
Letta yang merasa tubuhnya sudah baik-baik saja meminta Arga untuk membawanya pulang hari ini juga. Arga sempat ragu dengan permintaan istrinya tersebut, namun Letta yang terus memaksa membuatnya mau tak mau menurutinya setelah pemeriksaan oleh dokter.
"Gimana dok," tanya Arga pada dokter yang telah selesai memeriksa kondisi istrinya.
Dokter sempat tersenyum sebelum akhirnya memulai berbicara. "Istri bapak kondisinya sudah stabil, saya mengijinkannya pulang tapi harus istirahat total dulu sementara ya."
Letta tersenyum mendengar apa yang baru saja didengarnya dari dokter, kedua bocah kecil yang sedang menikmati es krimnya segera berlari memeluk tubuh mamanya dengan sangat bahagia.
"Aku seneng banget deh mama udah boleh pulang," seru Laisa mengurai pelukannya.
"Kakak juga seneng banget," timpal Shaka yang tak kalah bahagia.
"Letta," teriak Cally yang segera berlari dan memeluk saudarinya tersebut.
Shaka juga Laisa hanya bisa saling bertatapan, sedang David kini menanyakan kondisi Letta kepada Arga karena ia sempat berpapasan dengan dokter yang baru saja keluar.
"Sister, ini adek nggak bisa nafas tau," keluh Laisa mencoba mengurai pelukan Cally yang menjepitnya.
Cally tersenyum setalah menyadari situasinya. "Hehe, maaf ya."
"Kalian berdua, sini."
Laisa menatap kakaknya, ia berjalan dan bersembunyi dibalik tubuh Shaka mencari perlindungan. Pandangan David menuntut mereka segera menghampirinya.
"Kesini," ucap David lagi, Arga yang tak tahu apa-apa hanya menatap ketiganya.
Kedua bocah itu perlahan berjalan menghampiri ayahnya, Laisa yang berdiri dibelakang Shaka membuat David menariknya perlahan untuk berdiri dihadapanya.
"Kalian tau apa kesalahan kali ini," tanya David yang menatap Laisa menundukkan kepalanya.
"Maaf ayah ," cicit Laisa dengan suara pelannya.
"Maafin kita ayah, " ucap Shaka.
"Ini ada apa sih, kenapa bocah-bocah gue pada minta maaf?"
Cally yang sedang duduk ditepian ranjang Letta menatap mereka dalam senyuman. "Mereka kabur tadi."
"Ada apa ini, coba kalian berdua jelasin sama papa," tanya Arga yang memanggil kedua anaknya.
Laisa berlari menuju papanya, ia begitu manja duduk dipangkuan Arga sambil bergelayut manja dileher papanya tersebut.
"Hey bocah kecil, jelasin sama papa kenapa ini," menyentil perlahan ujung hidung Laisa.
Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar cerita dari kedua anaknya, ada rasa haru juga bangga namun ada rasa kesal juga karena terlalu khawatir dengan keduanya. "Lain kali jangan gitu ya, kalau nggak ada papa sama mama ijin dulu sama ayah."
.....
...
Sudah hampir satu minggu Letta berdiam diri didalam rumah karena larangan dari suaminya, dan kini ia sudah sangat bosan berada dirumah. "Bosen banget tau," keluhnya.
"Bosen ya nak," ulang Elena yang masuk kedalam kamar.
"Mama," lirih Letta.
Elena duduk menatap Letta dipinggiran ranjang, tak lama masuklah juga Cally ikut duduk dipinggiran ranjang Letta.
"Kenapa nggak kalian berdua keluar aja berdua seneng-seneng, biar anak-anak nanti mama yang jemput."
"Mama serius?"
"Kapan mama bercandanya sih nak," menekan perlahan kepala Letta dengan sayang.
"Yaudah kalau gitu gue siap-siap dulu ya, nanti gue tunggu diluar," ucap Cally yang berhambur keluar dari kamar.
"Ma, gimana sama Jesika di singapura?"
"Dia lagi ngurusin berkas kepindahannya juga sekolah Olla, mungkin bulan depan udah bisa kembali kesini lagi."
"Bagus deh kalau gitu."