CallyDaniel

CallyDaniel
65‐ Penyesalan



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


David bener-benar marah dengan tindakan Cally ini, ia benar-benar dibakar oleh api cemburunya. Tami menyunggingkan senyumannya melihat Cally pergi dengan laki-laki lain didepan wajah suaminya.


"Sepertinya istri kamu ini nggak ngehargain kamu Vid, sebaiknya kamu bisa lebih tegas lagi," ucap Tami merangkulkan tangannya pada tangan David.


"Dia istri gue, cuma gue yang berhak mengomentarinya," melepas tangan Tami yang bertaut dengan tangannya.


Tami menelan rasa malu dengan sikap David barusan, terlebih ia tahu jika saat ini semua keluarganya tengah melihat kearahnya.


"Brengsek David, dia bikin gue malu didepan keluarganya," batinnya sambil menatap kepergian David.


"Udah nggak usah terus dilihatin yang udah pergi, suami orang nggak baik terus dilihatin," sindir Letta yang mendekati Tami berada.


"Apa maksud nona ini," ucap Tami sok polos yang tak tahu maksud dari ucapan Letta.


"Maksud saya adalah, jangan suka melihat suami orang. Nggak baik," lirihnya diakhir ucapannya.


"Saya ada urusan dengan David, ada beberapa hal yang harus kami bicarakan berdua," ucapnya yang tak mau kalah.


"Oh, setahu saya kak David paling nggak suka membawa pekerjaan kerumah deh. Karena anda orang baru biar saya beritahu, " mengisyaratkan Tami untuk mendekatinya. Dan Tami pun tanpa sadar mendekatkan wajahnya pada Letta.


"Kak David nggak suka pelakor," bisiknya dengan tajam.


Tami tak tahan lagi, ia mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang menatap Letta tajam. Tak takut, justru Letta membalas tatapan itu dengan tak kalah mengerikan.


"Keluar dari rumah saya," ucapnya menekan kata.


Cally membawa Daniel ketaman yang tak jauh dari rumahnya, disebuah bangku keduanya duduk saling berdekatan. Daniel terlihat sedikit kaku ketika berada sedekat itu dengan Cally, tak bisa dipungkiri jika didalam hatinya masih ada Cally sepenuhnya.


"Ada apa nyari gue," tanya Cally tak ingin berbasa-basi.


"Sorry, sebenarnya gue datang bukan buat ketemu sama kamu Cally," menatap lurus didepannya.


"Gue datang pengen ketemu sama Arga juga Letta. Atas nama mama gue pengen minta maaf sama mereka," lanjutnya.


"Lalu, kenapa loe nyebut nama gue tadi?"


"Loe tahu, keponakan gue sekarang lumpuh. Kedua kakinya sama sekali nggak fungsi, dan loe tau apa yang lebih parah dari kelumpuhan itu?" tanyanya tanpa menatap.


"Laisa menahan semua kesakitannya seorang diri, dia menahan semua air matanya cuma buat dia," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


Daniel benar-benar merasa begitu bersalah, kesalahan kali ini sungguh meninggalkan luka bagi Laisa yang masih sangat kecil dan tak tahu apapun tentang perseteruan orang tua. Namun penyesalan tetaplah penyesalan, kaki Laisa terlanjur lumpuh dan tak bisa digerakkan.


"Mama keterlaluan, kenapa harus Laisa yang jadi korban," sesalnya.


"Percuma menyesal sekarang ini, sebaiknya kalian semua berdoa agar Laisa bisa kembali berjalan seperti sedia kala. Karna kalau tidak, bukan hanya Arga yang akan turun tangan, tapi Letta yang penyabar juga akan turun tangan."


"Turunkan pandangan anda dari istri saya, dokter Daniel," tegur David yang tiba-tiba muncul didepan keduanya.


Cally begitu santai melihat kedatangan suaminya, sedang Daniel sudah begitu salah tingkah tak karuan.


"Pulang," ucapnya menatap Cally.


"Ingat ucapanku barusan Niel," kata Cally sebelum meninggalkan Daniel ditaman.


"Apa yang harus dia ingat, apa yang sudah kalian berdua bicarakan," penasaran David terus bertanya.


"Rahasia," santainya terus berjalan.


"Wah berani sekali main rahasia-rahasiaan sama suami sendiri, berhenti nggak."


Cally tak mendengarkan suaminya, ia terus saja berjalan kembali kerumahnya. David tak menyerah, ia dengan langkah lebarnya mengejar dan menghadang Cally. Namun Cally yang gesit mampu menghalaunya.


"Wah, telenovela dimulai lagi nih," seru Letta saat melihat David juga Cally telah kembali.


"Brisik loe, tuh anterin suami ke kantor. Jangan sampai digodain sama pelakor," ucapnya yang kemudian berlalu pergi.


"Semangat bro," ucap Arga.


"Semoga gue aman," melonggarkan dasinya.


Namun tatapan Letta pada Arga begitu mengejutkan, tatapan penuh kecurigaan dan penuh kewaspadaan.


"Sayang, masa kamu nggak percaya sama aku sih," merangkul manja bahu istrinya.


"Awas ya macam-macam, sunat dua kali nih," mengarahkan tangannya, namun Arga dengan cepat melindungi senjatanya.


"Astaga yank, hati-hati dong. Inikan alas pemuas kamu, kalau lecet bahaya," ucapnya dengan serius.


Letta tak menyahuti ucapan suaminya, ia malah menarik dasi Arga dan ******* bibir seksi Arga.


"Ada gunanya juga ucapan David, vitamin pagi gue," batinnya.


•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••