
Shaka berjalan menyusuri jalan sunyi, hingga sebuah gang begitu kecil membuatnya begitu tertarik. Dan benar saja, baru beberapa langakah kakinya menyusuri gang sempit tersebut terdengar suara teriakan yang sangat-sangat dikenalnya.
"Mama," batin Shaka yang berlari mencari sumber suara tersebut.
Shaka panik, ia berlari mencari dimana mamanya berada dimana suara teriakan itu berasal. Dengan sangat khawatir bocah itu segera mengirimkan lokasinya pada Arga papanya, Shaka berharap jika Arga akan segera datang dan menyelamatkan mereka.
"Lepaskan anak saya," teriak Letta berurai air mata.
Hatinya sakit, rasanya sungguh perih bagai tersayat pisau tumpul saat melihat putrinya tergelatak tak bergerak dengan darah segar mengalir dari kepalanya.
"Itu hukuman karena bocah kecil itu berani menggigitku," serunya membuat Letta begitu geram.
Letta mulai bangkit, menatap tajam semua laki-laki yang kini berdiri dengan sinis menatap dirinya yang terluka dengan keadaan miris Laisa. Kemarahannya memuncak melihat kondisi mengenaskan anaknya, dengan berderai air mata ia menghajara satu persatu mereka semua.
Shaka mendengar suara keributan, ia menyusuri jalan mencari sumbernya. Hingga ia tepat berada didepan pintu, dengan jelas melihat mamanya tengah melawan banyak laki-laki dan terlihat nampak sangat kelelahan.
"Mama," batin Shaka yang langsung berlari masuk membantu mamanya.
Jangan ditanya lagi, jangan meremehkan Shaka kecil. Sebab kecil-kecil begitu ilmu bela dirinya sudah sangat mahir hingga mampu menandingi oran dewasa.
"Mama," panggilnya setealah melumpuhkan orang yang akan menyerang mamanya diam-diam.
"Kakak, kakak sama siapa kesini," panik Letta yang takut Shaka juga terluka.
"Kita bahas itu nanti ya ma, sekarang kita pergi dulu dari sini."
Letta tiba-tiba terpikir sebuah ide, ia menatap Shaka juga Laisa secara bergantian. Dan Shaka yang mengikuti arah pandangan mamanya begitu terkejut melihat kondisi adiknya yang sudah tak bergerak.
"Adik," panggilnya dengan bergetar.
"Lihat mama kak. Kamu bawa adik kamu keluar, tolong bawa dia kerumah sakit dan selamatkan adik. Mama mohon," pinta Letta berkaca-kaca.
"Kita selesaikan mereka bersama ma, lalu kita pergi bersama," menatap mereka yang sudah mulai bangkit lagi.
"Nggak ada waktu kak, adik butuh pertolongan segera. Lukanya harus segera ditanganin."
"Tapi-
"Kakak dengerin mama, mama pasti akan keluar dengan selamat demi kalian. Mama janji itu."
"Janji?"
Letta tersenyum, ada rasa enggan pada diri Shaka saat berpaling dari mamanya. Ada rasa khawatir saat meninggalkan sendiri mamanya melawan semua laki-laki tersebut. Namun ia juga harus menyelamatkan adiknya, menyelamatkan adik kesayangannya sesuai dengan apa yang mamanya pinta.
"Maafin Shaka mah," ucap Shaka berkaca-kaca sambil menggendong Laisa dipunggungnya.
"Jangan harap bisa keluar dengan hidup-hidup dari sini."
"Jangan dengarkan mereka, kakak foksu sama adik biar mama yang urus mereka."
Letta berdiri didepan anaknya, melindungi keduanya dari tatapan memangsa dari mereka. Shaka mulai berlari menuju pintu, namun dua orang mengejarnya dan membuat Letta juga ikut mengejar mereka.
"Pergi kak," teriak Letta saat mampu menahan kedua orang tersebut agar tak mengerjar anaknya.
"Tunggu Shaka mah," teriak Shaka sambil berlari menjauh.
Dengan berderai air mata Shaka menggendong adiknya berlari menyusuri jalan sepi. Ia sangat berharap jika Letta akan baik-baik saja melawan mereka semua.
"Adik tolong bertahan," ucap Shaka yang masih berlari menggendong adiknya.
Tak mengenal lelah Shaka masih terus berlari menggendong adiknya, bercucuran keringat ditengah langit yang sudah mulai gelap. Shaka mulai kelelahan, namun ia memaksa dirinya untuk tetap bertahan demi adiknya.
Shaka berjuang membawa adiknya kerumah sakit, begitu juga dengan Letta yang juga bertahan hidup demi janjinya pada anaknya. "Mama pasti selamat nak."
"Bertahan dek, kakak akan bawa kamu kerumah sakit."
"Kakak mohon kamu bertahan, kakak akan lakukan apapun demi kamu," tangis Shaka yang merasakan tubuh adiknya sangat dingin.
Jalan yang gelap membuat Shaka tak melihat jika ada batu cukup besar didepannya, dan alhasil membuat dirinya tersungkur ke tanah bersama tubuh adiknya yang terlempar dari punggungnya. Teras begitu ngilu saat dahinya terbentur batu cukup keras, namun kini fokusnya adalah Laisa adiknya.
"Adik bangun dek, maafin kakak," mendekap erat tubuh adiknya.
Shaka sangat panik karena tubuh Laisa terasa begitu dingin, ia melepas jaketnya dan memakaikan pada tubuh adiknya. Dengan sekuat tenaga ia bangkit, ia kembali mencoba menggendong adiknya dipunggungnya.
"Bertahan dek, kakak akan lari cepet. Kakak masih kuat kok ini, kamu tenang dan bertahan ya," ucap Shaka seorang diri.
Tubuh laki-laki kecil itu mulai lelah, kepalanya sangat sakit dan terasa begitu perih. Namun itu semua sedikit tertutup dengan rasa cemasnya pada Laisa.
"Pah, papah dimana?
"Shaka butuh papa. Shaka udah nggak kuat pah."
"Mama sama adik butuh papa disini, aku juga butuh papa."
"Papa, tolong kami."
...Happy new years all .. sehat selalu buat kalian semua .. maaf ya kalau masih banyak typo juga kurangnya and makasih udah setia membacanya .. ❣
...