
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Tami sangatlah marah mendengar apa yang diucapkan Cally padanya, ingin sekali ia meju dan menghajar mulut yang baru saja mengatainya murahan tersebut.
"Ternyata anda masih betah saja diruangan suami saya ya nona Tami," sindir Cally tak berbelas kasih lagi.
"Ini perusahaan milik David, ini ruangan David jadi hanya David yang berhak mengusir siapapun dari ruangannya," emosinya menatap tajam Cally.
"Benarkah begitu, tapi setahu saya harta suami itu adalah harta istri juga. Anda tidak lupakan nona Tami siapa saya ini, " memamerkan cincin pernikahannya.
Tami mengepalkan kedua tangannya, ia sudah tak lagi bisa menahan amarahnya. Ia melihat ada sebuah vas bunga yang tak jauh darinya, dengan sangat cepat ia mengambilnya dan meleparkannya tepat mengenai pelipis Cally.
"Nyonya!"
"Sayang!"
Cally tersenyum sambil mengusap darah yang mengalir melewati matanya, ia tersenyum melihat darah yang kini ada dijarinya.
"Benar-benar sudah mengeluarkan taringnya."
Cally melangkah maju, ia dengan sekuat tenaganya menendang perut Tami hingga membuat gadis itu tersungkur dibawah kakinya. Tak hanya itu, Cally yang sudah geram menginjak tangan Tami yang baru saja melemparkan vas bungan kepadanya.
"Tangan yang tak pernah dididik dengan benar," menekan pijakan kakinya.
"Akhhh! Wanita gila, lepaskan kakimu dari tanganku," teriaknya.
"Sayang hentikan," cegah David yang melerai kemarahan istrinya.
Cally tak suka, ia menatap tajam David yang kini berada dibelakangnya. Tak hanya itu saja, ia juga menekan kembali kakinya hingga Tami kembali menjerit kesakitan.
"Akhhhh, David tolong."
"Berani sekali tuan David ini menolong orang yang sudah melukai istrinya! Benar-benar kejutan," geramnya dengan tatapan tajam.
Bukan itu maksud dari David, ia hanya ingin melerai istrinya agar tak terbawa oleh kemarahannya. Namun sayang kini istrinya malah salah paham dengan sikapnya barusan. Kini ia hanya bisa menelan salivanya saat mendapat tatapan tajam dari Cally.
"Bukan gitu yank, ak-
"Mba, bawa wanita ini pergi jauh dari ruangan suami saya."
"Baik nyonya."
Tami diseret keluar, menyisakan Cally dengan David berdua didalamnya. David mengulurkan tangannya hendak menyentuh pelipis istrinya, dengan cepat Cally menepis tangan itu dengan kasarnya.
"Sayang kamu salah paham."
"Permisi!"
Cally keluar dengan amarahnya, didepan lift ia kembali bertemu dengan Tami yang lemah bersama sekretaris suaminya. Ia menarik lengan Tami hingga mendekati dirinya, dicengkeramnya hingga Tami tak bisa berbuat apa-apa.
Sampai dilantai bawah, Cally mendorong Tami hingga tersungkur kelantai. Semua orang terkejut, beberapa dari mereka bahkan sengaja menghentikan langkahnya agar bisa melihat keributan yang ada ditempat kerjanya.
"Satpam," teriak Cally. Datanglah tiga orang satpam menghadapnya.
"Kami nyonya."
"Seret wanita ini keluar, jangan biarkan dia kembali lagi ketempat ini dengan alasan apapun!"
"Baik nyonya. Bawa wanita ini."
"Lepaskan, Cally gue bakal balas penghinaan ini!"
"Kembalilah bekerja."
"Permisi nyonya."
Dirumah semua orang sedang berkumpul, ada Shaka yang sedang menemani adiknya memakan es krim lalu ada pula Mira yang sedang bermain dengan Olla dengan riangnya.
"Sayang," bisik Arga pada istrinya.
"Apa?"
"Biar aku yang urus masalah Sonya ya, kamu dirumah aja. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," cemasnya saat mengetahui jika istrinya diam-diam meminta seseorang untuk mengawasi Sonya.
"Mau bagaimana lagi," pasrahnya.
"Yank," lirih Arga.
"Iya, aku nggak bakal ngapa-ngapain. Biar kamu aja yang beresin masalahnya."
Arga yang gemas menghujani Letta dengan ciuaman diwajahnya, ia lupa sedang berada dimana. Hingga sebuah bantal melayang dan mengenai kepalanya, ia baru tersadar dengan tindakannya.
"Lihat tempatnya Ga."
"Hehe, maafin ya pah."
"Bunda," teriak Mira girang saat melihat Cally datang.
Cally terdiam ditempatnya, ia lupa untuk mengobati lukanya. Ia tak ingin semuanya tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mira berlari memeluk kaki bundanya, namun matanya melihat darah itu.
"Bunda berdarah," teriaknya hingga semua orang kini berdiri menatapnya.
"Mampus gue," batinnya
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••
Hai semua .. tolong jaga kesehatan kalian selalu yaa, 🌹