CallyDaniel

CallyDaniel
33—Koma



Selama proses pemakaman Cally hanya bisa menangis dalam pelukan David, tak ada yang bisa ia lakukan selain menangisi tubuh mommy nya yang sudah tertutup dengan tanah. "Mommy, maafin Cally."


David hanya bisa memberikan suport untuk wanita yang kini dipeluknya, ingin rasanya ia menghapuskan semua kesedihan yang dirasa wanita tersebut. Namun apa daya jika kini hanya support yang Cally butuhkan untuk tetap bertahan.


"Ikhlaskan mommy," seru David membelai rambut Cally dengan sayang.


Cally mengeratkan pelukannya, mencari kenyamanan untuk dirinya saat ini. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini, kepergian Arum benar-benar menjadi pukulan paling berat untuknya.


"Mommy.."


Namun dari kejauhan ada sepasang mata yang terus saja mengawasi proses pemakaman tersebut. Tak ada nyali untuknya mendekat hingga ia hanya bisa memandangi dari kejauhan, rasa penyesalannya sungguh menyakiti dirinya.


Daniel tak hanya mengawasi proses pemakaman tersebut, ia juga mengawasi David yang dengan nyamannya memeluk tubuh wanita yang dicintainya. Darahnya mendidih melihat tangan laki-laki lain tengah merengkuh mesra pinggang milik Cally, ingin sekali ia mematahkan tangan tersebut hingga tak berbentuk.


"Kurang ajar loe, gue nggak akan tinggal diam dengan apa yang udah loe lakuin ke gue."


Namun tiba-tiba semua orang mulai meninggalkan makam hingga membuatnya segera bersembunyi kembali. Satu persatu pelayat mulai berhamburan, bahkan Cally juga sudah pergi bersama dengan David juga yang lainnya.


"Akhirnya kita bertemu lagi, Arletta Ferrour!"


Letta yang sedang melangkahkan kakinya tersentak ketika ada seseorang yang menyebut namanya, bahkan nama lengkap miliknya. Mata indah itu dengan tajam menatap laki-laki yang sedang menatapnya juga, seketika itu ada amarah yang juga Letta rasakan mengalir dalam dirinya.


"Lama tidak bertemu dokter Daniel yang terhormat," balas Letta cukup sinis dengan nadanya.


"Lama tidak bertemu ternyata membuat anda lebih berani lagi dengan orang ya nyonya Arga."


"Untuk apa saya takut jika saya tidak ada rasa bersalah terhadap anda."


Daniel tersenyum sinis menatap Letta yang sudah membuatnya teringat akan kesalahn wanita didepannya itu. "Tidak ada rasa bersalah anda bilang?"


"Anda telah memisahkan saya dengan wanita yang paling saya cintai, bahkan anda juga menutup semua akses saya untuk bisa menghubunginya!"


"Hhh, jangan ngawur kalau ngomong. Bukankah anda sendiri yang membiarkan saudari saya dihina habis-habisan oleh mama anda yang terhormat."


Daniel mengepalkan tangannya mendengar apa yang dibaru saja Letta ucapkan, ingin sekali ia menghajar wajahnya jika saja tak mengingat jika itu adalah wanita. "Kenapa, marah? Mau pukul saya, ini pukul saya."


"Beruntung saya membiarkan anda dulu mati dalam kecelakaan tersebut, tapi sayang bukan anda yang mati."


Tiba-tiba saja tubuh Letta menegang saat diingatkan kembali dengan keadaannya didalam mobil yang sedang terbalik tersebut. Ingatannya seolah memutar kembali detail kejadian kecelakaan yang dialaminya, hingga tiba-tiba langkahnya gontai memundurkan dirinya menjauhb dari Daniel yang sedang tersenyum sinis padanya.


"Nggak, nggak."


Mata Letta memanas mendengar dirinya disebut dengan pembunuh, semuanya samar dan perlahan depresi Letta kembali lagi.


"Nggak, gue nggak mengebunuh kak Runi, nggak!"


"Loe udah tega ngebunuh Seruni dan membiarkan dia sendirian tidur tertimbun ditanah," dengan kejamnya Daniel berucap dengan jahatnya terhadap Letta.


Arga yang membantu keluarganya kembali kemobil baru tersadar jika istrinya tak ada bersamanya, ia yang panik segera menolehkan kepalanya kekiri ke kanan.


"Ada apa Ga," tanya Reno yang membuat David juga menoleh padanya.


"Letta pah, dimana istri aku ini."


Kini semua orang juga menatapnya penuh kekhawatiran, mereka semua mencari keberadaan Letta yang tak bersama dengannya. Cally juga ikut panik setelah mengetahui tak ada Letta bersamanya.


"Ga, kita pencar cari Letta gimana," ucap Cally yang panik.


"Mamaaaaa.." teriak Laisa yang sudah lebih dulu berlari mencari mamanya.


Laisa begitu khawatir memisahkan diri dari keluarganya dan berlari mencari mamanya kedalam pemakaman. Dan betapa terkejutnya bocah itu saat melihat mamanya tengah histeris dengan seorang laki-laki yang ada didepannya.


"Jangan ganggu mama aku," teriak Laisa menghampiri Letta yang sudah sangat pucat wajahnya.


"Om jahat! Pergi kamu dari sini, jangan ganggu mama aku," teriak Laisa pada Daniel yang didepannya tengah tersenyum.


"Papa, papa. Papa tolong ada orang jahat," teriak Laisa membuat Daniel ketakutan hingga akhirnya memilih untuk pergi.


Arga samar-samar mendengar suara teriakan putrinya, ia berlari menuju arah dari suara Laisa berasal. Matanya membulat saat melihat Laisa tengah memangku kepala Letta yang terlihat tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi nak."


"Pah tadi ada om jahat yang ganggu mamah sampai gini."


Arga membawa Letta kerumah sakit yang tak jauh darisana, dan semua orang begitu terkejut saat dokter menyatakan jika Letta kini koma.


...‐Jangan lupa like favoritkan juga komennya‐


...