
Elena begitu panik saat Letta tak kunjung sadar dari pingsannya, bahkan Reno sudah menghubungi Arga juga David untuk segera pulang kerumah. "Aduh opa oma," keluh Olla.
"Ada apa sih Olla," tanya Reno pada cucunya tersebut yang begitu berisik sejak tadi.
"Opa, ini loh kaki Olla nggak sembuh-sembuh. Ini itu masih kayak ada semut-semut yang sedang senam tau," ucapnya.
Reno menggelengkan kepalanya melihat tingkah Olla cucunya, ia kini kembali menatap Letta yang masih tak sadarkan diri.
"Nak, ayo dong bangun. Kamu kenapa, jangan buat mama cemas," paniknya membelai rambut Letta.
"Awww, opa," teriak Olla dengan suara kencangnya.
Reno yang terkejut mendengar teriakan Olla spontan memundurkan dirinya menjauh. "Apa sih Olla teriak-teriak, bikin kaget aja."
"Gimana nggak teriak, opa tau opa udah megang kaki aku ini dan buat aku kaget juga opa."
"Udah-udah, kalian ini bener-bener ya," tegur Elena.
Tak lama Arga datang bersama dengan David, Letta yang masih tak sadarkan diri membuat Arga diserang rasa panik yang berlebih.
"Mah, ada apa ini. Kenapa istri aku bisa pingsan."
"Mama juga nggak tahu Ga, tadi Olla yang tahu kenapa Letta bisa pingsan."
Reno segera mencegah Arga saat melihat anaknya tersebut hendak menanyakan perihal istrinya kepada Olla. "Ga, mending nggak usah ditanya."
"Papa bener juga," jawab Arga yang seakan tahu maksud dari ucapan papanya.
"Huh kalian berdua sama saja," kesal Olla.
"Mamaaaa," teriak Laisa juga Mira yang baru saja memasuki rumahnya.
Kedua bocah itu menangis melihat keadaan Letta yang tertidur diatas sofa tak sadarkan diri, Arga mencoba menenangkan keduan putirnya tersebut, sedang Shaka kini menatap dalam diam keadaan mamanya.
"Kemarilah nak," rengkuh David pada Shaka yang tak jauh darinya.
"Apa yang terjadi dengan Letta kak," tanya Cally yang juga panik.
Namun belum sempat ia menjawab suara teriakan Olla kembali mengejutkan mereka semua. "Akhhhhhh.."
"Apa sih La," tegur Elena.
Perlahan mata itu terbuka, Letta kembali teringat kembali dengan apa yang didengarnya barusan hingga membuatnya kembali menangis tersedu-sedu.
"Sayang ada apa, kamu kenapa."
"Tante Arum," serunya dalam tangis.
Tiba-tiba tubuh Cally menegang, kakinya terasa kelu saat i mencoba menghampiri Arletta. "A-apa yang terjadi sama mommy Ta," tanyanya gugup.
Letta bangkit dan berlari memeluk erat tubuh Cally, gadis itu menangis histeris dalam pelukan Cally yang tak tau apa-apa. "Ada apa Ta, jangan bikin gue takut."
"Tante Arum meninggal Cally."
Jantung Cally seakan terhenti mendengar apa yang diucapkan Letta, ia menarik tubuh Letta sejajar dengannya. Memaksa Letta untuk menatap kedua matanya.
"Loe bohong kan Ta, kasih tau gue kalau loe bohong!"
David menarik tubuh Cally kedalam dekapannya begitu juga dengan Arga yang merengkuh tubuh istrinya. Cally begitu histeris mendengar berita tersebut, rasanya ia belum siap jika harus ditinggalkan oleh mommy nya untuk selamanya.
Terlebih kini masih ada salah paham antara dirinya juga Arum, kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka renggang bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Elena tahu bagaimana sakit hatinya Cally ditinggalkan dalam kondisi permusuhan, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Dirumah sakit,
Jenazah Arum sudah siap untuk dikembalikan kerumah duka, yaitu rumah Arga saat ini. Daniel terus saja menatap tubuh yang sudah kaku terbungkus kain kafan, rasanya dadanya begitu sakit menatap wanita yang dulu dititipkan anaknya sendiri kepadanya.
"Maafin aku Cally, aku gagal jagain mommy kamu."
"Dok, semua sudah siap."
"Segera kirim kepada keluarganya, pastikan kalian berhati-hati jangan sampai membuat jenazah terluka."
Mata itu terus saja menatap mobil ambulance yang makin menjauh darinya, dan tanpa disadarinya kini air mata terjatuh dengan deras membasahi pipinya.
Dipemakaman,
Cally hanya dapat menangis melihat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu terbungkus oleh tanah. Hatinya sakit, ingin sekali rasanya ia masuk dan menamani mommynya agar tak sendirina ditempat barunya . Namun David dengan erat memeluk tubuhnya, seakan tak membiarkan dirinya berbuat hal gila yang dapat melukainya.
"Akhirnya kita ketemu lagi, Arletta Ferrour!"