
Cally merasakan sakit didadanya, fikirannya entah mengapa penuh dengan bayangan Letta yang tengah kesakitan. Tak tahu apa yang sedang terjadi, namun yang Cally inginkan saat ini hanya pulang dan memastikan kondisi Arletta.
"Aku mau pulang kak," pintanya dengan pandangan kosongnya.
"Ada apa? Katakan dulu, kapal juga baru berlayar jadi mana mungkin bisa kita kembali sayang," jelas David membawa istrinya duduk dipinggiran kapal.
"Tapi perasaan aku sungguh nggak enak kak, aku takut sesuatu buruk terjadi sama Letta."
"Kakak tahu, kita cari waktu dulu ya. Kalau udah ada sinyal pasti akan ada pengumunan dari pihak kapalnya, nanti kita hubungin Letta"
Cally hanya bisa menganggukan kepalanya, apa yang diucapkan suaminya memanglah benar. Kapal baru saja berlayar, banyak penumpang yang juga ikut berlayar didalamnya jadi tak mungkin ia egois dan meminta kapal memutar balik arahnya.
Malam telah tiba, keindahan kapal mulai terlihat dengan banyak kilauan lampu yang terpasang dengan rapi diawak kapal. Mulia dari lampu pijar kecil hingga lampu dengan sorot paling terang yang mengarah pada lautan.
"Gimana perasaannya sayang," David datang memeluk tubuh Cally sambil menikmati harum ceruk leher istrinya.
"Baik kok, maaf ya tadi bikin kakak kaget."
"Ehm, tapi lain kali jangan gitu ya. Menganggu kegiatan panas kita," bisiknya dengan mesra sambil dengan usil meniupkan nafas tepat ditelinga Cally.
"Jangan nakal ya," berbalik menatap David yang tengah tersenyum dengan lebarnya.
David memainkan sebelah matanya, mencoba menggoda Cally yang tak paham dengan maksdu dan keinginan suaminya. "Apa?"
"Minta jatah yang gagal tadi," bisiknya perlahan. Cally tak dapat menahan senyumannya, wajahnya juga semakin merah menahan gejolak dalam dirinya.
"Kita makan dulu ya, aku nggak mau istri aku pingsan ditengah permainan."
David melenggang pergi menuju meja bar yang sudah disediakan, disana berisi beragam masakan dari setiap penjuru negara. Tangannya hampir menyentuh piring sebelum sebuah suara memanggilnya.
"David," panggil seseorang yang membuat David memutar tubuhnya.
"Tami," sapa David saat seorang wanita berdiri tepat dihadapannya.
Tami adalah teman kuliah sekaligus rekan kerja David sejak dulu, dan satu hal yang jelas David sadari adalah jika Tami sampai detik ini masih menaruh rasa spesial untuk dirinya. Tami begitu terluka saat mendengar kabar David menikahi Seruni, ia memutuskan untuk pergi ke London.
"Apa kabar Vid," senang sekali Tami yang kembali bertemu dengan pujaan hatinya.
"Baik, kamu sendiri gimana? Lama nggak ketemu juga," sangat ramah hingga Tami merasa jika David begitu perhatian kepadanya.
Cally merasa suaminya sudah sangat lama meninggalkan dirinya hanya untuk mengambil makan malam. Dengan sangat anggunya ia berjalan mencoba mencari keberadaan suaminya. Baru saja tiba diarea perjamuan, mata indah Cally menangkap sosok suaminya tengah tersenyum bahagia bersama perempuan lain.
Tami terlalu terpesona dengan tawa David yang begitu memabukkan hatinya, ia tak tahu jika kini David sudah kembali menikah hingga ia dengan sadarnya melakukan hal gila dalam fikirannya.
Cup ..
Sangat berani, dengan sangat beraninya Tami mengecup bibir David dengan bibirnya. Namun saat kedua bibir itu baru saja bertemu, mata David menangkap sosok istrinya yang tengah berdiri dengan sangat emosi menatap kearahnya.
Air mata Cally mengalir begitu saja membasahi pipinya. David terkejut, ia membeku bukan karena menikmati ciumannya. Namun ia terlalu fokus dengan keberadaan Cally yang semakin dekat dengannya.
Dengan kasar Cally menarik bahu Tami hingga membuat kedua bibri tersebut berpisah. "Siapa loe!"
Plakk ..
"Apa-apaan loe," murka Tami yang tak terima dengan tamparan Cally barusan.
Cally tak menyahutinya, ia menarik David mendekat dan langsung ******* dengan panas bibir suaminya. Reaksi yang diberikan David begitu mengejutkan Tami, David segera merengkuh pinggang Cally dengan sebelah tangannya berada ditengkuk Cally untuk memperdalam ciuman keduanya.
"Ada apa sayang," kecewa David saat Cally melepas begitu saja ciumannya.
"Cuma mau menghapus bekas bibir orang lain aja," tangannya dengan lihai menari-nari diatas bibir suaminya.
"Siapa loe, berani sekali berkata seperti itu!"
Cally menahan David yang hendak menyahuti pertanyaan Tami yang tengah kesal tersebut. Pertengkaran ketiganya membuat semua pengunjung kini menatap fokus pada mereka. Cally menahan semua emosi juga kemarahannya.
Dengan sangat seksinya ia menyibakkan rambut panjangnya, tersenyum begitu manis pada Tami yang tengah terbakar emosi dihadapannya. Tak cukup sampai disitu, dengan sangat beraninya Cally melepas kain yang membelit dipinggangnya hingga mengekspos seluruh kulit putihnya. (bayangin aja Cally lagi pakai baju renang yang seksi 🤭)
"Sayang, jangan keterlaluan," kesal David yang langsung memungut kain tersebut dan melilitkan kembali dipinggang istrinya.
"Ups, baru lepas kain aja udah dibilang keterlaluan. Lalu apa kabar suami aku yang diam saja saat dicium perempuan lain," sindir Cally dengan cantik dengan gaya centilnya.
Tak bisa lagi menahan emosinya, Cally memilih berlalu meninggalkan meja perjamuan. Namun ditengah jalan ia sempat menghentikan langkahnya, kembali melepaskan kain dipinggangnya lalu membuangnya dengan sembarangan.
*Hai aku kembali, makasih ya guys udah mau nungguin aku.. makasih juga doa²nya .. lopeyu🥰
maaf ya kalau masih banyak typo* ..