CallyDaniel

CallyDaniel
75‐Jemari Laisa



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Daniel begitu menikmat harinya, ia tertidur hingga langit berubah warna. Ia yang merasa tubuhnya lebih baik segera turun kebawah mencari sang putri, namun ia tak menemukan siapapun didalam rumah tersebut.


"Kemana semua orang, kenapa rumah begitu sepi," herannya.


Lalu seorang pelayan berjalan didepannya, Daniel memanggil dan bertanya keberadaan semua keluarganya. Dan kini ia teringat jika Vira tengah berada dirumah sakit.


Baru saja ia akan berbalik kembali kekamarnya, teriakan Edo lantas menghentikan dirinya.


"Darimana saja kamu semalaman nggak ada kabar," teriaknya.


Daniel membalik tubuhnya kembali, menatap Edo yang tengah berjalan menghampirinya dengan Sonya disampingnya. Mata Sonya begitu dingin menatap Edo disebelahnya, mata Daniel memicing melihat keanehan pada kedua orang tuanya.


"Kalian dari mana, dimana Meya," tanya Daniel.


"Jawab papa, kemana kamu semalaman tidak ada kabar!"


"Aku ada urusan pah, maaf."


"Kamu tahu apa yang sudah dilakukan mama mu ini saat kita semua tak ada?"


"Apa yang sudah mama lakukan pa," tanya Daniel dengan menatap Sonya.


"Mamamu ini melukai dan hampir membunuh Cally dirumah kita."


"Ralat ucapanmu itu, aku sama sekali tidak melukainya aku hanya tidak sengaja melukai suaminya," seru Sonya tak terima dengan pernyataan suaminya.


"Persetan dengan itu, tapi kamu yang memprovokasi Meya itu adalah tindakan yang tidak bisa termaafkan untukku Sonya," bentak Edo yang berada pada puncak emosinya.


Mata Daniel membulat ketika mendengar jika Sonya masih saja menghasut putrinya dengan kebenciannya, ia tak menyangka jika ucapannya hanya diabaikan oleh mamanya.


"Ja-jadi mama masih mempengaruhi anakku? Kenapa ma, kenapa mama lakuin ini," teriak Daniel begitu tak terima anaknya dihasut.


"Meya masih kecil mah, Meya anakku belum tahu apa-apa! Ini urusan orang dewasa, bisa tidak mama jangan membawa Meya kedalamnya," marah Daniel yang tak habis fikir dengan mamanya.


"Apa salah mama, mama hanya melakukan apa yang harusnya mama lakukan," ucap Sonya tak merasa bersalah.


"Memangnya apa yang harusnya mama lakuin, papa tanya apa yang harus mama lakukan," bentak Edo.


Plakk,


Satu tamparan mendarat dipipi mulus Sonya, Edo benar-benar dibuat geram dengan tindakan istrinya kali ini. Bisa-bisanya ia melibatkan cucunya yang tak tahu apa-apa ini.


"Persetan dengan dendammu itu, tapi jangan pernah libatkan anak-anak didalamnya! Gara-gara kamu anak kecil itu lumpuh dan kehilangan masa kecilnya!"


"Itu adalah apa yang harus ia bayar karena terlahir dari keluarga itu."


"Mama sudah kelewatan, sama sekali tidak ada penyesalan yang mama tunjukan," ucap Daniel yang menahan emosinya sekuat tenaga.


"Untuk apa menyesal, apa yang salah dengan tindakan mama? Mama akan menyesal jika membiarkan mereka hidup dalam damainya," serunya.


"Gila kamu, benar-benar nggak waras! Kamu dibutakan oleh dendam, sadar Sonya jangan sampai terjerumus kelubang yang kamu gali," ucap Edo.


"Begitu berisik! Kalau kalian tidak bisa membantu maka lihat saja apa yang bisa aku lakuin," marah Sonya menatap nyala kedua pria yang ada dihadapannya.


......


...


Laisa kini sudah berada diruang rawatnya, Letta bersama Arga menjaga ditemani Cally juga Daniel bersamanya. Namun pagi ini semua dibuat panik oleh Laisa yang merasa jari-jari kakinya bisa digerakkan.


Arga yang terlampau senang segera menghubungi dokter dan memintanya memeriksa kondisi sang putri. Bagai sebuah keajaiban, kaki Laisa mulai merespon ketika mendapat sebuah rangsangan.


"Selamat ya cantik, kamu pasti bisa jalan lagi," ucap dokter yang tersenyum kearahnya.


"Benar dokter, aku bisa jalan lagi?"


"Benar dong, tapi harus giat terapi ya."


"Iya, Laisa pasti semangat terapinya," begitu girang.


"Apa benar itu dok, putri saya bisa kembali berjalan?"


"Benar tuan, tapi kita harus giat melakukan terapi agar merangsang otot-ototnya."


"Tolong siapkan fisio terapi terbaik agar datang kerumah saya setiap harinya."


"Saya akan mengaturnya, kalau begitu saya pemisi tuan."


"Papa akan lakukan apapun asal kamu bisa kembali ceria nak. Papa tahu selama ini kamu menyembunyikan air mata itu," batin Arga bekaca-kaca.


"Papa, Laisa bisa jalan," girang gadis itu merentangkan tangannya.


Arga mendekap erat tubuh mungil itu, menghujani dengan kecupan juga rasa syukurnya.


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...