
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Semua orang sudah kambali keperkerjaannya masing-masing, setelah David menenangkan Arga ia juga mengantarnya kembali keperusahaannya.
"Lelah sekali rasanya," keluhnya yang menggeliatkan tubuhnya.
"Siapa yang membuat seorang David bisa selelah ini," ucap Tami yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan milik David.
Dengan langkah yang dibuat seseksi mungkin, Tami berjalan mendekati David yang menatapnya dari balik meja kerjanya. David nampak terkejut dengan kedatangan teman lamanya itu, dan ia sudah memiliki firasat jika hidupnya yang damai segera berakhir.
"Ada apa kali ini," tanya David tanpa berbasa-basi.
"Terlalu to the point sekali, aku baru juga duduk dihadapan kamu Vid," menatap David dengan tatapan menggilanya.
"Bukankah sudah duduk, jadi katakan kali ini ada apa?"
"Hahah, terlalu formal sekali, kita ini teman loh jadi nggak usah kaku juga," berusaha menggapai tangan David.
"Maaf tolong ingat status saya, saya ini sudah menikah. Istri saya akan tidak suka jika seseorang menyentuh tubuh saya," memamerkan cincin nikahnya bersama Cally.
"Brengsek, sengaja banget nunjukkin cincin murahan itu," batin Tami yang begitu geram dengan tingkah David.
"Ayolah Vid, kita ini teman. Apa yang harus kamu waspadai dari aku ini," ucap Tami yang mengubah cara bicaranya agar lebih halus lagi.
"Maaf Tami, tapi saya sibuk. Banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan, jadi kalau kamu tidak ada kepentingan tolong jangan ganggu saya," peringatan bagi Tami yang hanya tersenyum begitu manis.
Tami tak menyerah begitu saja, ia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati pujaan hatinya. Tangannya terulur dan mendarat tepat di sisi bahu David. Membelai penuh dengan kelembutan, Tami mencoba merayu David agar jatuh kedalam permainannya.
"David," meniup telingan David diakhir sapaanya.
"Jaga sikapmu itu," geram David.
Saat tangannya berusaha menggapai telpon kantor, Tami dengan cepat menggenggam kedua tangan tersebut.
"Apa pak David ada diruangannya," tanya Cally yang baru saja tiba dimeja sekretarisnya.
"Nyonya maaf, tapi didalam tuan sedang menerima tamunya," cicitnya tak berani.
"Entahlah nyonya, tamu ini meminta kami menolak semua tamu yang akan mendatangi tuan David.
Cally menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, siapa yang kini sedang dibicarakan sekretaris suaminya tersebut? Apa ada hal yang sedang suaminya sembunyikan.
"Kamu ikut saya masuk kedalam," ajaknya.
Cally yang penasaran segera membuka pintu kayu tersebut, matanya membulat saat melihat apa yang sedang suaminya lakukan disiang hari bolong.
"Keras nggak mbak dada suami saya," tanya Cally menekankan kata suami.
David segera bangkit dan membuat Tami terjatuh dengan sendirinya. Cally benar-benar marah, ia geram sekali dengan penampilan Tami yang begitu murahan. Namun hanya bisa tertawa untuk mengalihkan sedikit emosinya.
"Singkirkan tangan ini," menarik lalu mendorong tubuh Tami yang hendak menempel pada suaminya.
"Aww, kasar sekali anda ini ," protesnya pada Cally yang dengan sengaja mendorongnya.
Cally hanya menatap tak suka wanita yang kini ada dibawah kakinya, ia ingin sekali menginjak tangan yang tadi menyentuh bagian tubuh dari suaminya. Namun ia tahan agar tak membuat malu suaminya, sebab ia masih membawa sekretaris suaminya untuk ikut bersamanya.
"David, wanita ini kenapa begitu kejam sekali," ucapnya memelaskan dirinya.
David yang hendak mengeluarkan suaranya tertahan saat mendapat tatapan tajam dari istrinya yang sedang dilanda ledakan gunung meletus dihatinya. Tami kesal melihat respon David, ia tak menyangka jika laki-laki itu akan mengabaikannya.
"Kejam ya? Anda mau lihat yang lebih kejam lagi tidak?"
Cally menarik David untuk membelakangi sekretaris juga Tami, ia memaksa suaminya melepas jasnya. Dengan sekali tarik Cally melepas dasi dari leher suaminya, kemudian menarik kemeja itu hingga semua kancingnya berceceran.
"Sayang kamu pakai jas nya," titah Cally yang tak ingin tubuh suaminya terekspose. David hanya bisa patuh dan menuruti istrinya.
"Mba, bisa tolong ambilkan saya gunting,"pintanya pada sekretaris.
"Sebentar nyonya." berlari keluar dan segera kembali dengan gunting ditangannya.
"Ini nyonya," menyerahkan guntingnya.
"Anda lihat baik-baik dengan mata anda itu, apa arti dari kejam yang sebenarnya."
Cally menggunting kemeja itu, menjadikannya tak berbentuk lalu mencabik-cabik hingga tak beraturan. David menelan kasar salivanya melihat aksi dari istrinya, ia tak ingin bertindak gegabah dan berakhir seperti kemejanya.
"Anda gila, itu kemeja kesayangan David," seru Tami yang mengenal kemeja David itu.
"Begitukah suamiku?"
"Tidak, tidak. Aku lebih menyayangi kamu istriku," buru-buru David menjawab setelah mendapat tatapan maut istrinya.
"Saya harap telinga anda tidak tuli nona Tami yang murahan!"
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••