
Arga begitu murka mendengar kabar penculikan istri juga anaknya, ia segera pulang dan menghubungi semua anak buahnya untuk segera datang kerumah. Namun sesampainya ia juga Orland dirumah, sudah ada Shaka yang sudah rapi hendak pergi.
"Mau kemana kamu boy," tanya Arga pada putranya.
"Aku mau menjemput mama juga adik untuk pulang," ucapnya tanpa menatap papanya.
Arga tau bagaimana watak anaknya, bagaimana sikapnya yang memang hasil dari keturunannya. Ia begitu khawatir dengan anak laki-lakinya kini, ia khawatir jika Shaka akan nekat dan pergi tanpa sepengetahuannya.
Arga mendekati putranya, menyentuh kedua sisi bahunya. Matanya dengan teduh menatap mata penuh kegelisahan juga kemarahan pada anaknya. "Biarkan papa yang menjemput mereka pulang ya."
Menepis kedua tangan papanya, Shaka berjalan melewati Arga. "Biarkan Shaka yang membawa adek juga mama pulang."
"Ini bahaya Shaka, kamu juga bisa celaka," seru Arga menatap tajam anaknya.
"Karena aku tahu ini bahaya aku harus segera menjemput mereka pah. Aku harus bisa menjemput adik, dia pasti sekarang lagi ketakutan sama mama."
"Papa tau kamu khawatir, tapi biar papa yang urus ini semua. Oke."
"Maaf pah," ucap Shaka yang lalu pergi berlari keluar rumah.
Semua orang terkejut dengan kepergian Shaka, teriakan Arga membuat gaduh rumah hingga membuat Reno serta Elena turun kebawah. Namun sia-sia pengejaran Arga juga Orland, Shaka melesat begitu cepat hingga hilang dari pandangan mereka.
"Ada apa ini," tanya Reno melihat Arga juga Orland masuk dengan sangat panik.
"Shaka pergi. Shaka pergi mencari mama juga adiknya," sendu Arga.
"Astaga," seru Reno dengan kasar mengusap wajahnya.
"Kerahkan semua anak buah kamu dan segera temukan Shaka," panik Reno.
Hampir tiga jam namun tak ada kabar apapun dari semua anak buahnya. Tak ada kabar tentang penculikan ataupun tentang Shaka yang kabur. Ia dengan frustasi masuk kedalam ruang kerjanya, mengambil pistol yang selama ini tersimpan rapi didalam laci meja kerjanya.
"Letakan itu," ucap Elena yang mengikuti anaknya keruang kerjanya.
"Mereka udah berani melukai keluarga aku mah, aku bakal patahin semua tulang mereka hingga tak tersisa," geramnya penuh emosi.
Elena tahu apa yang kini dirasakan oleh anaknya, tangannya terulur membawa tubuh tegap Arga kedalam dekap hangat peluknya. Rasanya hanya ini yang bisa ia berikan untuk anaknya, untuk menenangkan hatinya agar tak terbakar emosinya.
"Jangan gegabah, ada istri juga anak kamu disana," bisiknya.
Shaka berjalan dan berhenti tepat didepan mobil Letta yang masih ada didepan sekolah Laisa, matany terus saja menatap disetipa sudut jalan dengan sangat teliti. Entah apa yang dicari anak laki-laki tersebut hingga begitu fokus.
"Itu dia," serunya setelah terdiam sangat lama.
Ia segera berlari mendatangi sebuah supermarket, disana ia meminta ijin untuk melihat rekaman cctv yang mengarah tepat didepan sekolah adiknya. Awalnya ia tak diijinkan, namun dengan nama besar papanya pada akhirnya ia dapat melihat rekaman tesebut.
Shaka ditemani oleh penjaga dengan teliti memeriksa cctv sesuai permintaan, tak ada suara yang terdengar hanya ada mata yang sangat fokus pada layar monitor.
"Stop pak," serunya tiba-tiba.
"Bxxx," gumamnya melihat plat mobil yang membawa mama juga adiknya.
Berbekal ponsel pintar juga keahliannya, Shaka mencoba melacak dimana keberadaan mobil tersebut. Langit yang tadinya terang kini perlahan mulai redup minim dengan cahaya.
Didalam kegelapan itu begitu sunyi, pengap juga sangat bau. Laisa tak lagi menangis, namun ia memikirkan sebuah cara agar bisa membawa mamanya keluar dari sini. Gadis kecil itu tengah sangat serius berfikir ketika Letta tiba-tiba menjerit kesakitan.
"Ada apa ma," panik Laisa.
"Ada yang nimpuk mama pakai batu sayang."
"Hahahah, begitu dong ada suaranya. Sepi bener diam aja."
Beberapa laki-laki masuk dengan berbagai alat yang dibawanya ditangan masing-masing. Letta membawa Laisa kebelakang tubuhnya, melindungi anak gadisnya dari incaran mereka semua.
"Pisahkan mereka berdua."
"Baik bos."
Tiga orang laki-laki menarik tubuh Laisa menjauhi Letta, gadis kecil itu berteriak histeris saat harus dipisahkan dari mamanya. Rasa takut, khawatir juga cemas bercampur menjadi satu hingga membuatnya menangis histeris.
"Lepaskan putri saya."
"Itu hukuman karena loe udah berani mengusik bos kami."
"Bos? Siapa bos kalian, saya nggak kenal!"
"Banyak omong. Beri dia pelajaran."
Beberapa orang maju hendak memukul Letta, namun Letta tak hanya diam saja. Ia melawan hingga mereka semua tersungkur akibat pukulannya. "Hebat juga loe."
"Loe ngelawan, anak loe mati," ancamnya membuat tubuh Letta membeku.
"Mama, jangan pikirkan Laisa, mama jangan terluka," teriak gadis itu.
Satu pukulan berhasil mengenai bahu Letta, bertambah mengenai kaki hingga membuatnya tersungkur.
"Akkhhhh," teriak salah seorang laki-laki akibat gigitan Laisa.
"Ahhhh," teriak Laisa.
"Laisaaaaaaaaa," teriak histeris Letta berderai air mata.
.
.
.
...‐Hai semua, hari ini ceritanya cuma di Letta Laisa dlu ya.. tokoh utama tetap Cally kok buat yang pada nanya. Cuma disini kita juga sisipin konflik Letta yang masih ada kaitannya sama Cally. Semoga terhibur dan mohon maaf klo masih banyak kurangnya ‐...