CallyDaniel

CallyDaniel
70‐Memuncak



Cally mendorong kasar pintu rumah Daniel saat tak ada seorang pun yang menjawabi salamnya. Ia begitu emosi hingga rasanya ia sudah tak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi.


"Sonya, keluar loe," teriaknya berjalan semakin masuk kedalam.


"Keluar kalian semua," teriaknya lagi.


Pyar..


Tak ada satupun yang menyahutinya, ia marah hingga ia menjatuhkan beberapa vas bunga yang didepannya. Emosinya sudah tak lagi bisa dibendung, ia kini tak bisa lagi memaafkan apapun yang sudah Sonya lakukan.


"Keluar," teriak Cally sekencang-kencangnya.


Muncullah Vira dengan Sonya berjalan beriringan berdua, berjalan semakin dekat dengan tempat Cally berdiri saat ini. Tatapan benci jelas tergambar jelas saat melihat Sonya berjalan dengan begitu angkuhnya.


"Dasar wanita murahan, berani sekali menghancurkan barang-barang dirumahku," bentak Sonya yang murka melihat beberapa vas bunga kesayangannya hancur berantakan.


"Apa yang loe lakuin disini, Daniel nggak disini. Jangan ganggu suami orang lagi," ejek Vira yang tak tahu menahu.


"Tutup mulut busuk loe itu kalau loe nggak tahu apa-apa," tunjuknya pada Vira dengan pandangan membunuhnya.


"Loe," ucap Vira tertahan.


"Sonya, dulu gue masih begitu menghargai anda sebagai orang tua yang seharusnya dihormati. Tapi sepertinya anda sama sekali tak pantas mendapat perlakuan itu," ucapnya berjalan mendekati Sonya dengan tangannya yang menjatuhkan sembarang barang.


"Stop, jangan mendekat lagi," ucap Sonya yang semakin mundur dengan Vira menggandeng tangannya.


"Kenapa, takut? Mana nyali kalian, nyali membunuh anda mana," geramnya.


Cally berhenti, ia mengambil pecahan kaca itu dan kembali berjalan sambil mengarahkan kaca ditangannya. Ia sudah dibutakan dengan emosinya, tak ada lagi Cally yang lembut hanya terlihat Cally yang siap membunuh siapapun yang telagh melukai keluarganya.


"Kenapa, kenapa anda tega membunuh kak Runi," tanyanya.


Sonya terbelalak dengan pertanyaan itu, sudah berapa tahun setelah kejadian itu dan ia juga sudah menyingkirkan semua bukti juga saksi. Matanya melirik kesekelilingnya berusaha mencari senjata untuk melawan Cally.


"Katakan kenapa anda membunuh kak Runi," teriaknya.


Bahkan wajah Cally kini sudah merah menahan amarahnya.


"A.. apa yang loe maksud, pembunuhan apa karena saya nggak ngerti sama pertanyaan kamu ini," kilah Sonya gugup.


"Jangan menuduh orang sembarangan ya," bentak Vira pada Cally.


Cally melemparkan kaca yang ada ditangannya hingga terbang mengenai pipi Vira, menimbulkan luka sayatan yang cukup untuk membuatnya histeris.


"Akhhh, wajahku. Wajahku," paniknya memegangi wajahnya yang mengeluarkan darah.


"Anda membenci saya, kenapa anda menyerang keluarga saya yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah saya?"


"Haha, ternyata kebenaran itu terungkap. Lalu kenapa memangnya kalau saya yang membunuh Seruni," santainya tanpa rasa bersalah.


Cally kembali mengambil dua buah kaca ditangannya, ia melempar satu kaca itu hingga menancap tepat di bahu Sonya.


"Perempuan busuk, akhhh sakit sekali," marahnya juga merasakan sakit dibahunya.


"Kenapa?"


"Awalnya targetnya adalah Letta, wanita sok pemberani yang begitu menyebalkannya. Tapi siapa yang tahu kalau keberuntungannya begitu besar sampai nyawanya pun ditukar dalam waktu-waktu tertentu," ucap Sonya.


Cally begitu emosi melihat Sonya berbicara fakta tanpa ada dosa, seakan nyawa yang telah dihilangkannya itu tak berharga. Dimana hatinya sebenarnya, apakah ia masih berhadapan dengan sesama wanita atau kini ia sedang berhadapan dengan jelmaan iblis ?


Cally menggenggam kuat kaca yang ada ditangannya, darah segar mengailr begitu saja membasahi telapak tangannya. Namun emosi membuat Cally mati akan semua rasa.


"Dimana hati anda, apakah anda masih manusia atau jelmaan iblis yang begitu kejam," tanya Cally berderai air mata.


"Hahahah, bukan keduanya. Tapi yang jelas saya adalah malaikat yang akan mencabut nyawamu itu dengan tanganku sendiri."


Sonya seperti kehilangan kendali atas dirinya, ia begitu mengerikan terlebih saat menginginkan nyawa Cally berada ditangannya. Wanita itu menggila, ia bahkan mencabut tancapan kaca dibahunya dengan ekspresi biasa saja.


Vira memundurkan langkahnya, ia merasa ketakutan setelah mengetahui siapa sebenarnya Sonya yang begitu menyeramkan. Ia mundur hingga tanpa sengaja terjatuh kelantai. Sonya melempar kembali kaca itu namun tak mengenai Cally karena ia menghindarinya.


"Kamu sedang mengantarkan nyawamu, kemarilah biar kucabik-cabik tubuh jalangmu itu," teriaknya.


Lantai sudah penuh dengan tetesan-tetesan darah dari ketiganya yang bercampur menjadi satu. Sonya yang tak takut melangkahkan kakinya maju, sedang Cally yang tak gentar tetap berdiri tegap ditempatnya.


"Mati loe."