CallyDaniel

CallyDaniel
77‐Kemelut rumah Letta



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Arga juga Letta yang telah selesai menghadiri acara bisnis memutuskan untuk segera kembali kerumah, perasaan Letta begitu tak karuan penuh dengan kedua anaknya. Ia sengaja meminta Arga untuk mengantarnya pulang terlebih dahulu.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Arga yang begitu cemas.


"Ehm, hanya saja firasatku benar-benar tak enak yank. Ak takut sesuatu terjadi dengan anak kita," cemasnya.


"Semua bakal baik-baik aja, percaya sama aku," ucap Arga membelai kepala sang istri.


Elena yang mendengar suara tangisan Laisa dari depan segera berlari menghampirinya, ia begitu takut hal buruk menimpa cucu perempuannya itu. Dan apa yang kini dilihatnya begitu mengejutkan dirinya.


"Kak Shaka udah," tangis Laisa bersandar pada pintu sambil menangisi sang kakak.


"Mati," seru Shaka yang sudah bulat tekatnya.


"Shaka hentikan nak, lepaskan wanita ini," Elena berusaha melepaskan Shaka namun entah mengapa tenaga Shaka begitu besar hingga ia kesulitan menariknya.


Beruntung Reno datang dan segera melerai sang cucu kesayangan, namun sama dengan Elena tadi karna Reno juga tak bisa menarik Shaka dari tindakannya. Elena memeluk tubuh Laisa yang sudah bergetar menangisi sang kakak.


"Shaka," panggil lembut Reno berusaha membujuk sang cucu.


Entah kenapa tiba-tiba saja Cally beserta David juga tiba dan segera membantu memisahkan Shaka dari Vira, namun lagi-lagi gagal sebab Shaka seperti kerasukan hingga susah sekali dilerai.


"Sayang cepat panggil kakak kamu, minta dia berheti," pinta Cally yang sudah tak tahun harus bagaimana lagi.


"Kakak, kaka lepasin dia," pinta Laisa.


"Astaga Shaka yank," teriak Letta yang langsung keluar dan memeluk tubuh putranya.


"Shaka sayang lihat mama, kamu lepasin dia nak," pinta Letta.


"Nggak! Hanya kematian yang pantas bagi dia karena melukai adikku."


"Shaka dengerin papa, dia bisa mati dan kamu bisa dipenjara. Kamu lihat adik kamu itu, apa kamu tega?"


Arga mati-matian membujuk putranya, namun Shaka masih tetap dengan keinginanya. Sedang Vira mulai lemah karena cekikan Shaka benar-benar menyakitkan.


"Shaka dengerin papa! Lepasin dia!" bentak Arga. Namun masih tak membuat Shaka menyerah.


Shaka segera berbalik menatap arah suara, dan betapa terkejutnya dia melihat sang adik sudah tak bergerak didepannya. Ia segera melepaskan Vira dan berlari menghampiri Laisa, Shaka mendorong semua orang hingga tanpa sengaja membuat Cally juga terjatuh.


"Menjauh dari adikku," teriak Shaka. Bocah laki-laki itu kini menggendong tubuh sang adik dan membawanya masuk kedalam rumah.


Semua orang mengejar Shaka, hanya ada Arga juga David kini berada diluar rumah melihat Vira masih kesakitan dan memegangi lehernya.


"Lihat apa yang sudah loe perbuat, loe udah menyakiti kedua anakku! Sekarang pergi dan jangan pernah kembali atau aku akan membiarkan anak laki-lakiku mencekikmu hinggat mati," ancam Arga yang membuat Vira segera bangkit dan meninggalkan rumah tersebut.


Shaka memeluk tubuh Laisa diatas ranjangnya, bocah laki-laki itu begitu enggan melepaskan tubuh adiknya dan bahkan Shaka menggila dan mengusir mereka semua untuk pergi meninggalkannya.


"Shaka tenang nak, ini mama," bujuk Letta melangkah perlahan.


"Berhenti dan jangan mendekat!" teriaknya.


"Lepaskan dulu adikmu nak, kamu percaya sama siter kan?" bujuk Cally.


"Pergi," serunya dengan tatapan membunuh, tatapan yang membuat semua orang terkejut dibuatnya.


"Brengsek! Ini semua gara-gara Vira wanita brengsek itu, " batin Cally begitu marah.


"Tenang," bisik David yang mengerti dengan kemarahan sang istri.


"Dengerin ayah, lepaskan adik Laisa dan kita panggil dokter. Oke," ucap David dari tempatnya berdiri.


"Pergi."


"Arshaka Putra Wijaya," bentak Arga yang baru saja masuk kedalam kamar.


Suara itu membuat Shaka melemah dan pandangannya tak tentu arah. Tangannya memeluk erat Laisa, begitu enggan melepaskannya.


"Papa bilang lepasin adik kamu."


"Nggak! Aku nggak akan biarin siapapun nyakitin dia."


"Lihat sister, nggak akan ada yang berani nyakitin Laisa disini. Ada kita semua, ada kamu yang jagain adik kamu kan nak," bujuk Cally yang berjalan dan semakin dekat dengan Shaka.


Cally duduk dipinggiran ranjang, menyentuh tangan Shaka untuk meyakinkannya. Bagaimanapun ia pernah menghadapi Arum dulu yang juga depresi dan ia juga pernah belajar dari Daniel cara menangani orang-orang depresi.


"Lepaskan Laisa, sister akan memeriksanya. Kasian adik kamu ini."


"Siter jangan nyaktin adik ya?"


"Nggak akan, sister janji."


Mendengar itu membuat Shaka begitu tenang, ketakutannya yang berlebihan itu kini lenyap berganti dengan rasa amannya.


"Shaka."


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...