CallyDaniel

CallyDaniel
79 ‐ Penculikan 2



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Sonya sudah menyiapkan perangkapnya, ia dengan semua persiapannya juga rencananya mengutus para anak buahnya. Namun ternyata ia masih belum mengetahui bagaimana Shaka mampu bertindak.


"Pak sebaiknya antar adik-adik kesekolah dulu aja ya."


"Tapi nanti kita harus putar balik dan aden bisa terlambat," kata supirnya


"Gpp pak, saya punya firasat kalau akan ada hal buruk."


Dan benar saja, belum juga Shaka menutup rapat mulutnya sudah ada sebuah mobil yang menghadang mobil miliknya.


"Aduh, mulut kak Shaka ini memang membawa berkah ya," sindir Olla sambil membersihkan jam tangan miliknya.


Sedang dirumahnya, baru saja semua orang akan melahap sarapannya terdengar suara dering ponsel milik Arga.


"Astaga bocah ini," seru Arga melihat siapa yang menghubunginya.


"Udah angkat aja Ga, siapa tahu anakku itu butuh sesuatu dari papanya," seru Orland melahap nasi gorengnya.


"Halo papaku sayang."


"Hmm ada apa, belum juga satu jam pergi dari rumah."


"Makanya itu pa, belum juga satu jam kan tapi udah ada yang mau nyulik kita semua ini," santainya berbicara pada Arga dengan gaya centilnya.


Arga berdiri dan menggebrak meja miliknya, semua orang terkejut bahkan Orland tersedak oleh makanannya.


"Kamu dimana," tanya Arga panik.


"Tentu saja papa pikir dulu, belum satu jam berarti kita dimana."


"Dimana ya," panik Arga berfikir.


"Belum satu jam, kira-kira mobil anak-anak sampai mana ya," tanya Arga pada yang lainnya.


"Jalan LL, jalan yang sepi itu bukan," tebak Cally.


"Dasar bocah edan, kalian ikut gue. Mobil anak-anak dihadang, ikuti gue."


Arga bersama yang lainnya segera meluncur menjemput anak-anak yang sedang dalam bahaya itu.


Disisi lain, anak buah Sonya sudah mulai merusak mobil milik Arga. Memaksa mereka semua untuk keluar dari dalam mobil.


"Kaka takut," ucap Mira juga Olla. Sedangkan Laisa terlihat biasa saja bahkan menatap mereka satu persatu.


"Kalian semua tunggu disini, mereka cuma ingin kau saja," ucap Laisa tiba-tiba.


"Nggak! Jangan tinggalin kakak," panik Shaka memegangi tangan sang adik.


Prang!


Kaca berhasil dipecahkan, supir pingsan dihajarnya. Para penculik itu kini memaksa para anak-anak turun dan mengikutinya.


"Turun kalian semua," teriaknya.


"Pelan, kaki adikku sakit," bentak Shaka saat melihat Laisa adiknya ditarik paksa.


Plak!


"Jangan pukul kakaku," teriak Laisa menatap geram laki-laki yang melukai kakaknya.


"Diam atau gue pukul juga nih," ancamnya.


"Pukul saja kalau kalian ingin kehilangan tangan itu," ancam Shaka dengan tatapan mematikannya, bahkan tatapan itu mengintimidasi para penculik hingga tak berani banyak bertingkah.


"Terlalu merepotkan jika kalian membawa kami semua, lepaskan mereka dan bawa aku seorang," seru Laisa yang masih terdiam ditempatnya.


Shaka berbalik kebelakang mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya, para penculik itu tersenyum seakan pekerjaannya sudah akan selesai.


"Nggak! Lepaskan adikku," berontak Shaka saat tubuh Laisa mulai ditarik pergi.


"Laisa berhenti, jangan bawa Laisa," teriak Olla juga Mira bersamaan.


"Aku nggak mau saudaraku mengalami hal yang sama denganku, maka biarkan aku yang sudah berada di dalamnya kembali kesana," ucap Laisa dengan penuh senyumannya.


"Nggak! lepasin adiku," teriak Shaka memberontak saat tubuh adiknya dibawa pergi oleh mereka.


"Adik, adik tunggu. Lepasin adikku."


Sayangnya mobil semakin menjauh, semakin pergi membawa Laisa entah kemana tujuannya. Bahkan bayangan mobil itu juga tak mampu terlihat kembali, pergi dengan angin.


"Hanya kematian hukuman yang pantas untuk kalian yang menyakiti adikku!"


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...