CallyDaniel

CallyDaniel
39—Ketakutan



Daniel yang baru saja turun dari mobilnya begitu berbunga-bunga saat melihat ada Cally yang sedang tersenyum manis, ia bahkan tak melihat ada Letta yang ada disebelahnya. Ia segera berlari dan hendak menyentuh tangan Cally, namun Letta yang ada disampingnya segera menepis tangan itu.


Daniel menatap sinis Letta, ia merasa begitu terganggu dengan Letta yang berdiri disamping Cally saat ini. Cally merasakan permusuhan dari keduanya, ia manatap keduanya secara bergantian.


"Ada apa ini," tanya Cally menatap keduanya.


"Nggak ada kak, cuma gue mau berterima kasih aja sama dokter Daniel yang terhormat ini. Berkat ucapan dia gue jadi koma dan sadar dengan keberanian seperti ini."


Cally menatap sinis Daniel, ada rasa marah saat mengetahui jika ternyata Daniel lah yang telah membuat adiknya ini koma.


"Jadi kamu yang membuat adik saya masuk rumah sakit?"


"Bukan saya Cally, tapi saya hanya mengatakan apa yang harusnya saya katakan saja."


Namun tiba-tiba saja Sonya keluar bersama dengan Vira, ia dengan penuh emosi mendorong tubuh Cally hingga hampir tersungkur jika saja Letta tak menahannya.


"Sudah mama duga, kamu pasti disini karena ada perempuan murahan ini kan."


"Jaga ucapan tante, jangan pernah sekalipun menghina kakak saya ini," menahan emosinya.


"Kenapa, memang benar dia ini murahan kan? Kalau perempuan baik-baik nggak akan menggoda suami orang lain," sinis Sonya.


"Dokter Daniel yang terhormat, taukah anda kenapa saya tidak lagi mengijinkan anda berdekatan dengan kakak saya ini?"


Daniel menatap Letta yang bertanya tanpa menatapnya, tapi menatap sini Sonya yang ada didepannya.


"Karena anda sangat lemah, sangat-sangat lemah!"


"Tutup mulut kamu, jangan hina anak saya."


Letta tak menghiraukan ucapan Sonya padanya. "Lihatlah, didepan anda didepan wajah anda sendiri kakak saya dihina habis-habisan oleh orang tua anda. Tapi anda apa, cuma diam!"


"Bukan begitu Letta," ucap Daniel.


"Bukan bagaimana lagi. Atau inikah cinta yang dokter maksudkan untuk kakak saya, kalau memang iya saya adalah orang pertama yang menentang cinta itu."


"Letta cukup kita pergi sekarang," ajak Cally.


"Apa-apaan kamu Daniel."


"Ada apa ini," seru David yang tiba-tiba saja datang berjalan menghampirinya.


"Kak David," panggil Letta.


David berdiri disamping Cally, menarik Letta untuk berdiri dibelakang tubuhnya. Kini mata tajam David menatap Daniel juga kedua wanita didepannya.


"Ada apa ini, " tanya David lagi yang kini menatap tajam Daniel.


"Bukan urusan loe," sinis Daniel.


"Ada adik juga istri saya, anda bilang bukan urusan saya?"


Daniel mengepalkan tangannya, ia benar-benar tak terima dan marah saat ada orang lain yang menyebut Cally adalah istrinya.


"Kak kita pergi aja yuk, " ajak Cally sambil memeluk lengan David.


David menganggukkan kepalanya, kini sebelah tanganya dipeluk oleh Cally dan satu tangannya lagi menggandeng tangan Letta disampingnya. Namun baru saja beberapa langkah, Daniel berhenti dan menolehkan kepalanya.


"Perlu anda ketahui dokter Daniel, saat ini kami sedang menyelidiki kematian nyonya Arum."


Tubuh Daniel tiba-tiba saja kehilangan kendalinya hingga akan terjatuh, namun beruntung Vira menahan tubuhnya.


"Ada apa Niel," tanya Sonya.


"Nggak ada apa-apa mah. Maaf mah, aku harus segera ke rumah sakit sekarang."


Tanpa menunggu jawaban Sonya, Daniel segera melesat meninggalkan kedua wanita tersebut dan buru-buru datang ke rumah sakitnya.


"Ada apa ini, kenapa ketika pak David bicara begitu Daniel jadi ketakutan ya," batin Vira curiga.


"Gue harus cari tahu ini."