
Kini David bimbang, kemanakah dia akan membawa Cally dalam keadaan seperti ini. Tak mungkin pulang, namun ia juga tak tahu harus membawanya kemana. Satu-satunya tempat yang ia pikirkan adalah puncak bulan.
Puncak bulan sendiri adalah perbukitan sejuk dimana sering ia datangi disaat suasana hatinya benar-benar kacau. Dan kini mobil itu melaju dengan kencang menuju tempat tersebut.
Cally yang lelah tertidur selama diperjalanan, David hanya tersenyum saat memandangi wajah lelap yang ada disebelahnya. Jantungnya kembali berdegub kencang saat mengingat kejadian tadi, saat Cally menyebut dirinya adalah nyonya David.
"Ada apa lagi ini sama jantungu gue, jangan-jangan gue kena serangan jantung dini lagi," gumam David memegangi dadanya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, kini keduanya telah sampai ditempat tujuannya. David menatap Cally yang masih saja terlelap dalam tidurnya, ia sungguh tak tega jika harus membangunkannya.
Namun Cally menggeliat dan terbangun dengan sendirinya, suasana begitu canggung hingga Cally melemparkan sebuah pertanyaan," Ini dimana kak?"
"Ini namanya puncak bulan, gue sering kesini kalau lagi kacau banget."
"Terus kita ngapain kesini, apa loe lagi kacau lagi," tanya Cally yang masih belum faham.
David hanya tersenyum sekilas sambil memandangi wajah Cally yang imut menurutnya. Kemudian ia berkata sambil memegang tangan Cally," Buka gue, tapi loe yang perlu mencerna semua pikiran loe."
"Aku baik-baik saja kok," kilahnya.
"Nggak usah bohong, loe pasti kaget kan ketemu Daniel hari ini. Apalagi ketemu dengan suasana macam tadi," ucap David membuat Cally terdiam menahan air matanya.
David mengerti sedikit banyak apa yang dirasakan Cally saat ini, itulah tujuannya membawa serta dia kesini agar semua hal yang dipendamnya bisa disampaikannya tanpa harus melukai siappun.
David membawa Cally kedalam pelukannya, dekap hangat serta lembutnya sikap David membuat Cally merasa begitu nyaman. David membelai rambut hingga punggung Cally dengan begitu nyaman sambil berkata," Kalau mau nangis gpp nangis aja, keluarin semuanya jangan ada lagi yang dipendam."
Hati Cally menghangat, ia menangis dalam pelukan David yang begitu mengertinya. Ucapan David membuatnya merasa bahwa kini telah ada yang mengerti dirinya, mengerti sakitnya semua hal yang telah lama dipendamnya.
David hanya bisa terdiam sambil terus menepuk punggung Cally, hatinya begitu terasa sedih saat mendengar jerit pilu tangis Cally.
Lama ia menangis hingga merasa tenang, Cally menjauhkan tubuhnya dari David. Kemeja yang digunakannya basah oleh air mata, membuat Cally klabakan merasa begitu bersalah.
"Aduh kak, maaf ya gara-gara gue bajunya basah," menyentuh kemeja David yang basah oleh air matanya.
"Haha, gpp. Asal kamu udah tenang itu nggak masalah, tapi ini kena ingus juga ya," candanya membuat Cally menebikkan bibirnya.
David mengajak Cally keluar, keduanya berjalan menaiki sebuah bukit yang cukup tinggi dari tempatnya. Sedikit lelah, namun tangannya yang terus digenggam erat David membuatnya terus bersemangat hingga mengalahkan rasa lelahnya.
David menarik tangan Cally agar ikut duduk disampingnya, keduanya kini saling menikmati suasana dingin nan sejuk yang tengah disajikan alam didepan matanya. Udara yang begitu sejuk bahkan membuat Cally lupa dengan semua rasa sedihnya.
"Gimana," tanya David.
"Bagus banget, disini bikin gue tenang kak," mengagumi semua keindahan yang dilihatnya.
David terus memandangi wajah Cally yang begitu tersihir oleh alam didepan matanya. Tanganya menyentuh tangan Cally, pandangan keduanya saling bertemu satu sama lainnya. David tersenyum, jarak keduanya semakin dekat hingga tak ada celah sedikitpun diantara mereka.
Entah siapa yang memulai, kini keduanya tengah saling memagut begitu mesranya. Semilir angin menjadi saksi atas kegiatan kedua sejoli yang tengah dibutakan suasana. David yang sudah lama tak menyentuh lawan jenisnya kini sedikit bersemangat saat bersama dengan Cally. Sedang Cally yang terlena dengan lembutnyan sentuhan David hanya bisa menikmati tanpa penolakan sedikitpun.
........
Daniel menyeret tubuh Vira masuk kedalam kamarnya, dilemparnya tubuh Vira hingga tersungkur diatas ranjang keduanya.
"Awww," pekik Vira saat tubuhnya mendarat diatas ranjang.
Daniel menjambak rambutnya dengan begitu frustasi, rasa marahnya terhadap Vira juga David membuat Daniel begitu dibutakan amarah. Vira bangkit dari ranjang dan berjalan menghampiri suaminya.
"Kamu berlaku kasar hanya demi wanita itu," tanyanya dengan nada mengejek.
Daniel menajamkan matanya menatap Vira yang berdiri dihadapannya.
"Kamu dengar sendiri tadi bukan, dia sudah menikah. Bahkan suaminya itu teman kamu juga kan, jadi-
"Diam atau aku akan bikin kamu selamanya diam," David yang murka mencekik leher Vira saat istrinya itu tengah berbicara.
Vira begitu ketakutan melihat sorot mata membunuh suaminya, selama pernikahan ini adalah kali pertama ia melihat Daniel begitu kesetanan.
"Apa, mau pukul aku? Pukul aja aku nggak takut."
Plakkk..
...‐Terima kasih dan terus dukung kami‐...