CallyDaniel

CallyDaniel
55—Cally yang licik



Arga membawa Shaka kesebuah taman yang tak jauh dari ruang rawat Laisa, disana ia mendudukan putranya disebuah bangku disampingnya.


"Pah, aku harus kembali. Aku harus jagain adik," serunya bangkit dari bangku.


Arga menarik kembali tangan anaknya, mendudukannya disebelah dirinya.


"Boy dengerin papa ya, kamu nggak bisa kayak gini. Bukan kamu yang harus bertanggung jawab untuk apa yang terjadi kepada adik kamu," jelas Arga mencoba mengajak anaknya berbicara.


"Andai aku lebih cepet pah, seandainya aku nggak berhenti untuk istirahat dulu pasti aku bisa nolongin adik. Pasti adik nggak akan lumpuh," menahan air matanya.


Arga menyadari betapa terpukulnya Shaka saat ini, ia menarik tubuh anaknya dan merengkuhnya dengan begitu erat.


"Kita harus kuat boy, masih ada mama yang butuh kekuatan kita. Ada juga adik yang nantinya sangat membutuhkan kamu."


"Adik pah, adik Shaka," tangis bocah laki-laki itu dalam pelukan papanya.


Tanpa terasa Arga juga meneteskan air matanya melihat anak laki-lakinya yang selama ini begitu dingin kini nampak sangat rapuh. Dari kejauhan Letta terus memandangi kedua jagoannya, ia merasa begitu bersyukur ada mereka ditengah pedihnya.


"Kalian penguat mama," gumamnya.


Namun Orland datang dengan sangat panik menghampiri Letta, Arga melihatnya dan ia pun mengajak Shaka untuk mendatangi mereka.


"Ada apa kak," tanya Letta pada Orland yang terlihat kelelahan.


"Ada apa Land?"


"Itu, itu. Laisa histeris," ucapnya.


Shaka yang mendengar adiknya histeris segera berlari menuju kamarnya. Dan benar saja, adiknya tengah menangis dengan sangat kerasnya, bahkan tangisan itu membuat kesakitan yang lebih dalam dihati Shaka.


"Suster beri pasien penenang."


"Jangan," teriak Shaka menghalangi suster.


"Biarkan saya yang menenangkan adik saya."


"Kaka, kakak kaki aku," tunjuknya pada kedua kakinya yang terdiam tak bisa ia gerakkan.


"Gpp, nanti kakak bisa gendong kamu kemana aja yang kamu mau," ucap Shaka menahan air matanya.


Elena tak sanggup melihat kedua cucunya yang begitu memilukan, ia segera berlari keluar diikuti Reno dibelakangnya.


"Cucu kita pah," ucap Elena dalam pelukan suaminya.


"Kita akan balas mereka yang telah berani melukai cucu-cucu kita."


"Kak Shaka aku mau jalan, aku mau bisa jalan nggak mau nggak jalan," tangis Laisa.


Shaka tak tahu harus berkata apa lagi, ia hanya merengkuh tubuh adiknya dan mendekapny dengan sangat erat. Ia rela menukar dirinya asal bukan adiknya yang terluka, tapi tak bisa.


"Maafik kaka dik, maafin kaka yang nggak berguna."


"Kalau kakak bisa, kakak akan tukar kaki kita. Biar kakak yang gantiin," ucap Shaka dengan sungguh-sungguh.


Laisa menghentikan tangisannya, ia mendorong pelan tubuh Shaka agar berjarak dari dirinya. Dengan kasar ia menghapus air matanya, menarik ingusnya hingga mengeluarkan bunyi yang begitu nyaring.


"Kakak apa-apaan sih, aku nggak suka kaka bilang begitu," melipat kedua tangannya didada.


Shaka melihat adiknya yang dulu ceria, sikap kekanak-kanakannya sudah mulai muncul dan membuatnay sedikit lebih lega. Ia dengan gemas mengacak-acak rambut Laisa dengan penuh sayang.


"Aku nggak mau kaka kayak aku nggak bisa jalan, biar aku aja yang nggak bisa jalan gpp asal bukan kakak."


"Kenapa gitu?"


"Kalau gini kan aku bisa minta gedong, kalau kakak yang nggak bisa jalan aku mana kuat gendong kakak sih," ucap Laisa menggemaskan dengan eskpresinya, seolah-olah ia sudah bisa menerima kelumpuhannya.


"Kakak akan gendong kemana aja kamu mau."


Dilain tempat terlihat David dengan Cally tengah duduk termenung dipinggiran kapal sambil berpegangan tangan. Entah apa yang keduanya kini pikirkan, namun baik David maupun Cally sama-sama terdiam.


"Hai," sapa Tami yang tiba-tiba muncul.


"Hai," sapa David begitu malas, sedangkan Cally hanya terdiam menatap luasnya lautan.


"Hai nona Cally, " sapa Tami yang bersikap sok baik didepan David.


"Ya," singkatnya bahkan tanpa memandang lawan bicaranya.


Namun mata Cally yang tengah menatap lautan dikejutkan dengan adanya beberapa ikan yang bermunculan dipermukaan, menghibur dirinya yang tengah gelisah.


"Sayang, ada ikan. Lihat deh," seru Cally antusias.


David terkejut dengan sapaan sayang dari istrinya, wajahnya bersemu merah akibat ulah istrinya. Lupa dengan keberadaan Tami didekatnya, David segera menarik Cally kearahnya kemudian ******* dengan rakus bibir ranumnya.


Dengan sengaja Cally membuka matanya, menatap Tami yang juga sedang menatap kegiatan keduanya. Dengan mesra Cally mengalungkan tangannya pada leher suaminya, membaut David dengan sengaja menekan kepala Cally dan memperdalam ciumannya.


Namun siapa sangka jika tanpa sengaja Cally terpikirkan sebuah ide yang sangat gila. Dengan tak tahu malunya Tami masih berdiri memandangi keduanya, hal itu membuat Cally ingin lebih jauh menunjukkan siapa dirinya.


Cally melepas ciumannya, ia menciumi leher David juga meninggalkan jejak nya disana. David begitu menggila dengan apa yang dilakukan istrinya. Hingg ia dengan tanpa sadar meracu dengan kata-katanya.


"Terus sayang, apa kita coba disini?"


"Tergantung kondisi," sahut Cally yang masih asik dengan kegiatannya.


"Ahh."


David sudah tak tahan, ia mendorong tubuh Cally dan memojokkan istrinya pada pembatan. Dibukanya beberapa kancing baju Cally hingga memperlihatkan tubuh bagian dalamnya. David tak lagi bisa menahan gairahnya, ia dengan segera menyerang Cally dengan bibirnya.


"Ahh sayang, geli," ucap Cally mengejek pada Tami.


"Brengsek! Loe sengaja ngelakuin ini demi panas-panasin gue kan," batin Tami menatap tajam Cally didepannya.


"Silahkan tonton sampai puas adegan panas kami," batin Cally yang seolah sedang berkomunikasi dengan Tami.