
Vira kembali dengan wajah paniknya, Meya melihat luka yang ada dileher mamy nya dan ia pun mulai bertanya dari mana asal luka itu. Vira memberitahu Meya apa yang sudah terjadi dengan dirinya, tentu saja dengan cerita yang begitu dilebih-lebihkannya.
"Meya akan balas anak itu demi mamy, berani sekali melukai mamy Meya," marah Meya.
"Berhenti Meya," cegah Daniel yang turun dari anak tangga.
"Papy, lihatlah anak laki-laki itu menyakiti mamyku. Aku harus membalasnya demi mamy."
"Tidak! Kembali kedalam kamarma."
"Tapi papy."
"Masuk Meya."
Gadis itu begitu kesal, ia menghentakkan kakinya beberapa kali sebelum akhirnya berlari masuk kembali kedalam kamarnya. Kini Daniel menatap dingin Vira didepannya, ia kini melihat dengan jelas luka merah yang ada dileher istrinya.
"Apa benar Shaka yang melakukan itu padamu?"
"Ten tentu saja benar," gugupnya.
"Kenapa dia mencekikmu?"
"Ehm, karena," Vira begitu cemas menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Katakan!"
"Karena aku tidak sengaja mendorong adiknya hingga jatuh."
Daniel begitu geram dengan tindakan Vira yang tak ada habisnya itu, ingin sekali ia marah dan melampiaskannya pada Vira.
"Kenapa, mau pukul aku? pukul," tantangnya memperlihatkan sisi pipinya.
Plak!
"Kamu," ucap Vira yang terkejut dengan tamparan suaminya.
"Apa tamparan sampai membuatmu gagu," ejek Daniel.
"Keterlaluan Danie, berani sekali menyakiti istri sendiri demi wanita murahan itu," seru Sonya yang datang dari arah depan.
"Terserah saja, kalian sama saja juga," Daniel memilih pergi daripada harus menghadapi mama juga istrinya, sama-sama ular baginya.
"Tenang saja, mama akan balas semua ini demi keluarga kita."
Tanpa ada yang menyadar ternyata Meya menyaksikan semua yang terjadi, amarah bocah itu meledak-ledak. Satu-satunya hal yang ingin dilakukannya saat ini adalah mendatangi rumah Arga.
Daniel yang tak tahu harus kemana tanpa sengaja malah mengendarai mobilnya dan berhenti tepat didepan rumah milik Arga. Ia hanya bisa menghembuskan nafas pasrahnya saat harus kembali dan kembali lagi kerumah dimana kebahagiaanya berada.
"Kenapa, selalu saja kembali walaupun enggan kembali," gumamnya.
"Setiap melihat rumah ini, melihat senyummu dengan pria lain tahukah kamu betapa hancur dan sakitnya aku Cally. Perasaan ini sungguh tak bisa mati begitu saja, bagaiaman aku harus membunuh perasaan ini," gumamnya begitu pilu.
Dan tak lama ia melihat tawa itu, melihat wanitanya tengah tertawa dan bermesraan dengan laki-laki lain yang terlah menjadi suaminya.
"Bisakah kita ulang waktu, aku sungguh tak ingin melepasmu untuk yang lain."
Daniel meneteskan air matanya, hatinya begitu sakit melihat pemandangan yang kini ada didepan matanya. Tawa itu begitu menusuk jantungnya, menghancurkan setiap hatinya.
..
Keesokan harinya, Arga mengumpulkan semua anak-anak. Olla begitu berisik hingga membuat Arga menghembuskan nafasnya berulang kali dengan kasar, sedang yang lainnya hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Sabar ya kak," bisik Jesika pada Arga.
"Anakmu benar-benar menguras pikiran kakakmu ini."
Jesika hanya mampu menahan tawanya saat lagi dan lagi Olla anaknya membuat sang kakak kewalahan menghadapinya.
"Ada apa papa mengumpulkan kami, Shaka harus segera berangkat sekolah."
"Bersabarlah dulu nak, tunggu ya."
Tak lama Letta datang dengan jam tangan ditangannya. Ia memakaikan setiap anak satu jam tangan itu, namun dengan sengaja ia memberikan jam untuk Olla kepada suaminya.
"Kenapa dikasih ke aku sih yank, pakaikan sekalian kenapa."
"Ssst, kamu aja yang pakain."
Jesika juga yang lainnya hanya bisa menehan tawa melihat wajah enggan Arga juga tampang mengejek Olla, benar-benar pagi yang menghibur.
"Jam itu bisa kalian gunakan untuk menghubungi kami ketika dalam keadaan genting, jam itu harus selalu ditangan kalian karena disana ada gps yang bisa membantu kami menemukan kalian kapanpun," jelas Arga kepada para anak.
"Wah, hebat banget. Jadi bisa telpon papa Arga juga dong," tanya Olla.
"Jangan sembarangan telpon atau papa kurung kamu sama tikus."
"Ih jahatnya," ucap Olla yang segera mencium tangan semua orang tuan dan mengajak para sudaranya untuk berangkat kesekolah.
"Awasi, langsung bertindak setelah aman."