CallyDaniel

CallyDaniel
44—Honeymoon



Pagi buta Cally sudah terbangun dan bersiap dengan semua barang bawaannya, Daniel segera bangkit dan memeluk tubuh ramping itu dari belakang.


"Pagi kak David," sapa Cally saat merasakan tangan kekar melingkari pinggangnya.


"Pagi istri cantikku," balas David sambil menikmati harum ceruk leher istrinya.


"Geli kak," respon Cally menggeliatkan tubuhnya.


"Rasanya aku udah nggak sabar menikmati malam kita," bisik David sensual yang membuat Cally merasakan hawa panas menggalir disekujur tubuhnya.


David tersenyum lebar saat berhasil menjahili Cally yang kini tersipu malu dengan wajah yang sangat merah merona. Tak bertanggung jawab, David justru melesat masuk kedalam kamar mandi dengan tawa renyahnya.


"Suami ngeselin," gerutu Cally sambil kembalil memoleh diri.


Kini semua tengah berkumpul dihalaman depan, mengantarkan kepergian David Cally yang bersiap pergi berbulan madu. Ada rasa sedih saat melihat Mira berkaca-kaca menatap ayahnya, ini adalah perpisahan pertama bagi Mira dengan David sebab semenjak kepergian Seruni David tak pernah meninggalkan putrinya lebih dari sehari.


"Sayang, ayah sama mami pergi dulu ya. Anak cantik nggak boleh nakal," ucap David yang kini tengah berjongkok didepan putrinya.


Mira hanya menganggukan kepalanya, menahan air mata yang tak ingin dikeluarkannya. Berusaha tegar namun Mira tak mampu menahan air matanya. David membawa putrinya kedalam pelukannya, menghujaninya dengan ciuman kasih sayang.


"Jangan lupain Mira ya ayah," serunya berderai air mata.


David berkaca-kaca mendengar apa yang diucapkan putrinya, tak mengka kalimat sederhana itu keluar dari mulut manisnya.


"Mira sayang, mami sama ayah nggak akan pernah lupain kamu nak," sambung Cally yang ikut berjongkok disamping suaminya.


Semua orang tersentuh dengan reaksi yang ditunjukkan Mira, reaksi yang sama sekali tak pernah ada dalam bayangan mereka.


Mobil mulai melaju menjauh dari rumah, menyisakan Mira yang kini tengah menangis tersedu-sedu dalam gendongan Arga.


.....


...


Daniel benar-benar tak bisa memejamkan matanya, bayangan pernikahan Cally selalu berputar dalam ingatannya. Jika matanya terpejam, maka ia akan terbayangkan wanita yang dicintainya tengah tertidur pulas dalam dekapan laki-laki lain dan bukan dirinya.


Malam bergati begitu lamban bagi Daniel, tak seperti biasanya yang sangat cepat pergantiannya. Mata itu kini mulai lelah terjaga dalam gelapnya malam namun juga enggan terpejam menikmati malam.


Pagi yang ditunggu akhirnya tiba, jarum jam kini menunjuk pada arah angka 5. Segera membersihkan dirinya dan berpakaian dengan santai membawa jaket kulit kesayangannya. Keluar dari rumah tanpa satupun orang yang melihatnya membuat Daniel sedikit bernafas lega.


Jarak rumah keduanya yang sangat jauh membuat Daniel harus menempuhnya lebih lama, bahkan hingga mentari menunjukkan sedikit uluran cahayanya mobil itu tak kunjung sampai ditujuannya.


Kemarahan yang ada didalam hatinya membutakan semua akal fikirnya, dengan kecepatan penuh ia melajukan mobilnya dan bahkan ia menerobos lampu merah hanya agar dirinya segera sampai dirumah Arga.


Semua orang sudah pergi menuju pekerjaannya masing-masing, sedang Elena juga Jesika berencana mengunjungi cafe milik Letta yang sudah beberapa bulan tak dikunjungi pemiliknya. Tersisalah Letta bersama Olla dirumah, sedang ketiga bocah lainnya sudah pergi juga kesekolah.


"Hey bocah pengangguran,"panggil Letta.


"Oh no, mama Letta stop ya manggil aku begitu. Aku cuma belum dapat sekolah aja," protes Olla.


"Sama aja kan, sekarang dirumah dan nggak ngapa-ngapain."


"Mama Letta ini namanya mengistirahatkan tubuh aku yang lelah sebelum dunia nyata aku jalani."


"Halah bocah ini pinter banget ngomongnya, persis banget sama bapaknya."


"Bukan bapak, aku manggil mereka itu pupu sama bubu," menggoyangkan jarinya didepan Letta.


Daniel tiba didepan rumah Arga, namun saat seorang satpa membuka pintu pagar Daniel langsung menerobos masuk dengan mobilnya. Kini tujuan Daniel hanya satu yaitu bertemu dengan Cally wanita yang sangat dicintainya.


"Cally, Cally keluar," teriak Daniel yang langsung masuk kedalam rumah.


"Mama Letta, ada yang teriak-teriak," bisik Olla.


Letta juga mendengar dan ia tahu suara siapa yang kini bertamu dirumahnya. "Olla kamu disini aja ya, biar mama lihat dulu."


"Nggak mau ih, nanti kalau aku diculik gimana dong mah."


"Astaga bocah ini," ucap Letta menepuk dahinya.


"Cally tolong keluar," teriaknya lagi.


"Cally sudah pergi."


"Arletta Ferrour," geram Daniel mengepalkan kedua tangannya.


...‐Terima kasih semua atas dukungannya‐...