CallyDaniel

CallyDaniel
53—Rapuh



Arga membawa Letta menuju ruang dokter diikuti oleh Orland, bukan tak cemas dengan keadaan Laisa anaknya namun kini Letta adalah fokusnya.


"Gimana dok, gimana istri saya," tanya Arga panik.


"Lukanya sudah saya obati, tidak ada yang serius dengan istri bapak. Hanya saja istri anda terlalu lelah juga syok, itu yang menyebabkan istri bapak pingsan."


"Syukurlah," lega Arga.


Kini Laisa sudah dipindahkan keruang rawatnya, tubuh anak kecil itu kini penuh dengan selang yang mendeteksi kehidupannya. Shaka hanya terdiam memandangi adik kecilnya dari kaca depan, sebab untuk sementara ini tak ada yang boleh masuk selain petugas juga dokter.


"Shaka, kita duduk dulu yuk," ajak Elena.


"Oma aja, Shaka mau jagain adik disini."


"Kamu butuh istirahat juga nak, kasihan tubuh kamu juga," ucap Elena dengan berkaca-kaca.


"Oma," panggil Shaka.


"Ehm, apa nak?"


"Shaka nggak becus ya jadi kakak, Shaka gagal jagain adik Shaka satu-satunya."


"Oh Shaka sayang, jangan ngomong begitu nak," hati Elena hancur mendengar apa yang baru saja cucunya ucapkan. Ia tak menyangka bocah kecil itu begitu meras bersalah dengan apa yang terjadi kepada adiknya.


Elena memeluk erat tubuh Shaka, menghujaninya dengan ciuman penuh air mata. Reno merasakan sakit juga dengan sikap Shaka yang terlalu menyalahkan dirinya.


"Land, kerahin semua anak buah. Cari siapa dalang dibalik ini semua, gue mau hasil secepatnya!"


........


David terus saja mengetuk pintu kamarnya, Cally yang merajuk tak membiarkan David masuk kedalam kamar miliknya.


Tok.. tok.. tokk,


"Sayang, bukain dong pintunya," ucap David.


"Sayang. disini dingin loh," lanjutnya saat tak ada sahutan dari dalam kamar.


"Yaudah kalau kamu nggak bukain, aku nginep dikamar Tami ya," ancam David. Dan benar saja, detik itu juga pintu kamarnya langsung terbuka.


"Nyali tuan David besar sekali ya rupanya," seru Cally.


Menggunakan kesempatan ini, David segera menerobos masuk kedalam kamar. Cally merasa kecolongan dengan sikap suaminya, ia masih sangat kesal juga marah dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Ayolah, kesini sayang," menepuk sofa disebelahnya.


"Nggak!"


"Yank, kan tujuan kita kesini untuk berlibur untuk honeymoon, kenapa malah berantem sih?"


"Ya tanya aja sama diri kamu sendiri kak, istri mana yang nggak marah kalau lihat suaminya kayak tadi."


"Terserah ta-


Ucapannya terputus, tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sakit sangat sakit hingga rasanya sulit sekali untuk Cally bernafas.


"Kenapa, dimana yang sakit," panik David yang segera memapah istrinya menuju ranjang.


"Aku panggil tim medis dulu ya."


Cally menahan tangan suaminya, sambil berurai air mata Cally meminta David membawanya pulang. "Aku mau pulang kak, bawa aku pulang gimanapun carana."


"Sayang ada apa, katakan sama aku kenapa," menghapus air mata istrinya.


"Aku mohon bawa aku pulang kak, " pinta Cally sekali lagi.


Namun belum sempat ia berucap, dering ponsel membuyarkan obrolan keduanya. Dengan malas David memeriksa ponselnya, namun setelah tahu jika Mira yang menghubunginya iapun dengan semangat menjawabnya.


"Halo sayang, anak ayah," ucapnya sambil membelai wajah Cally.


"Ayah," tangis Mira dengan sangat kencangnya.


Wajah David seketika berubah sangat panik, Cally segera bangkit dan meminta David meloudspeaker ponselnya. Dan kini dengan jelas ia bisa mendengar suara Mira yang sedang terisak menangis.


"Hai sayang, ini ada apa?" tanya Cally pada anaknya.


"Bundaaa," tangis Mira mendengar suara Cally.


"Bunda disini nak, katakan ada apa? kenapa anak bunda nangis gini sih?"


"Bunda, Laisa koma!"


Cally bagai tersambar petir mendengar apa yang baru aja putrinya sampaikan, dadanya kembali sakit hingga ia ikut menangis.


"Gimana bisa Laisa koma nak, katakan sama ayah apa yang terjadi?"


Mira menceritakan semua hal yang telah terjadi, gadis kecil itu menahan tangisnya agar tak mengganggunya saat bercerita kepada ayahnya.


"Gitu ayah, sekarang Laisa koma."


"Kamu dirumah sama siapa?"


"Halo kak David," ucap Jesika yang merebut ponsel Mira.


"Jes, gimana keadaan Laisa sekarang?"


"Kata mama, kemungkinan besar Laisa bakal lumpuh kak," sedihnya.


"Kita pulang!"