah yang akan tertawa hingga akhir," lanjut Cally.


Dan tiba-tiba Shaka yang dikira pingsan mulai bangkit, terduduk ditanah menatap Sonya dengan begitu sinisnya.


"Lumpuhkan mereka," ucap Shaka.


Semua begitu cepat, semua anak buah Sonya dibunuh dengan begitu saja didepan tuannya. Sonya terkejut dengan kedatangan bala bantuan Arga, ia tak menyangka jika mereka bisa merencanakan hal yang begitu teliti.


"Takut? Terlambat," ucap Shaka begitu menakutkan.


Aura bocah itu bahkan begitu mengintimidasi, hingga semua orang termasuk keluarganyapun ikut merasakan.


"Jangan kalian fikir kalian menang," seru Vira yang maju dengan pistolnya. Ternyata Vira juga telah menyiapkan rencananya sendiri.


Semua orang terdiam, Vira bahkan menembak kaki Cally dengan begitu beraninya.


"Akhh," pekik Cally kesakitan.


"Sayang."


"Sister."


"Cally!"


"Lancang! Berani sekali mendahului ku," seru Shaka.


Vira melangkah maju dengan begitu beraninya, ia berjalan mendekati Shaka tanpa rasa takutnya. Shaka tak gentar, rasanya ia bisa menebak gerakan apa yang akan lawannya lakukan terhadapnya. Benar saja, Vira yang berusaha menggapainya dengan segera dihalau Shaka dan dipelintir tangannya.


Pistol jatuh dan terlempar tepat didepan Sonya, Sonya menyeringai mengarahkan pistolnya pada Shaka.


"Mati kau bocah tengik!"


"Shaka awas."


Dor!


"Mamy," teriak Meya begitu histeris.


"Mama, teganya," lirih Vira.


Target Sonya adalah Shaka, ia juga begitu terkejut saat tembakannya malah mengenai Vira tepat didadanya. Shaka memang menggunakan Vira sebagai perisainya, namun bocah itu juga tak menyangka jika tembakan itu akan tepat mengenai dadanya.


Meya menangis histeris, ia terus mengguncang tubuh mamy nya yang sudah tak bergerak dengan berlumur darah.


Tangan Sonya gemetar ketakutan, ia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia tak berniat membunuh menantunya dengan tangannya sendiri, ini adalah kecelakaan yang tanpa sengaja ia lakukan. Ia tersungkur tak berdaya menatap kedua tangannya yang berlumur darahnya.


"Hahahha, kalian semua juga akan mati menamani Vira. Kita akan mati bersama-sama," seru Sonya menatap langit-langit bangunan itu.


"Sial! Kita pergi sekarang, bomnya akan segara meledak," seru Arga.


Arga menggendong Shaka, sedang Letta menggendong Laisa diikuti David yang menggendong Cally istrinya.


"Cepat bawa putrimu pergi jika mau selamat," teriak David melihat Daniel masih tertegun didepan tubuh Vira.


Daniel tersadar dari lamunannya, ia segera menarik dan menggendong putrinya turun dari atap tersebut.


"Tebus dosa mama yang sudah begitu besar itu. Semoga mama bisa menyelamatkan diri," ucap Daniel yang lalu berlari dengan begitu kecangnya.


Blummmmm!!


Bom meledak, bangunan itu hancur seketika tak tersisa. Beruntung semua orang sempat turun dan menyelamatkan dirinya masing-masing. Semua orang saling memeluk dan menangis karena berhasil selamat dari bahaya.


Shaka memeluk tubuh adiknya dengan begitu erat, ia tak hentinya meminta maaf karena telah gagal menjaganya. Edo menghampiri anak juga cucunya, betapa bersyukurnya ia melihat keduanya bisa selamat.


"Kita pulang ya, ada yang udah nungguin kita dirumah," seru Arga.


"Aku akan membawa Cally ke rumah sakit terlebih dahulu."


"Berhati-hatilah dijalan."


Semua orang mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan kobaran api yang masih belum padam tersebut. Suara pemadam juga suara mobil polisi mengiringi kepergian keluarga tersebut.


"Aku bakal balas kematian mamy juga oma ku!!"


......‐SELESAI‐......


------------------------------------------------------------


Terima kasih semua sudah membaca cerita ini. Ini hanya cerita karangan, maaf kalau masih banyak kekurangan.


Terima kasih untuk dukungan juga supportnya, 🥰🥰