
Malam sudah sangat larut, namun mata Arga tak kunjung terpejam sedari tadi. Mata itu terus saja menatap lekat pada tubuh istrinya yang tebaring lemah tak sadarkan diri. Tubuh lelah itu dipaksanya untuk tetap kuat terjaga, Arga mengabaikan kesehatannya.
"Bangun sayang," dikecupnya berkali-kali punggung tangan istrinya.
Sejenak Arga memejamkan matanya sambil memeluk tangan Arletta, perlahan tubuh itu bergerak seperti tak tenang dalam tidurnya. Arga terperanjat saat tangan yang dipeluknya bergerak secara tiba-tiba, saat menengadahkan kepalanya ia dengan jelas melihat Letta yang terusik dalam tenangnya.
"Sayang kamu bangun, kamu udah bangun sayang," heboh Arga kesenangan.
Ia yang terlalu senang segera memanggil dokter untuk segera memeriksa kondisi istrinya, setibanya dokter datang tubuh Letta sudah kembali stabil dan kembali terdiam.
"Saya nggak berbohong dok, tadi istri saya sudah menggerakkan tubuhnya," seru Arga saat dokter tengah memeriksa kondisi istrinya.
Dokter menatap Arga dengan senyum manisnya, senyum yang membuat Arga mengerutkan keningnya karena merasa heran. "Selamat ya pak, istri anda sudah melewati masa koma nya. Kita hanya tinggal menunggu pasien membuka matanya."
Tak ada hal yang lebih menggembirakan dari pada ini, Arga betul-betul bersyukur istrinya lolos dari koma nya. "Terima kasih dok."
Arga kini akhirnya bisa tertidur dengan tenang disebelah istrinya, rasanya ia begitu lega mendengar Letta kini sudah baik-baik saja.
"Selamat istirahat sayang," mengecup punggung tangan Letta dan membawanya dalam dekapannya.
.....
...
Pagi yang menyingsing, dua anak kecil terbangun dari tidurnya dengan penuh semangatnya. Shaka juga Laisa terbangun lebih dulu daripada penghuni lainnya. Keduanya keluar dari kamar masing-masing dan berjalan menuju kamar kedua orang tuanya.
"Adek?"
"Kak Shaka?"
Keduanya sama-sama terkejut melihat satu sama lainnya. Shaka berjalan menghampiri adiknya yang tengah terpaku dihadapannya, dan kini kedua bocah itu saling berdiri berhadapan satu sama lainnya.
"Kenapa udah bangun?"
"Kaka sendiri kenapa udah bangun?"
Shaka memijat pangkal hidungnya. "Kakak mau packing baju mama sama papa."
"Sama dong, aku juga mau packing terus mau bikin sarapan juga buat papa."
"Yaudah kalau gitu kamu bikin sarapannya, biar kakak yang packing bajunya."
Laisa memberi hormat pada kakaknya sebelum ia pergi menuju dapurnya, dan Shaka yang selalu gemas dengan tingkah adiknya terus saja mengacak acak rambutnya.
"Hati-hati didapur, jangan sampai luka."
"Oke bosku."
Kini kedua bocah tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing, Shaka yang selesai pertama kali segera menghampiri adiknya didapur. Laisa dengan tangan mungilnya terlihat begitu lincah saat berada didapur, bocah kecil itu nampak begitu serius mengolah masakan dengan jemarinya.
Laisa menolehkan kepalanya mencari sumber suara, dan ia mendapati kakaknya tengah berdiri dibelakangnya sedang menatap dirinya sambil melipat kedua tangannya. "Sebentar lagi kak."
"Oh ya, kakak tolong ambilin kotak bekalnya dong dimeja," pinta Laisa yang langsung dikerjakan Shaka.
Tak hanya mengambilkan kotak bekal, namun Shaka juga membantu adiknya memasukkan sandwich kedalam kotak juga menuangkan susu hangat kedalam botol termos kecil miliknya.
"Sudah semua," tanya Shaka sambil merapikan bekalnya.
Laisa yang sedan mencuci peralatan masak menolehkan kepalanya. "Kakak mandi dulu gih, nanti aku tunggu disini ya."
"Ya, jangan lama-lama nanti dek mandinya."
10 menit berlalu, kini kedua bocah sudah siap didalam mobil bersama dengan supir rumahnya. Hanya butuh 15 menit kini mereka sudah tiba didepan kamar rawat mamanya. Arga yang sudah terbangun memilih merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit semua.
"Papa," cicit Laisa menampakkan kepalanya dari balik pintu.
"Laisa," gumam Arga yang segera menghampiri putrinya.
"Astaga sayang kamu kesini sama siapa? Ini masih pagi buta loh nak," khawatirnya.
"Sama Shaka pah," muncullak Shaka dari balik pintu yang menerobos masuk kedalam kamar.
Arga menuntun kedua anaknya untuk duduk disofa, matanya menatap tangan kedua anaknya yang tengah memegangi sesuatu.
"Oh ini, pah ini baju papa sama mama udah aku siapin disini lengkap sama keperluannya."
"Terus adik juga udah bikinin paap sarapan sandwich spesial," ucap Laisa dengan bangganya.
Mata Arga berkaca-kaca mendengar apa yang anaknya baru saja katakan. Arga tak menyangka anak yang masih sangat kecil dimatanya sudah bisa memahami situasinya. Terlalu bahagia, Arga membawa kedua buah hatinya kedalam dekapannya hingga tanpa sadar ia menitikan air mata harunya.
"Makasih ya nak."
"Mama juga mau dipeluk," seru Letta yang terbangun dari tidurnya.
Semua mata kini menatap wanita yang tengah tersenyum manis dihadapannya. Shaka juga Laisa berlari menghampiri mamanya.
'Mama," seru keduanya memeluk tubuh Arletta.
"Maaf ya, mama udah bikin kalian sedih."
Laisa mengurai pelukannya, kini ia menatap sedih Letta yang juga menatapnya. "Mulai sekarang Laisa bakal jagain mama, Laisa nggak mau mama kayak gini lagi," isak tangisnya.
Arga mengerti apa yang tengah dirasakan anak-anaknya, ia segera membawa ketiga jantung hatinya itu kedalam dekap hangat tubuhnya. Arga sangat bersyukur memiliki istri juga anak-anak yang sangat pengertian seperti merekam ini.
"Terima kasih."