
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Semua orang kini begitu panik, Arga membawa putranya pulang dengan keadaan berlumur darah. Letta begitu histeris dibuatnya, ia sempat syok hingga tak sadarkan diri.
"Nak katakan sama papa, darimana kamu belajar menembak itu," tanya Arga.
"Pah! Itu nggak penting, nyawa adik aku sekarang lebih penting," seru Shaka marah.
"Papa tahu nak, tapi kamu jelasin dulu soal-
"Kalau kalian semua tidak bersedia mencari adikku baiklah, biarkan aku saja yang pergi dan menyelamatkan adikku itu," Shaka benar-benar kehilangan kendalinya, ia bahkan berani memotong ucapan Arga dan membuat Arga terdiam dengan kemarahannya.
"Shaka," panggil Reno mencoba menenangkan cucunya.
Namun Shaka begitu keras kepala, bocah itu kini penuh amarah juga kebencian. Tekadnya sudah bulat, ia segera berlari dari rumah saat keluarganya mulai lengah.
"Shaka, Shaka berhenti nak," teriak Arga yang langsung mengejarnya diikuti yang lainnya.
Beruntung Shaka tak lari terlalu jauh saat mobil Cally tiba dihalaman rumahnya, Shaka sempat tertegun melihat sisternya turun dengan tatapan aneh menurutnya.
"Kemari, bantu sister," seru Cally memanggil bocah laki-laki tersebut.
Shaka mengikuti perintahnya, ia perlahan berjalan dan mendekati Cally yang sedang berdiri disamping mobilnya. Cally membuka pintu mobilnya, ia tersenyum kearah Shaka.
"Sister," seru Shaka saat melihat apa yang ada didalam mobil Cally.
"Dia hanya pingsan, dia adalah satu-satunya alat untuk kita melakukan pertukaran dengan Laisa."
"Bagus sister, serahkan sama aku dan aku bakal bawa dia untuk bebasin adik," girang Shaka.
"Kamu tahu dimana memangnya Laisa disekap?"
Shaka terdiam, ia sebenarnya juga tak tahu dimana saat ini adiknya berada. Ia hanya ingin adiknya segera bebas dan bisa berkumpul lagi dengannya. Tiba-tiba air matanya meleleh membasahi pipinya, Arga perlahan mendekat memeluk tubuh putranya.
"Papa tahu kamu begitu menyayangi adik, tapi kamu juga nggak boleh gegabah juga," ucap Arga membalia punggung anaknya.
"Boy, dengerin papa. Papa pasti bawa adik kembali, tapi kamu harus janji nggak akan melakukan tindakan seperti itu lagi," memberi jarak pada keduanya.
Shaka tak bisa menjanjikan apapun, ia hanya ingin adiknya segera pulang dan apapun akan ia lakukan untuk itu. Bocah laki-laki yang biasa begitu dingin menangis memeluk tubuh papanya dengan begitu erat.
...
Laisa begitu menikmati harinya, bagaimana tidak jika semua anak buah Sonya begitu memperlakukan dia dengan begitu baik. Mungkin mereka merasa kasihan dengan kondisi Laisa kali ini, cacat namun masih dijadikan umpan bagi bosnya.
"Bocah, makan ini dulu ya"
"Yah om, mana es krimmnya kok nggak ada?" rajuk Laisa ketika didepannya hanya ada nasi ayam juga air mineral.
"Nanti om beliin es krimnya ya, tapi kamu harus makan yang banyak biar cepat sehat ya," membelai lembut kepala Laisa.
Laisa menunjukkan senyum menggemaskannya, dua orang penculik yang memberinya makan begitu histeris melihat senyum menggemaskan dari Laisa.
"Makan ya, om mau keluar jaga-jaga."
Setelah kedua orang itu keluar Laisa segera melahap makanannya, hari sudah gelap dan ia benar-benar lapar sedari tadi. Ia menghabiskan makanannya hingga tak tersisa apapun termasuk tulang ayam sekalipun.
"Aduh kenyangnya," serunya sambil menepuk perutnya beberapa kali dengan perlahan.
"Kakak pasti lagi marah-marah ini mikirin aku, gimana cara ngasih tahu kaka ya," pikirnya sembari menatap langit-langit ruangan tersebut.
Tak lama masuklah seorang anak buah Sonya datang dengan membawa sebuah es krim untuknya. Betapa girangnya Laisa bisa mendapatkan es keinginannya.
"Ternyata lebih mudah merayu om-om jahat ini dari pada merayu papak sendiri," batinnya sambil menikmati es miliknya.
"Pelan-pelan, tuh belepotan jadinya," dengan begitu halus penculik itu menegurnya.
"Ini enak banget om, aku suka banget," ucapnya tak henti-hentinya menjilati es ditangannya.
Laisa begitu kekenyangan hingga ia kin merasa begitu mengantuk, entah memang mengantuk atau ada sesuatu yang mempengaruhinya. Namun yang pasti kini bocah itu tertidur dengan begitu lelapnya bahkan tanpa beralaskan bantal ataupun tikar lantai.
Dirumahnya Sonya sudah ditunggu sedari tadi oleh suami anak juga menantunya, ketiganya hanya ingin tahu dimana Laisa berada. Daniel memberitahu Sonya tentang apa yang terjadi dengan cucunya.
"Dasar ******, berani sekali dengan cucuku itu!"
"Mama nggak berhak menghina Cally, dia nggak salah karena mama yang bersalah," teriak Daniel dengan begitu emosinya.
"Aku katamu. Mama yang salah ? dimana letak kesalahan mama," bentak balik Sonya.
"Jangan berpura-pura lagi, dimana kamu sembunyikan Laisa. Meya dibawa juga bukan semata-mata karena keinginan mereka, jadi serahkan Laisa dan mereka akan mengembalikan Meya pada kita," ucap Edo yang sudah begitu geram dengan tingkah laku istrinya.
"Nggak!" tolak Sonya dengan begitu cepat juga tegas.
"Ma, Meya itu anak aku cucu mama. Vira mohon selamatkan anakku ma," mohon Vira.
"Jangan harap!"
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...