CallyDaniel

CallyDaniel
64‐Cemburu



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Daniel pagi ini berniat mendatangi rumah Arga untuk bertemu dengan Arga juga Letta, ia tahu jika mamanya bersalah dengan apa yang sudah diperbuatnya terlepas dari tidak adanya bukti yang mengarah pada Sonya.


Vira tahu niatan dari suaminya, ia dengan sengaja mengadu kepada Sonya hingga terjadi keribuatan antara ibu dan anak tersebut.


"Mama nggak suka kamu datang kerumah ****** itu ya," teriak Sonya murka.


"Aku datang bukan untuk Cally mah, aku datang hanya ingin meminta maaf pada Arga juga Letta atasa apa yang sudah mama perbuat hingga melumpuhkan kaki anaknya."


"Mama yang salah? Apa buktinya kalau itu perbuatan mama, jangan asal tuduh kamu nak," ucap Sonya yang masih tak mau mengakui kesalahannya.


"Pergilah nak, papa dukung kamu untuk meminta maaf atas nama mama kamu yang nggak tahu diri ini," melirik tajam istrinya dengan murka.


"Pah."


"Diam kamu, berapa kali sudah aku peringatkan. Silahkan jika kamu ingin membalas dendam dengan mereka aku pasti membantu, tapi jangan libatkan anak-anak didalamnya," bentak Edo yang memang tak suka jika dendam antara orang dewasa itu harus melibatkan anak-anak.


"Tapi mereka juga darah daging keluarga Arga, jadi mereka juga berhak mendapat pembalasan dendam dari mama," balas Sonya menggebu-gebu.


"Pikiran bodoh, dibutakan dengan dendammu," meninggalkan meja makan dengan amarahnya.


"Aku juga harus pergi," seru Daniel pada mereka semua, tak lupa ia juga mengajak Meya untuk ikut bersamanya.


"Ma, bagaimana ini," rengek Vira.


"Jangan hanya bisa merengek saja, pikirkan juga cara mencegah suami kamu ini," bentak Sonya yang penuh dengan emosi.


"Sialan, kenapa malah gue yang jadi kena marah sih. Bener-bener brengsek," batinnya murka.


Cally sedang asik dengan sayuran didapur, ia sampai tak tahu jika ada Letta yang sudah berdiri didekatnya.


"Serius amat," tegur Letta.


"Apaan sih, bikin kaget aja deh. Bantuin nih," menyerahkan telur pada Letta.


"Siapa tuh cewek didepan," sambil mengaduk telurnya.


"Fans suami gue."


Letta hanya manggut-manggut saja sambil memasak telurnya. Dan tak lama suara anak-anak terdengar sangat ramai menuju kearahnya.


"Mama, bunda," teriak anak-anak.


"Loe bantuin Laisa mandi, biar gue yang naruh dimeja ini."


"Siap bos," ucap Letta pada Cally.


Tami mulai resah menunggu didepan seorang diri, bahkan ia sama sekali tak disuguhi air sedari tadi. Ingin sekali ia marah, tapi dengan sekuat tenaga ditahannya.


"Siapa ya," tanya Arga yang baru saja tiba setelah lari pagi dengan putranya.


"Pagi-pagi buta sudah bertamu," sindir Shaka yang kemudian pergi menemui adiknya.


"Maaf, tapi saya sedang menunggu David. Saya Tami temannya," ucapnya memperkenalkan diri.


"Oh, tunggu dulu aja. Biasanya David masih mesra-mesraan dikamar sama istrinya," ucap Arga memanas-manasinya.


Tanpa sengaja Arga berpapasan dengan David yang turun dari tangga. "Fans loe pagi-pagi buta udah bertami tuh."


"Fans? Siapa maksud loe," tanya David kebingungan.


"Tami namanya," berjalan meninggalkan David.


"Berani sekali dia mendatangi rumah, bisa ngamuk lagi ini Cally," pusingnya.


"Kalian ini gimana sih, masa tamunya nggak ditawarin makan pagi ," seru Elena yang tak tahu menahu tentang Cally juga David.


"Makasih tante," manisnya saat Elena menyuruhnya ikut duduk.


Semua terdiam dengan makanannya masing-masing, namun Tami selalu mencuri pandang pada David disela-sela makannya dan itu Shaka tahu.


"Tolong hormati makanan didepan masing-masing, jangan jelalatan," tegur Shaka tanpa melihat semua orang dimeja makan.


Shaka tahu apa yang tengah dihadapi Cally dengan David, dan dia tak suka jika ada yang mengganggu keluarganya. Maka dari itu ia sedari tadi mengeluarkan aura dinginnya hingga membuat semua orang terdiam.


"Permisi nyonya," datang seorang pelayan menemui mereka semua.


"Ada apa bik," tanya Elena.


"Ada tamu yang mencari non Cally."


"Aku? Siapa bik," tanya ulang.


"Dokter Daniel katanya."


Cally menyunggingkan senyumnya, ia rasanya punya ide untuk memberi pelajaran pada suaminya. Ia dengan semangat bangkit dari kursi dan hendak melangkah pergi sebelum tangan David menahannya.


"Biar aku yang temuin," serunya.


"Nggak udah repot-repot, tamunya nyari Cally bukannya David," menghempaskan tangan suaminya dengan perlahan.


"Seru nih yank," bisik Arga.


"Seru banget yank, pengen lihat tapi ada anak-anak."


"Tenang aja, kita bisa lihat dari cctv kan nanti," cekikikan Arga dengan Arletta.


"Apa yang kalian berdua rencanakan," tanya curiga Reno.


"Dih apaan sih pah, mana ada kita bikin rencana. Rencana punya anak lagi sih ada, yakan yank?"


"Diam," memukul perlahan lengan suaminya.


"Aku mau kedepan dulu," pamit David.


"Shaka bawa adik-adik kamu pergi kesekolah lewat samping ya."


"Ya pah."


"Hai Daniel," sapa Cally.


"Hai Cally, maaf ya ganggu acara sarapannya."


"Kalau udah tau ganggu kenapa masih disini," ketus David yang datang tiba-tiba.


"Tolong hargai tamu saya, saya juga menghargai tamu anda," melirik sinis kehadiran Tami disamping suaminya.


"Ini ada apa sih?"


"Udah mama sama papa diam disini sama kita aja, kita lihat telenovela aslinya," lirih Arga.


"Aku nggak minta kamu ngehargain tamu aku yank."


"Oh ya, tapi aku minta kamu ngehargain tamu aku," menatap sinis David dengan kesal.


"Kamu berani sama suami kamu sayang?"


"Sebaiknya kita cari tempat lain buat ngobrol yuk Niel, nggak baik ngobrol disini banyak yang nonton," melirik gerombolan diujung yang sedang salah tingkah.


"Aku nggak kasih ijin kamu pergi ya."


"Aku pamit dulu suamiku," menekankan katanya.


"Cally berhenti!"


•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••


...Hai semua .. tolong jaga kesehatana kalian selalu ya, 🌹...