CallyDaniel

CallyDaniel
47—David yang romantis



Ketukan pintu tak menjadi penghalang bagi dua insan yang tengah berselimut kabut gairah, menjadikan malam dingin berubah menjadi malam yang sangat bergairah bagi keduanya.


(Bagian ehm,, ehmm nya bayangin masing-masing aja ya, takut nanti gak lolos review 😄)


Pagi yang menjelang siang, namun kedua insan masih sangat nyaman saling berpelukan dalam satu selimut yang sama. Dalam mata terpejam, tangan David mampu menemukan tempat favoritnya.


"Kak, jangan usil deh," protes Cally masih dengan mata terpejam, namun ia tak menghentikan gerakan tangan suaminya.


"Dikit sayang," rancu David. Cally tak lagi menghiraukannya, kantuk membuat dirinya hanya membutuhkan tidur.


Ditengah tangannya yang sedang bermain, tiba-tiba David terbangun hingga membuat Cally juga ikut terkejut. "Aww, sakit kak," pekik Cally yang langsung membuka matanya.


"Maaf sayang, maaf ya. Tapi kita harus segera bangun ini," paniknya.


"Kenapa sih kak?"


"Kapal kita berangkat 3 jam lagi yank," paniknya menatap jam yang terpajang didinding kamarnya.


Cally membulatkan matanya mendengar apa yang baru saja disampaikan suaminya, ia yang ikukt panik segera beranjak dari atas ranjangnya berlari menuju kamar mandinya.


"Astaga sayang, pakai selimutnya dong," seru David terkejut melihat Cally berlari tanpa busana.


"Nggak keburu."


30 menit keduanya bersiap juga membersihkan diri dengan ekstra kilat, David menyempatkan diri singgah disebuah restoran yang dilaluinya menuju jalan pelabuhan. Ia teringat jika sejak semalam sesampainya mereka dihotel Cally sama sekali belum melahap makanan.


"Kita mampir makan dulu ya, kamu dari semalam belum makan soalnya," ucap David yang memberitahu supir yang sedang mengantarnya.


"Iya, belum juga diisi udah digempu aja semalam. Nambah lagi, nggak cuma sekali lagi," sindir Cally pada suaminya yang sedang tersipu malu.


"Gitu-gitu kamu juga menikmatinya kan semalam, hayo ngaku," mecolek dagu Cally dengan sangat pelan.


"Dih mana ada ih," elak Cally menahan tawanya.


"Tuh tuh tuh ketawa kan, tuh ketawa. Aduh manisnya, istri siapa sih ini," gemas David.


"Istri pak supirnya."


Candaan Cally membuat wajah bahagia David sirna berganti dengan wajah cemberut dengan tatapan elangnya menatap tajam dirinya. Cally tak merasa bersalah, ia malah tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menyandarkan kepalanya didada suaminya.


"Aduh aduh, suami aku kalau ngambek lucu ya," menangkup kedua sisi wajah David.


Sang supir memberitahu jika telah tiba di restoran yang David inginkan, dengan wajah cemberutnya David keluar dan membukakan pintu Cally. Menggandeng mesra tangan istrinya masuk kedalam restoran yang cukup padat pengunjungnya.


Bahkan setibanya dipelabuhan dan harus segera menaiki kapal, David yang sangat pengertian tak membangunkan istrinya. Ia menyewa beberapa laki-laki yang sedang berdiri tak jauh darinya untuk mengangkat semua barangnya naik keatas kapal.


"Thankyu," ucap David pada mereka saat melewatinya.


Dengan sangat hati-hati David menggendong Cally agar tak terbangun dan mengganggu tidurnya. "Apapun untuk ratuku ini."


.....


...


Meninggalkan pasangan yang tengah dimabuk cinta, kini Letta tengah menunggu ketiga putri cantiknya keluar dari dalam sekolahnya. Olla diterima disekolah yang sama dengan kedua saudaranya, namun hanya terlihat Laisa yang berjalan menghampirinya


Letta keluar dari dalam mobil sambil merentangkan tangannya pada Laisa, namun saat jarak keduanya sangatlah dekat tiba-tiba sebuah mobil datang dan beberapa laki-laki keluar menarik Letta juga Laisa masuk kedalam mobilnya.


"Mama," panggil Laisa yang ketakutan.


Sambil memeluk erat tubuh putrinya, Letta mengamati wajah laki-laki yang kini berada didepan matanya. "Siapa yang menyuruh kalian membawa kami?"


"Diam! Nggak usah kebanyakan nanya."


Namun tak berapa lama mobil yang membawanya berhenti ditempat yang sangatlah sepi, bahkan tak ada satupun pejalan kaki yang melewati jalan tersebut. Tubuh Laisa bergetar ketakutan memeluk mamanya, mencoba menenangkan putrinya namun nyatanya ada rasa takut


"Masuk!"


"Apa mau kalian! Lepaskan anak saya dan katakan apa mau kalian semua!"


"Banyak omong memang!"


Mereka mendorong tubuh Letta lebih masuk lagi didalam gudang yang sangat gelap juga pengap tersebut. Bau tak sedap membuat Laisa menangis ketakutan, gadis kecil yang selalu terlihat berani itu kini menangis dalam gelap berdua dengan mamanya.


"Laisa sayang tenang ya nak, papa pasti jemput kita disini," memeluk erat tubuh putrinya.


"Laisa takut mah, gelap. Laisa takut mereka nyakitini mama," tangis bocah tersebut.


"Nggak! Nggak akan ada yang nyakitin mama nak," mengecup sayang anaknya.


.


.


...‐Maaf ya semua kalau banyak typo, terima kasih sudah setia menemani cerita ini‐...