
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Tubuh Letta tiba-tiba terasa begitu lemas hingga kehilangan keseimbangannya, beruntung Arga sigap dan menopang tubuh istrinya agar tak terjatuh.
"Kamu baik-baik aja sayang," tanyanya.
"Jangan sentuh aku," melepaskan diri dari pelukan Arga dan berjalan keluar.
"Mampus sudah gue," gumamnya.
Cally mengikat kedua sisi tangan Tami dirantai yang terhubung dengan tembok, Tami memberontak tak ingin diikat namun kekuaran Cally tak bisa diunggulinya.
"Kalian gila, lepasin gue nggak," teriak Tami.
"Bukan kami yang gila, tapi loe yang salah cari lawan nona," ucap Orland yang mengencangkan ikatan Tami.
David yang sedari tadi terdiam kini perlahan melangkahkan kakinya mendekati Tami, David kembali teringat kesakitan yang Seruni alami sesaat setelah kecelakaan tersebut. Tubuh penuh darah dan harus menahan sakit diseluruh tubuhnya, bahkan ia juga terpaksa melahirkan anaknya secara prematur.
"Vid, gue tahu loe pasti nolongin gue kan," ucap Tami yang mendapat sedikit harapan dari laki-laki yang dicintainya.
Tatapan David bukan lagi David yang dulu dikenalnya, tatapan membunuh dan juga kesakitannya menyatu dalam satu dorot mata. Tami menelan salivanya dengan sudah payah, ia begitu ngeri dengan David yang sedng berdiri didepannya.
"Katakan, apa loe yang udah ngebunuh Seruniku," mencekik leher Tami kuat-kuat.
"Sayang lepaskan, jangan membuatnya mati begitu saja," lerai Cally menyentuh tangan suaminya yang berada dileher Tami.
"Kak Orland, tolong bawa kak David keluar," ucap Letta tiba-tiba datang.
Kini tinggallah Letta juga Cally bersama dengan Tami, gadis itu mulai kehilangan keberaniannya terlebih setelah serangan Letta kepadanya. Cally duduk tepat didepan Tami sambil melipat kakinya sebelah.
"Katakan, siapa yang ada dibalik kecelakaan ini," tanya Cally.
Tami masih terdiam membungkam mulutnya, ia masih kekeh tak ingin memberitahu siapapun tentang kecelakaan tersebut. Namun tatapan Letta terasa begitu mengulitinya, ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
"Katakan atau loe berakhir bersama ular-ular peliharaan anak buah gue," ancam Letta.
"Apa yang loe tahu?"
"Gue cuma lihat ada satu mobil lagi yang berada tak jauh dari mobil kalian, mobil itu begitu mencurigakan hingga tanpa sengaja mengikutinya. Tak menyangka itu adalah loe didalamnya," jelasnya.
"Lalu leo hanya diam, kenapa nggak mencoba menolongnya," tanya Cally tak sabar.
"Gue udah turun, tapi wanita itu mengarahkan pistolnya ke kepalaku. Gue nggak berani, gue begitu takut melangkah untuk nolongin kalian," ceritanya berurai air mata.
"Jangan berpura-pura," ketus Letta.
"Gue masih ingat dengan jelas, kakak loe masih sadar dan dia berusaha mati-matian buat nolongin loe tanpa melihat tubuhnya yang juga sudah penuh dengan darah."
Tubuh Letta menggigil mengingat kembali sakitnya kecelakaan itu, kecelakaan yang merenggut Seruni dari hidupnya. Namun ia mencoba bertahan, ia tak ingin Tami tahu jika ia lemah jika membahas ini.
"Siapa wanita itu?"
"Loe pasti kenal Cally, karena wanita itu adalah calon mertua loe."
Baik Letta maupun Cally begitu terkejut bukan main, ternyata adalah Sonya dalang dibalik semua rentetan kecelakaan ini. Cally menampar wajah Tami hingga membuatnya pingsan, ia bangkit dan perlahan mendekati Letta.
Letta begitu hancur kembali ke masa lalunya, dalang kecelakaan ini sangat mengejutkannya hingga rasanya susah sekali baginya untuk bernafas. Cally berjongkok didepan Letta yang sedang kacau, ia berusaha menggapai tubuh itu namun tangannya terlalu berat.
Kecelakaan itu terjadi saat dirinya tak ada, tapi alasan dari kecelakaan itu berhubungan dengan dirinya. Itu membuat hatinya begitu berat, rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya.
"Kak David, kak Orland," teriak Cally saat Letta jauh kepelukannya tak sadarkan diri.
Sonya mulai pulih setelah serangan Arga padanya, ia mengumpulkan semua kekuatannya untuk kembali membalas Arga juga keluarganya. Namun saat ia berjalan keluar dari kamar ada Meya yang sedang duduk seorang diri didepan tv.
Ia berjalan mendekati cucunya tersebut, sambil memasang wajah kesakitan ia mulai mendekati Meya.
"Nenek, nenek kenapa," tanya bocah itu.
"Nenek sakit nak, tubuh nenek begitu sakit kemarin dipukulin."
"Siapa yang mukulin nenek aku," marah Meya bangkit dari duduknya.
Sonya menarik tangan cucunya, memintanya untuk kembali duduk disampingnya. Dengan lihainya ia membuat cerita tantang keluarga Arga yang selalu menindasnya, penuh air mata kebohongan juga mengatakan jika mereka juga menjahati Vira sebagai mamanya.
"Jahat, mereka jahat sekali nenek," tak terimanya.
Daniel tiba dirumahnya, ia masuk dengan begitu malasnya. Namun saat melihat anaknya tengah berdiri dengan raut marah, ia mengerutkan dahinya. Perlahan ia mendekat, semakin dekat Daniel bisa mengetahui alasan dari kemarahan putrinya.
"Cukup!"
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...