
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Daniel tengah bermain dengan Meya sedangkan Vira tengah membuatkan camilan untuk keduanya. Vira benar-benar menikmati harinya sebagai seorang istri sungguhan bagi Daniel juga ibu sepenuhnya bagi Meya putrinya.
"Pinter banget sih anak papy ini," puji Daniel saat Meya berhasil mengerjakan tugas rumahnya.
"Kan Meya udah diajarin bu guru papy."
"Aduh kok kalian kelihatan seneng banget sih," Vira datang dengan tangan yang penuh dengan makanannya.
Meya berteriak kegirangan saat Vira ikut bergabung dengannya, gadis kecil itu begitu bahagia bisa menikmati waktu dengan keluarganya.
"Meya seneng banget deh bisa kumpul sama papy juga mamy," serunya berdiri didepan orang tuanya sambil menunjukkan bakat yang menari yang sudah dipelajarinya.
Daniel tertawa penuh kebahagiaan saat melihat bagaimana gemasnya Meya menari didepannya, sedangkan Vira sempat menitikan air matanya merasakan lengkapnya rumah tangganya. Tawa Daniel begitu membuatnya tersentuh, selama pernikahannya baru kali ini ia bisa melihat langsung tawa itu begitu dekat dengannya.
"Makasih Niel, makasih udah tertawa bersama kami," bisik Vira yang tiba-tiba memeluk suaminya.
Daniel sempat tertegun mendapat serangan dari Vira, namun bisikan itu membuatnya kaku tak bisa bergerak. Ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya, ia sadar dengan betul jika ia masih sangat jauh dari kata sempurna untuk ukuran seorang suami untuk Vira.
Tangannya terulur, membelai rambut istrinya yang telah begitu mencintainya itu. Namun tanpa keduanya sadari, ternyata Cally sudah berdiri menyaksikan keharmonisan keluarga kecil itu. Tak punya banyak waktu lagi, dengan gesit tangannya menarik Meya kedalam dekapannya dan membuat gadis kecil itu jatuh tak sadarkan diri.
"Cally," seru Daniel terkejut.
"Kamu apakan putriku, lepaskan Meyaku!" bentak Vira ketakutan jika saja Cally ingin membalas dendam dengannya.
"Maaf mengganggu acara keluarga bahagia kalian-
"Nggak, kamu salah paham Cally," potong Daniel dengan cepat. Membuat Vira hanya bisa memandangnya dan menghembuskan nafas kasarnya.
"Bukan urusan gue, kedatangan gue kesini karena ingin meminjam putri kalian untuk menghentikan Sonya. Katakan padanya jika ingin cucunya baik-baik saja makan serahkan anak-anak kembali," ucapnya.
"Apa maksudnya aku bener-bener nggak ngerti Cally, tolong kembalikan Meya dan aku akan kasih apapun untuk kamu," bujuk Daniel.
"Tidak, sampaikan saja itu untuk Sonya mamamu."
Ia begitu murka, belum selesai amarahnya karena membawa Laisa pergi mereka malah menyakiti kedua saudarinya hingga pingsan.
"Shaka," teriak Arga berlari menghampiri putranya.
Arga merebut pistol yang digunakan anaknya, sedangnya David mengambil kayu balok yang juga dipegang Shaka.
"Land, pergi bereskan cctv," seru Arga begitu panik.
"Nak, apa yang kamu lakukan. Katakan pada papa apa yang kamu lakukan," begitu pilu hati Arga melihat putranya berdiri dengan tatapan kosongnya, tatapan kosong yang penuh dengan amarahnya.
"Ga, kita bawa Shaka kembali dulu," ajak David setelah menyelamatkan Olla juga Mira.
"Katakan apa ada yang terluka, apa kamu terluka nak," memeriksa semua tubuh putranya.
"Halo,segera datang. Saya sudah mengirimkan alamatnya, kalian bereskan disini," ucap David yang menghubungi anak buah Arga untuk membereskan para penculik yang tertinggal.
"Kita kembali dulu, kita pikirkan cara selamatin Laisa," ajak David.
Arga menganggukan kepalanya, namun sepertinya Shaka menolak ikut bersama. Bocah itu menatap jalanan dari mobil yang membawa adiknya pergi menjauh darinya, menatap dengan penuh kemarahan.
"Akan kubunuh kalian semua," gumamnya yang begitu jelas terdengar David juga Arga.
Sonya begitu murka saat para bawahannya hanya berhasil membawa gadis cacat macam Laisa kehadapannya, yang ia mau adalah Shaka juga yang lainnya juga ikut bergabung bersama Laisa.
"Hhaah maaf ya nenek sihir tapi aku nggak akan biarain kakak juga adikku ketemu sama kamu," ucap Laisa dengan memberanikan dirinya.
Dengan sekuat tenaga bocah itu menutupi ketakutannya, ia tak ingin musuhnya saat ini mengetahui rasa takutnya dan akan mentertawakannya.
"Nggak boleh takut, kata sister nggak boleh kelihatan takut didepan musuh," batin Laisa mengingat ucapan Cally.
"Berani sekali bocah ini melawanku, dapat darimana nyali ini," tanya Sonya mencengkeram rahang Laisa.
Bukannya ketakutan, namun Laisa hanya terdiam menatap Sonya dengan tatapan menggemaskannya. Sonya melepas cengkramannya, meminta para anak buahnya untuk mengunci Laisa disalah satu kamar dirumah tua itu.
"Cukup bernyali, bisa juga dijadikan budak setia setelah dicuci otaknya," gumam Sonya menyeringai dengan ide-ide anehnya.
"Nyonya, mereka berhasil melumpuhkan sisanya," lapor anak buahnya.
"Biarkan, karena mereka juga tidak akan bisa menemukan tempat ini," ucap Sonya dengan percaya dirinya.
"Bahkan keluargaku tak akan ada yang bisa menebak keberadaanku sekarang ini."
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...