
Letta sudah sangat lelah, tak sanggup lagi rasanya ia melawan semua laki-laki yang tak ada tumbangnya.
"Ini hukuman loe yang suka ikut campur urusan orang."
"Cih, cuma kacung tapi sok berkuasa," hina Letta yang membangkitkan emosi semuanya.
Namun saat mereka hendak kembali menyerang, suara tembakan tepat mengenai kaki mereka satu persatu.
"Akhhhhh!!"
"Sayang," lirih Letta saat mengenali sosok suaminya, si penembak jitu.
"Kalian bereskan mereka semua, " perintah Arga.
"Lelah nyonya Arga?"
"Cukup lelah tuan muda arogan," senyum Letta.
Arga menyimpan pistolnya kembali, dengan cepat ia menggendong tubuh istrinya dan membawanya keluar dari dalam gudang pengap tersebut. Cukup pelan Arga meletakkan Letta pada kursinya, namun ekspresi kesakitan istrinya itu membuat Arga curiga jika Letta juga mengalami luka.
"Balik badan," perintah Arga yang kini mengunci rapat mobilnya.
"Apaan sih sayang."
"Buka dulu celana kamu."
"Jangan cabul deh, kita harus secepatnya lihat anak kita."
"Jangan buat aku yang lepas celana kamu dengan paksa ya ini," ancam Arga.
Letta hanya diam, dan itu membuat Arga kesal hingga akhirnya dengan paksa menarik celana Letta hingga turun dari posisinya. "Nungging dulu."
"Sayang, bukan saatnya ini."
"Nungging aku bilang yank."
"Yank."
Sungguh kesal Arga dibuatnya, hingga ia menyentil kening istrinya cukup keras hingga menimbulkan suara.
"Aww," teriak Letta.
"Yaudah miring aja dikit," lembut Arga bersuara.
"Yank," menampilkan wajah melasnya.
"Kamu ini mikir apa sih yank, aku tuh mau cek luka kamu. Bukan mau ngajakin kamu cek rawa kita loh, kita juga harus buru-buru cek kondisi anak-anak," kesal Arga.
Dengan pasrah Letta memiringkan tubuhnya, dengan sangat hati-hati Arga memeriksa seluruh tubuh istrinya. Hingga ia menghela nafas leganya saat melihat sendiri jika istrinya baik-baik saja.
..
"Adek pasti baik-baik saja," ucap Reno mencoba menenangkan cucunya. Reno tahu rasa cemas Shaka kini, dan ia faham apa yang tengah dirasakan cucunya.
"Dokter," seru Orland mengejutkan semua orang.
"Dok gimana adik saya?"
"Bagaimana cucu saya dok?"
Raut wajah dokter membuat mereka ketakutan, mereka takut jika ada hal buruk yang menimpa si kecil Laisa. "Kondisinya saat ini masih kritis, tapi-
"Tapi apa dok," seru Reno.
"Saya sangat menyesal menyampaikan hal ini."
"Apa itu dok, tolong beritahu. Saya kakaknya, jadi saya berhak tahu keadaan adik saya."
"Dengan berat hati saya menyampaikan, jika kemungkinan pasien mengalami kelumpuhan."
"Letta," seru Arga yang terkejut saat tubuh istrinya jatuh tak sadarkan diri.
"Letta," panggil Orland yang kini berlari mendekatinya.
"Nggak, adik nggak mungkin lumpuh. Nggak mungkin," gumam Shaka.
"Ini masih kemungkinan, kita akan menunggu pasien sadar terlebih dahulu untuk melukan pengecekan menyeluruh."
"Dok, kalau benar adik saya lumpuh. Tolong dok, tolong ganti kaki adik saya dengan kaki saya ini. Adik saya itu sangat aktif, dia nggak akan bisa terima kelumpuhan ini dok," ujar Shaka penuh rasa cemas.
"Shaka, " sedih Reno melihat Shaka yang terpuruk dengan kondisi adiknya.
"Nak-
"Tolong dok, adik saya itu sangat aktif jadi dia nggak boleh lumpuh dok. Biar saya kakaknya yang menggantikan adik saya."
"Oh no Shaka, cucu opa," sangat hancur hati Reno melihat dan mendengar apa yang Shaka ucapkan. Pelukan bahkan tak bisa membuat cucunya itu tenang, bahkan Shaka yang biasa tegar kini sangat hancur hingga berurai air mata ambil memohon pada dokter adiknya.
"Saya mohon, ambil kaki saya dok. Jangan biarkan adik saya terluka dok, saya mohon."
...*Yeayyyy .. sesuai janii aku ya.. double up kali ini.. maaf kalo masih banyak kekurangannya ya.....
jangan lupa like komen juga votenya .. 🥰🥰*
(Hai semua, cuma mau benerin yang salah aja..jadi nama Shaka itu bukan Rayshaka ya .. tapi Arshaka Pitra Wijaya. Maaf ya aku salah namanya Shaka)