
David membawa kedua wanita tersebut menjauhi resto, sangat kesal itulah Letta saat ini. David bisa merasakan amarah Letta, hingga ia membawa wanita yang sudah dianggapnya adik itu duduk dibangku taman yang ada didepannya.
"Duduk dulu," ucap David yang sudah membukakan Cally bangkunya.
"Aku bisa sendiri," kesal Letta yang menolak saat David hendak menarik kursi miliknya.
"Ta, gue nggak nyangka deh loe bisa seberani itu tadi. Rasanya gue udah lama banget nggak lihat Arletta yang brandal kek tadi," tawa Cally.
"Nggak ada yang lucu ya, kesel tau gue lihat tingkah mereka tadi. Pengen gue acak-acak aja," memeragakan tangannya diudara.
"Arga pasti seneng deh istri garangnya udah balik lagi," ucap David yang juga tersenyum.
"Kalian berdua ini bener-bener deh ya, orang lagi kesel malah digodain."
"Iya iya maaf, udah dong nggak usah marah-marah. Kan loe juga udah nampar Vira tadi," ucap Cally.
"Tapi ya kak, apa bener kalian lagi nyelidikin kasus tante Arum," tanya Letta mengalihkan pembicaraannya.
"Ia kak, kenapa aku nggak tahu?"
Kini David memperbaiki posisi duduknya, menatap lekat kedua gadis yang ada dihadapannya.
"Sebenernya aku sama Arga sempat curiga sama kematian mendadak tante Arum, makanya Arga memutuskan untuk melakukan penyelidikan sebelum jenazah tante dikubur."
"Lalu kak," tanya Letta.
"Kita masih nunggu hasilnya, dan Arga juga masih selidiki semua yang ada dirumah sakit itu."
Cally nampak tertegun, ada rasa takut jika memang ternyata mommynya meninggal karena kesalahan medis bukan karena serangan jantung yang dituliskan rumah sakit untuknya. Wajahnya kini memucat membayangkan jika hal itu benar, David mengerti dan menggenggam erat tangan Cally sambil terus menjawab pertanyaan Letta.
David mencoba menenangkan wanita yang nampak kuat dihadapannya ini, walaupun begitu ia tahu jika wanita itu sangatlah rapuh dan lemah tak seperti apa yang ditampilkannya dari luar.
"Semua bakal baik-baik aja," bisik David memajukan sedikit wajahnya.
Cally sedikit tersipu malu ketika wajah keduanya sangat dekat, Letta hanya bisa memaklumi dua orang yang sedang dimabuk cinta tersebut.
"Ah sudahlah, ak mau ketemu sama suamiku aja lah," ucap Letta yang langsung bangkit dan pergi meninggalkan keduanya.
.....
...
Daniel sempat merasa takut ketika David mengatakan jika mereka sedang menyelidiki kasus kematian Arum, semua berkas yang menyatakan kematian Arum sudah ia sembunyikan bahkan suster serta penjaga yang bertugas juga sudah dimintainya tolong untuk tetap tutup mulut.
"Nggak, mereka nggak akan menemukan apapun," gumam Daniel seorang diri.
"Gue udah palsuin semua datanya, gue udah singkirin semua bukti-bukti."
"Akhhhhh!! Ini semua gara-gara mama, gara-gara mama gue kehilangan Cally dan gara-gara mama juga gue lalai dan membuat tante Arum kehilangan nyawanya."
Rasa marah yang salama ini ditahannya kini ia lampiaskan, semua hal yang ada didepan matanya ia hancurkan ia lempar hingga hancur berkeping-keping. Semua kertas berhamburan dilantai berserakan mejadi satu dengan pecahan kaca-kaca.
Daniel yang dulu tenang dan sangat rapi kini sudah tak ada, hanya ada Daniel yang penuh emosi juga penuh amarah ditatapan matanya. Daniel yang dulu rasanya sudah lama mati setelah ia mengucap ikrar janji dengan Vira, perempuan yang dipilihkan oleh Sonya sebagia pendamping hidupnya.
Sedang ditempat lain, diperusahaan Arga
Letta berjalan masuk menuju ruangan suaminya, semua orang sudah mengenal siapa Letta hingga mereka begitu menghormatinya. Tanpa mengetuk pintu Letta masuk kedalam ruangan Arga.
"Keluar! Dimana sopan santun kalian masuk tanpa ketuk pintu," omel Arga tanpa melihat siapa yang datang.
"Keluar saya bilang!!"
Letta mengepalkan kepalanya saat mendengar teriakan suaminya, rasa kesal yang tadi belum sembuh dan sudah ditambah lagi oleh tingka suaminya. Letta benar-benar sangat kesal dibuatnya.
"Akhhhhhhhhhhh," teriak Letta yang membuat Arga terkejut setengah mati dibuatnya.
"Astaga sayang," panik Arga segera bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri istrinya.
"Akhhhhh," teriak lagi Letta.
Arga segera membawa Letta kedalam dekapannya, namun Letta yang sudah terlanjut kesal segera mendorong tubuh suaminya untuk menjauhinya. Namun Arga tetap berusaha untuk memeluk tubuh candunya itu.
"Lepas nggak, katanya aku suruh keluar," kesal Letta berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Maafin aku ya sayang, aku bener-bener nggak tahu kalau itu kamu tadi," ucap Arga.
"Nggak mau."
"Mau aja ya yank," bujuk Arga.
"Nggak mau ya nggak mau."
"Mau."
Semakin Letta berusaha melepaskan diri, semakin besar juga tenaga Arga untuk memeluknya. Letta yang lelah kini memilih membiarkan tubuhnya direngkuh erat oleh suaminya, ia kini sudah pasrah dengan apa yang sedang suami nakalnya lakukan.