CallyDaniel

CallyDaniel
30—Lalai berujung maut



Semua orang tengah berkumpul dimeja makan, namun tak nampak Cally ada bersama mereka. Olla menoleh kan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah sedang mencari seseorang.


"Olla, kepala kamu kenapa nggak bisa diam ya? Kayak boneka kucing di toko emas aja," seru Arga dengan ledekannya membuat Olla mencebikkan bibirnya.


"Om ini sembarangan aja, masa anak secantik aku ini dibilangan mirip boneka kucing," celotehnya dengan gaya khas centilnya.


"Terus boneka apa dong?"


"Boneka anabel," kesalnya, membuat semua orang tergelak tawa dengan ucapannya.


"Udah-udah kalian ini suka sekali godain Olla sih. Kamu lagi cari siapa sayang," tanya Elena pada cucunya.


"Oma aku tuh lagi cari mamanya Mira, kok nggak ada ya."


Semua orang saling menatap, mereka kini baru menyadari jika Cally tak ada bersamanya. Letta menatap tajam David yang kini sedang salah tingkah menyanta makanannya. "Apa ada yang terjadi kemarin malam kak David?"


David tersedak ketika mendengar pertanyaan itu meluncur dari mulut Letta, belum lagi tatapan mata semua orang kini sedang menatapnya. "Shaka, sopir udah nunggu didepan. Kamu anterin adik-adik sekolah dulu ya," ucap David pada keponakannya itu.


Shaka mulai turun dan mengajak para adiknya untuk berangkat ke sekolah, satu persatu dari mereka mulai berpamitan sebelum akhirnya menghilang dari pandangan semuanya.


"Nasib deh jadi pengangguran," ucap Olla bangkit dari kursinya.


"Mau kemana kamu anak centil," tanya Arga pada keponakannya yang begitu menyebalkan menurutnya.


"Om Arga yang ganteng pakai maksimal, om David sudah mengusir semua anak-anak dari sini. Jadi aku yang terlalu pintar ini juga harus sadar dan pergi dari kalian," ucapnya dengan gaya kemayunya.


"Sana-sana beresin kamar aja kalau gitu."


"Dipikir aku mbak-mbak dirumah kali suruh bersih-bersih. Bye," mengangkat tangannya sebelum meninggalkan meja makan.


"Arga, suka sekali sih kamu ini godain Olla."


"Habis itu anak centil banget pah gayanya persis Jesika, belum lagi tengilnya udah mirip papanya."


"Namannya juga anaknya sayang."


Kini Letta menatap tajam David yang juga sedang menatapnya, bahkan semua orang juga menatap meminta penjelasan David tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Cally.


David menceritakan semua yang terjadi dengan dirinya juga Cally kemarin malam, mereka mendengar dengan alis yang saling bertaut. Letta mengepalkan tangannya tak terima dengan apa yang sudah diperbuat Sonya pada saudarinya, amarahnya kini benar-benar memuncak dengan apa yang selama ini ditahannya.


"Mau kemana kamu yank," tanya Arga menahan tangan Letta yang berdiri disampingnya.


Arga menarik paksa tangan istrinya agar kembali duduk disampingnya, dengan terpaksa Letta pun menuruti permintaan suaminya yang tak bisa dibantahnya. "Kalau aku bilang diam ya diam."


.....


...


Diruamah Daniel,


Vira hanya bisa menangis disudut kamarnya dengan luka lebam yang diterimanya, luka yang tak begitu sakit sesakit hatinya saat ini. Air mata terus membanjiri wajahnya sejak tadi malam dan kini matanya pun sembab dibuatnya.


"Ini semua gara-gara pelakor itu, kalau saja mereka nggak ketemu Daniel nggak mungkin bersikpa kejam sama aku," geram Vira yang menyimpan amarah pada Cally.


"Perempuan itu, dia udah sangat berani terang-terangan menggoda Daniel didepan umum tanpa sepengetahuanku."


"Akhhh, brengsek loe Cally. Gue bakal hancurin hidup loe," murkanya dengan tatapan bencinya.


Daniel begitu terpukul dengan apa yang kemarin didengarnya, hatinya begitu sakit mendengar jika Cally kini telah menjadi milik laki-laki yang dikenalnya selama ini. Laki-laki yang selalu menutupi keberadaan Cally selama ini.


"Jadi loe nutupin keberadaan Cally karena loe juga ngincer dia, kurang ajar loe David," gumamnya mengepalkan kedua tangannya.


Daniel begitu murka, ia merasa sangat terkhianati oleh merek semua. Sejak dulu ia selalu memohon untuk bisa bertemu dengan Cally, namun tak ada satupun dari mereka yang mau memberitahunya dengan alasan yang sama yaitu tak ada yang tahu dimana Cally.


Namun apa yang didengarnya kemarin dari mulut David benar-benar membuatnya salah paham dan mempercayai begitu saja apa yang didengarnya. Ditengah kemarahan itu tiba-tiba saja seorang suster datang menemuinya.


"Ada apa."


"Maf dok, ada pasien yang sedang mengamuk," ucap suster tersebut dengan sangat paniknya.


"Berikan suntikan penenang, tambahkan dosisnya dua kali lipat dari sebelumnya," perintahnya tanpa ingin bertindak sendiri seperti sebelumnya.


Suster merasa heran dengan sikap dokter Daniel kali ini, ia tak seperti biasanya yang selalu sigap ketika pasiennya mengamuk. Kini seolah dokter Daniel begitu malas menjalani pekerjaannya.


"Tapi dok pasien ini-


"Saya sudah katakan berikan dosis itu agar dia tenang," potongnya dengan anda yang begitu tinggi hingga mengejutkan suster tersebut.


Tak ada yang ingin dikatakan lagi hingga suster tersebut pergi dan segera berlari menuju kamar pasiennya.


Letta yang kini sedang menatap layar televisi terganggu saat ponselnya berdering, dengan malas Letta menerima panggilan tersebut. Namun setelah menerima panggilan tesebut tiba-tiba saja Letta terdiam dengan berderai air mata.