
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Daniel begitu murka melihat dan mendengar sendiri bagaimana Sonya mempengaruhi Meya dengan semua cerita karangannya. Ia berteriak murka dan menarik Meya kesisinya, menjauhi Sonya yang begitu mengganggu fikirannya.
"Apa yang mama lakuin," teriak Daniel.
"Papy jangan marahin nenek," bela Meya pada Sonya dengan mata berkaca-kaca.
"Meya masuk kamar."
"Nggak mau, Meya mau sama nenek aja."
"Papy bilang masuk ya masuk Meya, dengerin papy," bentak Daniel dengan nada tingginya.
Meya berlari masuk kedalam kamarnya sambil berderai air mata, ini adalah pertama kalinya Daniel membentaknya hingga membuatnya ketakutan. Sonya menatap geram anaknya yang sedang menatap tak suka dirinya.
"Kamu udah keterlaluan Niel, Meya itu masih kecil," amuk Sonya.
"Jadi mama sadar kalau Meya itu masih kecil, masih anak-anak yang nggak ngerti apa-apa?"
"Susah kalo bicara sama kamu ini," ucap Sonya yang hendak menghindari Daniel anaknya, namun ucapan Daniel menghentikan langkah kakinya.
"Aku udah nurutin semua permintaan mama, udah ninggalin Cally dan menikahi Vira. Aku udah bersedia menjadi boneka mama tapi aku nggak akan biarin Meya sama seperti aku," teriak Daniel.
"Berani kamu berteriak didepan mama, sudah kurang ajar ya kamu ini. Ini pasti gara-gara ketemu lagi sama ****** itu."
"Stop manggil dia ******, dia wanita baik-baik dan terhormat. Mama nggak berhak menghinanya."
"Anak kurang ajar, sudah berani membangkang orang tua rupanya," geram Sonya dengan perlawanan Daniel padanya.
"Daniel, stop mau kemana. Daniel berhenti," teriak Sonya mengikuti langkah kaki anaknya yang pergi begitu saja meninggalkannya.
Daniel begitu kacau, ia teringat lagi dengan kenyataan yang telah melukai harga dirinya. Mama yang selama ini dikagumi dan disayanginya dengan teganya mencelakai Letta hingga mengakibatkan Seruni kehilangan nyawanya.
Dulu Daniel tahu kenyataan itu setelah satu bulan kepergian Seruni, ia tahu saat tanpa sadar mendengar percakapan Sonya dengan anak buahnya. Dan kini ia takut jika Sonya membawa pengaruh buruk bagi Meya, satu-satunya harta yang ia miliki dan begitu berharga.
Daniel masuk kesebuah club dan meluapkan amarahnya dengan alkohol juga wanita, disana ia berteriak demi mengeluarkan emosinya. Tanpa disadarinya emosi itu membawa hal buruk terhadap dirinya, Daniel digiring oleh dua orang wanita masuk kedalam kamar.
Letta dibawa pulang dalam keadaan pingsan, Elena begitu terkejut dan meminta Arga segera membawa istrinya kedalam kamar. Elena meminta agar mereka tak berisik sebab anak-anak sedang bermain bersama Laisa didalam kamarnya.
Arga menceritakan semuanya, Elena kaget bukan main. Ia tak menyangka jika Sonya akan begitu kejam hingga menghilangakan nyawa seseorang.
"Sayang," panggil David yang sedari tadi melihat tatapan menyesal dari istrinya.
"Aku butuh waktu sendiri kak," menjauhi David dan keluar begitu saja.
Cally benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi, ini tak lepas darinya tentang masalahnya dengan Daniel yang harus melibatkan banyak orang bahkan hingga merenggut nyawa. Hanya bisa menangis untuk menghilangakan sesak didadanya, hanya bisa mengurung diri dan menyalahkan ini semua pada dirinya.
"Ini gara-gara gue, andai gue nggak kabur pasti semua nggak kayak gini," serunya berderai air mata.
Cally kacau pikiran juga hatinya, kini ia merasa tak pantas menjadi istri sekaligus ibu sambung bagi Mira. Karena gara-gara dirinya mereka kehilangan sosok Seruni, karena dirinya pula David mengalami masa-masa yang begitu sulit dalam hidupnya.
"Akhhhhh, brengsek! Gue emang brengsek," teriaknya sambil terus memukuli kepalanya.
"Apa yang kamu lakuin, sayang tenang," panik David mencoba menghentikan tindakan istrinya.
Ia tahu pasti Cally akan menyalahkan dirinya, tapi ia tak menyangka jika akan sampai sebegininya. Mau bagaimanpun juga ia tak mungkin menyalahkan Cally dalam hal ini, ia mencintai Cally dengan setulus hatinya tanpa syarat atau jaminan.
"Aku mohon tenang sayang, aku mohon," pinta David kala Cally masih dengan tindakannya.
Pintu terbuka tanpa keduanya sadari, Mira berdiri diambang pintu sambil berderai air mata. Gadis itu menangis saat melihat Cally terus memukuli dirinya sendiri, namun ia takut melangkahkan kakinya untuk mendekat.
"Bunda, hikss hikss."
Cally terdiam, ia menatap arah suara yang memanggilnya. Matanya memanas melihat Mira berdiri diambang pintu sambil terisak melihatnya, tangannya ingin terulur menyambut putri kecilnya namun ingatan itu melemahkan keinginannya.
Cally hanya bisa menangis sejadi-jadinya, ia begitu menyesal hingga dadanya terasa begitu penuh. Hanya teriakan juga air mata yang bisa ia tumpahkan sebagai bantuan untuk tubuhnya.
Matanya menatap nyala, ia bangkit dan berlari keluar kamar melewati Mira dengan begitu saja. David terkejut, Mira terus menangis sambil memanggil-manggil bundanya.
"Ikut ayah nak," menggendong Mira dan segera turun kebawah.
"Aduh lelahnya, pulang makan terus balik kerja lagi," ucap Jesika yang baru saja tiba didepan rumahnya.
Namun tiba-tiba Cally datang dan merampas kunci mobilnya. Jesika terdiam sejenak namun saat mendengar deru mobilnya ia kembali tersadarkan.
"Cally mau kemana,"teriaknya.
"Mana Cally Jes," tanya David yang panik.
"Pergi baru aja pakai mobil aku kak."
"Jes nitip Mira ya, aku harus kejar Cally," menyerahkan Mira kedalam gendongan Jesika.
"Kamu harus baik-baik saja sayang, tolong baik-baik saja."
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...