CallyDaniel

CallyDaniel
22—Mungkin suka?



Daniel begitu murka saat mendengar apa yang disampaikan oleh orang suruhannya, bahkan ingin rasanya ia menghabisi dengan tangannya sendiri.


Daniel memang meminta seseorang untuk menyelidiki semua informasi tentang Cally selama ini, dan itu sama sekali tak membuahkan hasil apapun. Namun beberapa minggu yang lalu ada seorang anak buahnya yang menemukan beberapa informasi tentang Cally.


Namun sayangnya saat semua laporan itu dikirim ke rumah, Vira lah yang menerima paket tersebut. Dengan jelas tertulisa nama Daniel juga keterangan untuk tak membukanya, namun Vira yang penasaran pada akhirnya membuka surat tersebut.


"Kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana," seru Vira pada suruhahan Daniel.


Tangan Vira bergetar saat tau apa yang ada didalam kotak untuk suaminya, semua foto-foto terbaru Cally alamat dan bahkan semua hal yang selama ini dilakukan oleh Cally diluar negeri. Wajah Vira merah padam menahan amarahnya, dibakarnya semua isi dalam paket tersebut dengan penuh amarah kebencian.


"Nyonya," serunya ingin mencegah, namun tatapan tajam mata Vira mengurungkan niatnya.


Vira membakar habis semua isi beserta kotak paket tersebut, wajahnya yang mara kini berangsur kembali dengan senyuman. Lalu ia berbalik menatap laki-laki yang memberinya paket sambil berkata," Saya tau kamu suruhan suami saya, tapi saya mau kamu diam dan rahasiakan semua hal yang kamu tau atau nyawa keluarga kamu taruhannya."


Laki-laki itu tak menjawab ataupun bereaksi dengan apa yang diucapkan oleh Vira, ia pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Vira berteriak histeris saat itu, membuat orang suruhahan Daniel begitu ngeri menatap istri tuannya.


Dan saat Daniel menagih laporan padanya, ia hanya bisa menceritakan semua hal yang dialaminya sewaktu mengantarkan semua hasil laporan yang selama ini dicarinya.


Daniel tak habis fikir, mengapa Vira begitu ikut campur atas apa yang selalu ia kerjakan padahal ia sama sekali tak pernah mengusik semua kegiatannya. Daniel memnghubungi salah satu anak buahnya, ia memintanya untuk memberi istrinya itu pelajaran agar tak lagi mencampuri urusannya.


Daniel yang frustasi hanyan bisa merebahakan dirinya pada sofa rungannya. Tak ada yang dapat ia lakukan lagi untuk mengembalikan semua data yang telah lama dinantinya, hanya bisa menahan amarahnya agar tak menyakiti putri kesayangannya.


........


Tengah malam yang dingin, Cally yang tak bisa memejamkan matanya memilih keluar dan duduk ditaman belakang. Fikirannya melayang, merindukan mommynya namun rencananya harus gagal saat mommynya menolak kedatangannya.


Hatinya begitu sakit saat Arum masih saja menganggap dirinyalah penyebab Alfon meninggal. Namun ia juga tak bisa menyalahkan itu semua, kini hanya air mata yang mampu Cally tumpahkan untuk membuat hatinya sedikit merasa lega.


Tak disangka ternyata David juga terbangun dari tidurnya, laki-laki itu hendak kembali kekamar sehabis mengambil minumannya. Melihat Cally duduk sendirian timbul niat bagi David untuk duduk menghampirinya.


"Aduh, sendirian aja neng," canda David duduk disebelah Cally.


"Dih jayus deh kak David ini," cemberut Cally.


"Ada apa. Kenapa belum tidur, udah jam 2 pagi loh," tanya penuh perhatian.


"Perhatian sama calon sendiri apa salahnya," canda David yang membuat Cally melonggo dengan senyumannya.


"Apa, apa apa. Kenapa tuh senyum-senyum bibirnya?"


Cally hanya memalingkan wajahnya yang tersipu malu mendengar apa yang baru saja David serukan. Walaupun Cally tahu hanya candaan, namun entah mengapa dadanya berdetak tak karuan hingga wajahnya serasa memanas.


"Kenapa, mau cerita? Siapa tahu bisa bikin lega," tawar David.


Wajah malu itu kini berubah menjadi sendu, David menangkap perubahan itu hingga tanpa sadar ia menggenggam tangan Cally. Sejenka Cally melihat tangannya yang digenggap, kemudian menatap tangan laki-laki yang menggenggamnya.


"Mommy masih saja menyalahkanku kak atas kematian daddy," sedihnya menahan air matanya.


"Nangis aja, ada bahu aku yang disiap jadi sandaran kamu."


Entahlah, Cally dengan begitu saja menyandarkan kepalanya di bahu David. Bibirnya mulai berujar semua keluh kesah yang terasa didalam hatinya. Sakit hatinya atas penolakan mommy nya sendiri hingga semua hal yang terjadi juga semua penyesalannya.


"Aku tahu apa yang kamu rasain, kata-kata apapun nggak akan bisa melegakan hati kamu," seru David membelai kepala Cally.


"Aku nggak tau lagi harus gimana menghadapi mommy kak, bahkan udah bertahun-tahun mommy masih belum menerima aku lagi."


"Pelan-pelan, aku bakal bantu kamu untuk bikin mommy kamu balik lagi," janji David.


Cally tak menyahutinya, ia merasa begitu nyaman berada dalam sandaran David hingga tanpa sengaja matanya terpejam dan tertidur. David tersenyum tipis sambil membelai wajah manis Cally, ada rasa lucu juga geli menatap wajah damai Cally.


David dengan perlahan menggendong tubuh Cally menuju kamarnya, ada guratan senang yang tersirat dalam wajah David. Entah cinta atau hanya rasa suka sesaat layaknya orang yang baru mengenal cinta.


"Aww."


...‐Terima kasih, jangan lupa terus dukung kami ya‐...


...‐♨️.Jangan lupa like komen vote juga favoritnya ..♨️‐...