CallyDaniel

CallyDaniel
28—Begitu mesra



Mata David begitu tajam menatap saat seorang pelayan tengah membawa nampan berisikan sup panas berjalan mendekati Cally. Tangan itu oleng hingga sup yang dibawanya terlihat sedikit tumpah.


"Sayang awas."


David berseru dengan begitu kencang sambil berlari menghampiri Cally, ditariknya tubuh itu hingga tak ada jarak antara keduanya. Mata itu saling menatap mengunci satu sama lainnya, hingga sup panas itu terjatuh dan mengenai punggung juga tangan Cally yang sedang bersandar ditubuh David.


"Akhh," pekik keduanya secara bersamaan.


"Astaga maafkan saya tuan, nyonya."


David segera melepaskan rengkuhannya, ia segera menarik tangan Cally dan melihat seberapa besar luka bakarnya.


"Nggak masalah mas, silahkan kembali bekerja saja," ucap ramah Cally.


Pelayan itu segera memunguti barangnya dan segera meninggalkan keduanya. Kini hanya ada Cally juga David yang tengah serius memeriksa lukanya. Cally begitu terpanan dengan mata indah yang sedang mengkhawatirkannya itu.


"Kak, gue gpp kok."


"Gpp apanya, ini sampai merah banget loh Cal."


"Tapi punggung loe pasti juga lebih parah, sini gue lihat kak.


Cally mencoba meraih bahu laki-laki itu namun nyatanya David menghindarinya dan tetap fokus dengan tangan cantik Cally yang sangatlah memerah. Cally hanya bisa mencebikkan bibirnya dengan sikap David tersebut.


"Permisi tuan nyonya, saya bawakan obat untuk lukanya."


Pelayan itu kembali datang membawa kotak obat juga sebuah salep untuk mengobati luka akibat kecerobohannya.


"Duduk sini, biar gue oleskan salep," dengan perlahan David menarik tangan itu untuk berjalan mengikutinya.


Dengan sangat romantisnya David menarik sebuah kursi dengan satu tangannya, kemudian mempersilahkan Cally untuk segera mendudukan dirinya. Cally hanya bisa patuh dengan apa yang diucapkan David, ia hanya tersenyum saat nafas David berhembus menerpa kulitnya.


"Maaf ya, gue pelan-pelan ini. Gue tiup ya biar nggak perih," seru David tanpa menatap Cally.


Namun Cally tiba-tiba saja melapas tangannya membuat David mendongakkan pandangannya dengan penuh rasa herannya. David menegakkan tubuhnya hingga ia memekik sebab punggungnya terasa begitu nyeri.


"Sakit kan," ucap Cally meledek David yang menolak untuk diobatinya.


Cally menarik tangan David untuk lebih dekat dengan dirinya, kemudian ia memaksa David untuk berbalik dan memunggunginya . Awalnya David menolak, namun Cally terus saja memaksanya hingga ia mau tak mau menurutinya.


"Buka dulu kemejanya," titah Cally.


"Cal, masa iya gue buka disini. Banyak orang tau," canggung David melihat sekelilingnya.


Cally ikut melihat sekelilingnya, ia kini juga merasa malu jika harus melihat David membuka bajunya didepan umum. Cally menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, kemudian ia mengajak David untuk berpindah tempat disudut yang tak banyak orangnya.


"Mau ngajakin gue kemana nih," tanya David yang cengengesan saat tanganya ditarik paksa Cally.


"Diam nggak kak, ikut aja napa."


Cally mendudukann David disebuah kursi disudut, ia membantu David melepas kancing bajunya satu persatu. David tersipu malu saat tangan itu dengan lihainya membuka semua kancing, bahkan melepaskannya dari tubuh kekarnya.


"Diam dulu ya, aku oleskan dulu."


Cally memposisikan dirinya dibelakang tubuh David, jari lentiknya kini dengan perlahan membelai kulit punggung David hingga menimbulkan sensai lain pada tubuh laki-laki itu. Terasa begitu menggelitik juga membuat tubuhnya terasa panas, entahlah namun itu yang kini dirasakan David saat jemari itu menyentuh langsung tubuhnya.


Namun ditengah suasana romantis itu, tiba-tiba saja muncul seseorang yang membuat Cally begitu salah tingkah dibuatnya. Serba salah dihadapan orang yang kini berdiri tegak dihadapannya juga David.


"Benar-benar murahan sekali kelakuannya!"


...‐Terima kasih semua‐...