
Arga segera membawa Letta kerumah sakit, mereka menunggu dengan cemas hasil dari pemeriksaan Letta. "Bagaimana dok," tanya Arga yang melihat seorang dokter keluar.
Raut wajah dokter nampak sendu membuat Arga cemas seketika. Arga menggoncang lengan dokter, ia kembali mempertanyakan tentang bagaimana kondisi istrinya saat ini.
"Katakan dok, gimana kondisi istri saya sekarang."
"Maafkan saya pak, tapi istri anda saat ini dalam keadaan koma," sesal dokter tersebut.
"Jangan bercanda dok, istri saya baik-baik saja sebelumnya. Kenapa sekarang bisa koma?"
"Maafkan saya pak, tapi inilah kondisi yang sebenarnya."
Arga begitu lemas mendengar kondisi istrinya saat ini, rasanya ia tak sanggup melihat Letta dalam keadaan seperti ini lagi.
Cally tak menyangka dengan apa yang terjadi dengan Letta saat ini, hatinya hancur kehilangan Arum dan kini ditambah lagi dengan kondisi Letta yang tiba-tiba koma.
"Cally," seru David yang terkejut saat tiba-tiba tubuh Cally lemah dan terjatuh.
David segera membopong tubuh Cally diikuti oleh Olla juga Mira. Sedang yang lainnya kini menanti Letta keluar untuk dipindahkan ke ruang rawat.
.....
...
Singapore,
Hari ini Orland juga Jesika tengah bersiap untuk kembali ke Indonesia, keduanya menyesal sebab tak bisa mengikuti proses pemakaman Arum sebeb mereka tak mendapat tiket pesawat.
"Ayo Jes," teriak Orland dari lantai bawah.
"Sabar kak," jawabnya turun dari anak tangga dengan membawa tas tangannya.
"Itu tas kamu?"
"Bukan, ini tas milik Olla. Semua pakaian anak kamu ini."
Tak ingin membuang waktu, keduanya bergegas menuju bandara. Rasanya tak sabar untuk segera kembali ke tanah kelahirannya, negara dimana ada sejuta kenangan disana.
Setelah beberapa lama berada didalam pesawat, kini keduanya tiba dikota kelahirannya. Kota Jakarta.
"Mau makan dulu apa langsung pulang," tanya Orland menggandeng tangan Jesika dengan erat.
"Langsung pulang aja ya kak, aku khawatir sama keadaan semuanya."
Mobil yang bertugas menjemputnya keduanya sudah tiba, Orland berhati-hati saat membantu istrinya masuk kedalam mobil. Begitu gantle saat dirinya dengan halus memperlakukan istrinya.
"Makasih kak," ucap Jesika. Orland hanya tersenyum menanggapi istri yang begitu digilainya itu.
"Kita masuk aja dulu, kita cari tahu keadaannya."
Baru saja kakinya melangkah memasuki rumah, Jesika juga Orland sudah disambut oleh pelayan rumahnya.
"Selamat datang nona, tuan Orland."
"Bi, kemana semua orang ini," tanya Jesika pda pelayan rumahnya.
"Semuanya tadi pergi ke pemakaman non, tapi nggak tahu kenapa belum pulang-pulang juga."
"Biar aku telp papa dulu Jes."
Setelah selesai bercengkrama dengan Reno lewat telpon, Orland segera membawa istrinya kembali kedalam mobilnya. Segera setelah keduanya masuk kedalam mobil, supir segera melajukan mobil sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Orland.
Jesika hanya terbengong saat tubuhnya digandeng masuk oleh suaminya masuk kedalam rumah sakit. Namun matanya langsung berkaca-kaca saat melihat kedua orang tuanya tengah berdiri didepan ruang rawat.
"Mama, papa," teriak Jesika yang berlari menghampiri kedua orang tuanya.
"Ma, ada apa ini? Kenapa kalian ada dirumah sakit," tanyanya.
Elena menceritakan semua yang terjadi pada Jesika, bahkan tentang keadaan Letta yang saat ini koma.
Dirumah Daniel,
Kini Vina tengah duduk sendirian meratapi nasibnya juga luka yang tak kunjung hilang diwajahnya. Ia begitu kesal dibuatnya, gara-gara lebam diwajahnya ia tak bisa keluar dari dalam rumah.
"Vina, mama pulang loh," seru Sonya mencari menantunya. Edo memberikan isyarat pada istrinya jika ia akan menidurkan Meya terlebih dahulu dikamarnya.
"Mama," rengek Vina saat melihat Sonya berada didepanya.
Mata Sonya membulat melihat luka lebam yang tengah menghiasi wajah cantik Vina. "Dimana suami kamu itu," tanyanya penuh emosi.
Vina menggelengkan kepalanya, Sonya membawa menantunya itu kedalam dekapannya. "Ini gara-gara Daniel bertemu dengan mantan pacarnya mah dibelakang aku."
"Kurang ajar! Perempuan itu berani sekali menggoda anakku lagi, aku harus memberinya pelajaran."
.
.
.
...‐Terima kasih untuk semua dukungan juga kritikannya, dan maaf jika novel ini tidak berkenan dihati kalian. ‐
...