
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Letta hampir saja kehilangan kendali atas emosinya, beruntung ada Arga yang datang dan langsung menghentikan istrinya itu. Arga dengan sigap menarik Letta kedalam dekapannya, membawa istrinya sedikit menjauh dari siluman yang ada didepannya.
"Apa yang mau kamu lakuin," tanya Arga.
"Aku pengen cabik-cabik dia sampai hancur. Karena dia anak kita lumpuh, karena dia juga Laisa menderita trauma," murkanya.
"Tahan emosi kamu, ini rumah sakit sayang," tahan Arga pada Letta yang begitu diliputi emosinya.
"Ada apa ini," tanya Edo yang tiba-tiba datang dan menghampiri semuanya.
"Tuan Edo yang terhormat, saya harap anda masih ingat dengan apa yang pernah saya sampaikan."
"Tentu saja saya masih mengingat itu tuan Arga."
"Kalau begitu tanpa mengurangi rasa hormat saya, tolong anda bawa pergi istri juga cucu anda ini."
"Nak kita pergi dulu yuk, lihat mamy," bisik Edo pada Meya.
"Kami permisi dulu," ucap Edo.
"Kita belum selesai," tunjuk Sonya yang langsung ditatap tajam Edo suaminya.
Pagi yang begitu cerah saat mata Daniel baru saja terbuak, perlahan ia mencoba bangkit dari tidurnya namun pusing menyerang begitu kuat pada kepalanya.
"Akhh, sakit sekali," keluhnya sambil memegangi kepalanya.
Matanya mulai terbuka lebar, ia melihat sekeliling tempat yang begitu asing baginya. Lalu pandangannya jatuh pada seorang wanita yang terlihat tertidur dilantai dan yang satu tertidur disampingnya.
Kedua perempuan itu sama-sama telanjang alias tak berbusana. Mata Daniel membulat dengan apa yang terlihat didepan matanya, ia begitu merutuki kebodohannya saat melihat kondisi tubuhnya sendiri.
"Bener-bener bodoh gue," rutukinya pada diri sendiri.
Ia dengan perlahan mencoba bangkit dari ranjang agar tak membangunkan kedua wanita tersebut. Selesai menggunakan pakaiannya, ia mengambil beberapa uang dan meninggalkannya diatas meja.
Dan sesampainya dirumah ia sempat tertegun saat menyadari pintu rumahnya telah sedikit rusak. Ia tak mengambil pusing hal itu, namun begitu masuk ia disuguhi dengan kondisi rumah yang begitu berantakan.
"Ada apa ini," tanyanya pada para pelayan yang terlihat sedang membersihkan rumahnya.
"Pagi tuan Daniel," sapa para pelayan.
"Ada apa ini, kenapa begitu berantakan disini. Dimana yang lainnya," tanyanya beruntun.
"Semua orang sedang berada dirumah sakit tuan."
"Rumah sakit, siapa yang sakit?"
"Nyonya Vina tuan."
"Oh, kalian lanjutkan aja pekerjaannya."
Daniel masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya. Bau alkohol begitu menyengat dari tubuh juga pakaiannya. Ia membakar baju itu dan membuangnya, sedangkan saat ini ia merendam tubuhnya berharap aroma alkohol juga wanita itu menyingkir dari dirinya.
"Cally, kenapa gue nggak bisa lepasin Cally dari hati juga fikiran gue," gumamnya.
"Andai dulu gue memperjuangkannya, anda dulu gue nggak ngikutin permintaan mama," sesalnya begitu besar.
Kini semua sudah terlambat baginya, tak hanya pintu hati Cally yang sudah tertutup padanya namun ia juga sudah sepenuhnya kehilangan Callynya. Daniel memukul-mukul permukaan air yang ada disekitarnya, membuat gelembung sabun itu terciprat kemana-mana.
.....
...
Vira sadar, ia menatap sekelilingnya hingga matanya menemukan sosok anaknya tengah tertidur dipelukan kakeknya. Ia tersenyum menatap sang buah hati, namun saat pandangan matanya menatap sosok Sonya membuat ia begitu ketakutan.
Ingatan malam itu kembali terbayang dalam fikirannya, kejadian demi kejadian terlintas tanpa bisa ia hentikan. Sonya mulai terbangun dari tidurnya, tanpa sengaja matanya bertemu dengan Vira yang juga sedang menatapnya.
Sonya bangkit sambil merenggangkan tubuhnya, ia dengan tatapan matanya menatap Vira yang jelas tengah ketakutan dengannya.
"Kenapa, takut ya?" tanyanya berbisik pada Vira.
"Saya harap kamu bis menutup rapat mulut kamu itu tentang kejadian semalam. Kamu sudah melihat bukan gimana gilanya saya jika ada yang melawan saya," ancamnya dengan begitu mengerikan.
Vira hanya bisa pasrah menganggukan kepalanya, ia tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa diam menelan semua itu sendirian, sebab ia juga tak ingin hal buruk terjadi kepada putrinya.
"Apapun, tapi jangan sakiti putriku," batinnya yang menangis tanpa suara.
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...