
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Sudah satu bulan ini Laisa melakukan fisio terapi dirumahnya, tak hanya memboyong tenaga profesional namun Arga juga melengkapi rumah nya dengan semua yang dibutuhkan sang anak. Arga bahkan menyiapkan satu tempat dihalaman belakang rumahnya hanya untuk ruang terapi Laisa.
Selama satu bulan ini Shaka terus menemani sang adik melakukan terapi, bahkan ia meminta pada Arga untuk sang adik melakukan terapi setelah ia pulang sekolah. Dan perlahan kini Laisa sudah bisa menggerakan kakinya walaupun masih terasa berat.
"Mamaaa," teriak Laisa menghampiri Letta juga Cally yang sedang berada didapur.
"Adik pelan-pelan dong," tegur Shaka melihat Laisa begitu bersemangat berjalan dengan tongkatnya.
"Aku bisa kok kakak," ucapnya menolehkan kepalanya.
Dan benar saja, baru Shaka menutup bibirnya sang adik sudah terbentur sofa.
"Adik," teriak Shaka ingin segera berlari menuju sang adik.
Namun beruntung ada David yang tepat didepan Laisa dan menangkap bocah itu hingga tak membentur lantai yang keras. Shaka begitu lega melihat adiknya tak terluka, ia pun segera menghampiri sang adik juga ayahnya.
"Kamu gpp dik, mana yang luka," tanya Shaka memeriksa semua sisi tubuh Laisa.
"Ih aku gpp kok kak, untung ada ayah yang nangkap aku. Iyakan ayah," ucap Laisa begitu menggemaskan.
"Dimana mama juga sister," tanya David saat membantu Laisa berdiri.
"Aku disini suamiku," seru Cally yang saat ini berdiri tak jauh dari ketiganya.
Memastikan jika kini Laisa sudah seimbang, ia berhambur memeluk tubuh Cally didepan semua orang. Entah mengapa hari ini ia begitu merindukan istrinya itu.
"I miss you sayang," bisik David yang membuat Cally merona.
"Hey, lihat-lihat tempat kalau mau mesra-mesraan," ucap Letta.
"Iya ih ayah kayak papa aja nggak tahu tempat," ucap Laisa yang menimbulkan tawa.
..
Keesokan harinya semua orang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, Cally pergi bekerja juga dengan yang lainnya. Kini hanya ada Elena juga Laisa sedang Letta sedang menemani suaminya berbisnis.
"Oma, Laisa lapar," rengek bocah tersebut.
"Oma bikinin ayam mentega mau nggak," tanya Elena.
"Mau, mau mau."
Saat begitu sibuk memasak, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Laisa bangkit dan membukakan pintu tersebut, dan ternyata adalah Vira yang sedang bertamu.
"Ngapain tante kesini," sinis Laisa tak suka dengan kehadiran Vira dirumahnya.
"Mana orang tua kamu," tanya Vira ketus dengan begitu sombongnya.
"Nggak ada," kesal Laisa dengan tingkah Vira.
"Kecil-kecil udah pinter bohong ya, ajaran nggak bener dari orang tuanya."
"Tante jangan ngehina mama papa aku ya, pergi sana."
Laisa mendorong Vira, sedang Vira yang tak stabil dalam berdiri bergitu terkejut dengan serangan Laisa hingga membuat dirinya terjatuh kelantai dengan begitu kerasnya.
"Awww," pekiknya.
"Rasain, wleek," ejeknya menjulurkan lidahnya.
Vira bangkit, ia menatap geram bocah kecil pincang didepannya itu. Dengan menyeringai ia menendang tongkat Laisa hingga membuat Laisa jatuh dengan begitu kerasnya.
"Awww," pekik Laisa merasa sakit pada kakinya.
Shaka tiba-tiba saja sudah berada dihalaman rumahnya, dan ia melihat semua yang dilakukan Vira terhadap sang adik kesayangannya. Amarah begitu menguasai Shaka melihat adiknya disakiti, ia melangkah maju mendekati wanita itu dan mendorong dengan begitu keras tubuh Vira hingga membentur pintu rumahnya.
"Brengsek, siapa yang berani-
Ucapan Vira terputus saat tubuhnya yang tersungkur dan terjatuh itu berhadapan langsung dengan Shaka yang kini berada disebelahnya. Shaka yang sudah dikuasai emosinya juga tangis adiknya tak bisa mengendalikan dirinya, ia dengan ganasnya mencekik leher Vira dengan begitu kuatnya.
"Hanya kematian hukuman yang pantas bagi siapapun yang berani menyakiti adikku! Mati!"
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...