
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Meya mulai membuka matanya, gadis itu mulai tersadar dan merasa asing dengan tempatnya saat ini. Perlahan ia mulai membuka matanya dengan begitu sempurna, hingga ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Shaka sedang duduk menatapnya.
"Siapa kamu ," teriak Meya ketakutan.
"Aku hanya ingin tahu dimana Sonya menyembunyikan adikku."
"Jangan kurang ajar ya sama oma aku, yang sopan," marah Meya yang merasa Shaka tak menghormati Sonya.
"Katakan atau kamu akan terus berada disini dan tak akan pernah merasakan cahaya lagi," ancam Shaka.
Tubuh Meya gemetar ketakutan, ia tak bisa berfikir jernih selain keinginan untuk bebas. Tatapan mata Shaka sungguh menakutinya, aura dingin begitu menusuk menguliti kulitnya. Meya hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Shaka yang memasang wajah benci padanya.
"Hai semua," sapa Cally yang tiba-tiba masuk kedalam kamar tersebut.
Meya berlari menuju Cally saat gadis itu membutuhkan pertolongan, niat hati ingin meminta Cally membatunya kabur namun malah mendapat tatapan tajam Shaka.
"Tante, tolongin Meya. Kakak itu ingin membunuh aku," adunya menunjuk kepada Shaka.
Shaka tak bereaksi dengan itu dan Cally cukup paham dengan diamnya Shaka itu. Perlahan ia menarik tubuh Meya untuk maju didepannya, lantas ia memegangi kedua tangan Meya.
"Katakan dimana biasanya oma sembunyiin orang," tanya Cally halus namun begitu menekan seseorang.
"Ak aku nggak tahu tante, aku nggak tahu apa-apa," kilah Meya.
"Baiklah, Shaka mari kita keluar nak. Biarkan para tikus ini bermain dengan nona besar ini," menggandeng tangan Shaka keluar dari dalam kamar. Namun kali ini memang bocah itu tak tahu dimana omanya menyembunyikan orang seperti yang Cally tanyakan barusan.
"Aku bener-benar nggak tahu," lirih Meya bercucur air mata.
Namun Cally benar-benar memeras semua pikirannya, ia harus segera menemukan keponakannya itu berada. Laisa masih belum pulih dari lukanya, ia takut jika Sonya akan berbuat nekat dan melukai Laisa kembali.
"Permisi tuan," sapa pelayan pada Reno.
"Ada apa?"
"Didepan ada yang mau bertemu non Cally tuan, katanya ingin menjemput anaknya pulang."
"Berani sekali mereka datang kesini," geram Shaka yang menunjukka tatapan membunuhnya.
Letta memeluk erat tubuh Shaka dan menutup matanya, Letta begitu tak percaya jika putranya akan berperilaku begitu mengerikan.
"Tenang ya nak, kamu harus tenang," bujuk Letta pada Shaka yang berusaha memberontak dari pelukannya.
"Tak apa, semua akan baik-baik saja. Percaya pada sister," seru Cally sebelum bangkit dan pergi menemui pasangan memuakkan.
Sedang diluar Vira begitu tak sabar menunggu Cally keluar, ia terus saja berjalan mondar mandir hingga membuat Daniel begitu merasa pusing.
"Bisa duduk diam nggak, pusing tau," tegur Daniel.
"Duduk kamu bilang! Sayang anak kita sedang disekap mantan kamu itu dan kamu suruh aku duduk diam menunggu," kesal Vira pada Daniel.
"Kalian fikir gue sekejam mama kamu itu yang tak berhati manusia," hardik Cally dengan begitu beraninya.
"Cally, kembalikan putriku sekarang! Kembalikan Meya padaku," teriak Vira histeris.
"Tidak sebelum Sonya mengembalikan Laisa ketangan kami lagi," tegas Cally.
"Cally, tolong kembalikan dulu Meya sama kami. Aku bersumpah akan membantu kalian mencari Laisa, dan aku akan menemani kamu kemanapun kamu ingin pergi," ucap Daniel.
"Simpan omong kosong dokter itu," seru David yang tengah bersandar pada pintu rumahnya.
Perlahan David mulai melangkah mendekati ketiganya, berhenti tepat disisi sang istri lalu memeluknya dengan begitu posesif seakan Daniel datang untuk merebut Cally dari sisinya.
"Istri seorang David tidak membutuhkan pria lain untuk menemani istrinya sendiri."
"Maaf tuan David bukan itu maksdu saya, hanya saja saya-
"Anda hanya ingin anak anda kembali bukan?"
"Benar, tolong anda kembalikan anak kami."
"Itu juga yang saat ini sedang diharapkan oleh kami semua. Kalian bawa Laisa kembali dan kami akan kembalikan anak kalian juga."
"Terlalu berbelit-belit," seru Vira.
Vira yang sudah tak sabar melangkah maju dan hendak masuk kedalam rumah, namun dengan cepat Cally menarik rambut panjang Vira dan menghempaskannya kelantai dengan begitu keras.
"Aww," pekiknya kesakitan.
"Kembalikan adikku!"
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...