
Letta tengah duduk dimeja kerja suaminya setelah perselisihan sengit antar keduanya. Kini mata mereka saling menatap dan mencurahkan kasih sayangnya.
"Sayang," memainkan dasi suaminya.
"Apa," fokus pada wajah istrinya.
"Kata kak David kalian lagi menyelidiki kematian tante Arum ya."
"Ehm."
"Terus?"
"Masih menunggu hasil penyelidikan, nanti kalau udah keluar kita bahas lagi sama Cally juga ya."
Letta mengangukan kepalanya, tangannya terulur memeluk leher suaminya. "Sayang, sepertinya aku berniat menyelidiki kecelakaan itu juga."
Mata Arga membulat mendengar apa yang baru saja diucapkan istrinya, jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat setelah apa yang diucapkan Arletta. Bahkan Arga yang terkejut juga menyingkirkan tangan Letta dari tubuhnya dan beralih meninggalkan istrinya.
"Sayang," panggil Letta yang mengejar Arga dan memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Percaya sama aku, semua bakal baik-baik aja. Aku nggak akan kambuh lagi."
Arga hanya diam, ia tak tahu harus menjawab apa yang diucapkan istrinya. Bahkan sampai detik ini semua yang terjadi pada istrinya masih menjadi mimpi buruk untuknya.
.....
...
Malam semakin larut, kini semua orang tengah berkumpul dihalaman belakang setelah memastikan anak-anak masuk kedalam kamar masing-masing. Reno menatap David juga Cally secara bergantian, sedang Arga masih tak bisa melepaskan fikiran tentang permintaan istrinya.
"Kenapa om lihatin aku kek gitu ya," tanya David.
"Gimana keputusan kamu Vid," tanya Reno langsung.
"Keputusan apa ya om maksudnya?"
"Keputusan tentang hubungan kamu sama Cally. Om nggak mau kamu menggantungkan Cally dengan harapan palsu."
Cally begitu terkejut mendengar apa yang ditanyakan Reno juga apa yang disampaikannya, ia tak tahu jika ada pertanyaan seperti itu untuk keduanya. David sekilas menatap Cally yang ada disampingnya, sejenak keduanya saling bertatapan.
"Gimana Cally, David berniat menikahi kamu. Bukan semata-mata karena cinta, tapi ini juga demi menyelamatkan kamu dari semua serangan keluarga Daniel," jelas Elena yang sangat mengkhawatirkan Cally.
"Aku setuju kalau kak Cally bisa menikah dengan kak David. Selain kita bisa menghindari keluarga mereka, kita juga bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Mira," ucap Letta.
Cally terdiam, ia memikirkan semua yang telah didengarnya. Menurutnya tak buruk juga menikah dengan David, laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Tapi ia hanya takut jika nantinya akan menyakiti David yang terlalu baik untuknya itu.
David tau jika kini Cally tengah bimbang dengan keputusannya, digenggamnya kedua tangan Cally. "Aku nggak akan maksa kamu kalau kamu nggak bersedia."
"Aku mau," seru langsung Cally saat beradu mata dengan David dengan senyum tulus diwajahnya.
"Bagus, kalau gitu om akan siapkan semuanya," semangat Reno.
"Tante juga bakal siapin semau keperluan kamu ya nak."
Tiba-tiba saja, "Besok kalian menikah."
Dikamarnya,
Daniel tengah fokus dengan berkas-berkas didalam laptopnya, saat tiba-tiba saja Meya masuk dan memeluk kakinya.
"Eh anak papy," sapa Daniel dengan senyumanan indahnya.
"Papy, Meya kangen banget sama papy. Papy udah lama banget nggak main sama Meya," keluh Meya sambil memeluk kaki Daniel.
Daniel membawa putrinya kedalam pangkuannya, dikecupnya seluruh wajah Meya tanpa celah. Daniel sadar jika ia telah mengabaikan putrinya dan hanya fokus pada masalahnya saja, dan itu membuatnya merasa sangat bersalah.
"Maafin papy ya nak, besok gimana kalau kita main bareng?"
"Horee, bener ya py. Nanti kita main sama momy juga, kasian momy sedih terus dikamar."
Daniel tertegun dengan ucapan anaknya, namun ia tak bisa menolak dan hanya bisa memberikan senyuman manisnya. Meya nampak bahagia sekali, saking bahagianya anak itu menghujani wajah papy nya dengan kecupan.
"Makasih papy."
"Jangan sampai saya tau kalau ini ulah kamu, Vira."