
Setelah menitipkan putra juga putrinya pada Orland juga Jesika, Arga segera bergegas bersama beberapa anak buah menuju kantor polisi dimana para penculik itu ditahan. Namun sesampainya disana ia hanya bisa menelan kepahitan, semua penjahat yang telah melukai anak istrinya kini sudah terbujur kaku tak bernyawa.
"Kenapa bisa begini pak," tanya Arga.
"Kami juga belum tahu pasti pak, kami juga sedang menunggu tim medis untuk melakukan pemeriksaan kepada mereka."
"Astagaaa! Kenapa bisa begini," mengusap kasar wajahnya frustasi.
Arga berbalik menatap kepada anak buahnya, dengan tatapan tegas ia mengajak mereka keluar menjauh dari para polisi.
"Ada tugas apa tuan ?"
"Selidiki sampai tuntas kejadian ini, jangan sampai ada yang tahu penyelidikan ini."
"Baik tuan, saya laksanakan."
"Baiklah, kalian bisa pergi sekarang."
"Kami permisi tuan," pamitnya dan membawa para anak buahnya lailnnya pergi.
Di tempat lainnya, kini Cally juga David siap melakukan penerbangannya kembali ke Jakarta. Cally sudah tak sabar ingin kembali bertemu Letta dan memeluk saudaranya itu, terlebih ia ingin melihat sendiri kondisi dari Laisa.
"Istirahatlah, perjalanan kita masih jauh yank," ucap David yang membawa Cally dalam dekapannya.
Cally yang cukup lelah tak butuh waktu lama untuk memejamkan matanya, hanya dalam hitungan menit matanya sudah terlelap dalam pelukan suaminya.
"Sepertinya ini ada hubungannya dengan kamu Cally, tapi aku janji akan selalu melindungi kamu dalam keadaan apapun," gumamnya menciumi kepala istrinya.
Karena kondisi tubuhnya yang memang sudah sangat lelah, kini David menyusul istrinya untuk terlelap dan pulas dalam tidurnya.
Saking lelapnya mereka berdua tertidur, tak terasa kini mereka sudah tiba kembali ke Jakarta disambut dengan langit yang mulai menampakkan sinar mentarinya.
"Lewat sini sayang," gandeng David pada Cally sambil mendorong troli kopernya.
Di dalam mobil, Cally terus saja tak tenang dalam duduknya. David hanya bisa menggenggam tangan istrinya untuk menenangkannya. Pukul 06.00 tepat keduanya tiba didepan rumah sakit dimana Laisa dirawat.
"Kita masuk yank," ajak David menggandeng tangan istrinya.
Saat akan menaiki lift, tanpa sengaja mereka berdua berpapasan dengan Sonya yang baru saja keluar dari lift sebelahnya.
"Tante," panggil Cally.
Sonya begitu terkejut saat ada seseorang yang menyapanya, rasanya ia sudah menyamar dengan sangat rapi tapi masih ada yang mengenalinya. Tapi ia lebih terkejut ketika tahu siapa yang menyapany, siapa yang memanggil dirinya.
"Apa yang ada lakukan sepagi ini disini nyonya Sonya, dengan penampilan seperti ini," menatap Sonya dari atas hingga kebawah.
"Bukan urusan kalian," sinisnya yang lalu pergi meninggalkan Cally David didepan lift.
"Kenapa sama orang itu," bingung David.
"Udah biarin aja, kita kan mau lihat Laisa kesini," ucap Cally yang menarik suaminya masuk kedalam lift.
Setibanya didepan ruang rawat Laisa, keduanya dikejutkan dengan Shaka yang tiba-tiba membuka pintu kamar tersebut.
"Ayah, sister," panggil Shaka.
"Hai nak, mau kemana kamu," tanya David yang berjongkok didepan Shaka.
"Ayah, aku lapar. Mau cari makan dulu," ucap Shaka.
"Kita cari makan yuk nak, biar sister temenin," ucap Cally yang merangkul bahu Shaka.
David menemani Shaka juga Cally menyantap sarapan mereka, sedang matanya menatap sekelilingnya. Tanpa diduga, ia tanpa sengaja melihat seorang laki-laki yang mencurigakan sedang menatap kearah istrinya.
"Sayang, kamu tunggu disini dulu ya," ucap David pada Cally.
"Mau kemana kak?"
"Ayah hati-hati ya," ucap Shaka tiba-tiba tanpa menatap David.
David hanya tersenyum sambil membelai kepala Shaka dengan sayang, David tahu jika Shaka mengetahui sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya.
"Semua pasti baik-baik saja," ucapnya pada Shaka lalu menlangkah meninggalkan keduanya.
"Memang bermasalah," geramnya saat melihat laki-laki itu bergegas pergi ketika ia mencoba mendekatinya.
"Brengsek ! Berhenti," seru David yang belari mengejar laki-laki tersebut.
Keduanya melewati tangga darurat rumah sakit, rasanya kaki laki-laki tersebut sudah sangat lelah namun saat melihat David terus mengejarnya ia hanya bisa terus berlari dan menghindarinya.
"Berhenti!"
"Tangkap gue kalau loe bisa," tantang laki-laki tersebut.
"Loe bakal mati ditangan gue," geram David.