CallyDaniel

CallyDaniel
66‐Arletta ganas



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Cally memilih memaafkan David dan mengakhiri perang dingin antara keduanya. Dan pagi ini ia tengah menyiapkan pakaian yang akan digunakan sang suami yang akan pergi bekerja.


"Istriku sedang apa ini," memeluk mesra tubuh istrinya.


"Sibuk nyiapin baju suami, udah lepasin basah ini akunya," protes Cally yang merasa jika baju bagian belakangnya basah terkena tubuh David.


David tak mendengarkannya, ia membalik tubuh sang istri dan langsung menyerangnya dengan ciuman panasnya. Tak ada perlawanan berarti dari Cally, ia hanya menikmati permainan panas dari sang suaminya.


Sudah sangat siang ketika keduanya keluar dari kamarnya, turun menemui keluarganya dibawah. Namun hanya ada Letta juga Elena yang duduk diruang tengah menikmati camilan.


"Loh, kenapa sepi. Dimana yang lainnya," tanya David berbasa-basi.


"Lihat jam, udah jam berapa ini. Kenapa tuan nyonya David baru turun," tanya Letta.


"Oh, tadi ehmm itu tadi," bingung Cally menjawab.


"Tadi bikin bayi dulu setelah berbaikan," celetuk Letta dengan jahilnya.


Wajah Cally tersipu malu dengan ucapan Letta barusan, ia begitu kesal terus saja diledek sepupunya tersebut.


Arga begitu geram dengan apa yang dilakukan Tami kali ini, wanita itu dengan sangat beraninya mendatangi kantor Arga dan mengaku sebagai wanitanya. Arga begitu geram, ia juga takut jika Letta akan salah paham dengan hal ini dan menghabisinya.


"Apa mau anda ini, kenapa datang dengan gosip yang begitu beraninya," cerca Arga menahan emosinya.


Tami benar-benar membuang rasa malunya, ia dengan seenaknya duduk dan menyilangkan kakinya didalam ruang Arga. Bahkan Arga juga mengundang sekretarisnya untuk bergabung kedalam ruangannya.


"Katakan apa yang nona inginkan, tolong jangan menghambat pekerjaan tuan Arga."


"Siapa yang menghambat, saya hanya ingin bertemu lelaki saya saja," dengan nada manjanya.


"Keluar kamu dari sini," bentak Arga yang sudah tak bisa menahan emosinya.


"Buang-buang waktu saja berurusan dengan wanita gila sepertimu ini," lanjut Arga murka.


Tami malah menikmati kemarahan Arga, menatap santai Arga yang sudah uring-uringan didepannya. Tak ada cara lain lagi bagi Arga, ia menghubungi David dan memintanya untuk segera datang ke perusahaan.


Dan sangat kebetulan kini David sedang bersama Cally juga Orland, ketiganya dengan segera melaju menuju perusahaan milik Arga tersebut. Cally juga tak lupa mengabari Letta dengan apa yang suaminya tengah alami.


"Benar-benar wanita gila! Pantas sekali gue bikin panggang guling," geram Letta setelah menerima panggilan dari Cally.


Ia segera melajukan mobilnya menuju dimana suaminya berada, dengan sumpah serapahnya ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


Cally menatap jijik pada Tami yang sedang duduk dengan begitu seksi dengan balutan dress mininya. Tatapan menghina juga Tami tujukan pada Cally yang terus memeluk lengan David dengan posesifnya.


"Begitu menjijikan," cemooh Cally.


"Bukankah wanita ini yang pernah datang kerumah," tanya Orland yang tak tahu menahu masalah Tami.


"Silahkan duduk, tuan nyonya," ucap sekretaris Arga.


"Wanita ini membuat onar diperusahaan ku, dengan tak tahu malunya mengaku sebagai selingkuhanku dan membuatku malu," marah Arga.


"Benar Tami," tanya David.


"Itu satu-satunya cara agar aku bisa menemuimu Vid," penuh tatapan cinta untuk David.


"Murahan! Apa loe begitu tak laku sampai mengejar-ngejar suami orang," teriak Cally.


"Tenanglah sayang."


"Wanita ini benar-benar berbahaya, berani melakukan perang secara teang-terangan," ucap Orland.


Letta tiba diperusahaan Arga, semua orang menundukkan kepalanya menyambut kedatangan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Aura membunuh Letta begitu kuat, hingga semua orang yang dilewatinya begitu ketakutan dengan ekspresi wajahnya.


"Cari mati emang tuh cewek."


"Iya, nggak tahu apa sebucin apa pak Arga sama istrinya."


"Iya, masih nggak tahu diri ngaku-ngaku selingkuhannya lagi," ucap beberapa pekerja.


Letta tiba didepan ruang suaminya, ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum tangannya mednorong pintu yang menghalanginya itu. Dan begitu kebetulan sekali saat pintu terbuka, posisi Tami sedang bergelayut manja dilengan Arga.


"Kurang ajar!," teriaknya mengejutkan semuanya. Bahkan Orland sampai menelan ludahnya melihat aura gelap Letta.


"Tamat deh nih cewek."


"Gue nggak ikut-ikut, urusan Letta ini mah."


"Gue mah cuma kenalan kuliahnya, nggak ikut-ikut kalau auranya kek gini."


"Nyonya Arga juga datang," memprovokasi Letta dengan senyumannya.


Letta menetap tajam Tami, tapi ia juga menetap tak suka Arga yang hanya terdiam saat tangan Tami menyentuh tubuhnya.


Dengan begitu garangnya Letta menarik rambut panjang Tami, menjauhkan wanita tersebut dari tubuh suaminya. Letta tak memperdulikan teriakan kesakitan dari Tami yang rambutnya ditarik, ia bertukar pandang dengan Arga cukup intens.


"Jangan sentuh aku dengan tubuh kotor itu," teriaknya pada Arga.


Letta pun membawa pergi Tami dengan masih menarik rambut perempuan tersebut. Pergi menghilang dari ruang Arga, menyisakan lima orang dengan pandangan penuh ketakutan.


"Habis gue kali ini."


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...