
Perlahan Jesika masuk kedalam ruang rawat Letta, dengan jelas ia dapat melihat bagaimana hancurnya kakaknya saat ini dihadapan wanita tercintanya. Jesika tak menyangka jika depresi yang di derita Letta bisa membuatnya dalam kondisi seperti ini.
"Letta pasti bangun kok," ucap Jesika menepuk bahu kakaknya.
Arga hanya diam, pandangannya kini hanya tertuju dengan wanita yang sedang terlelap dalam tidurnya. Namun mata gadis kecil itu memancarkan sorot kemarahan, sorot mata yang jarang sekali diperlihatkannya pada siapapun.
Shaka melihat dan menyadari sorot mata adiknya, ditariknya Laisa keluar dari kamar dan duduk didepan ruang rawat. Shaka dengan penuh kasih sayang memeluk tubuh kecil itu kedalam dekapannya.
"Tenangkan dirimu dek, jangan sampai mereka menyadari sorot mata itu."
Laisa tahu apa yang dimaksudkan oleh kakaknya, ia hanya diam membalas pelukan Shaka dengan begitu eratnya. Laisa begitu sedih dengan keadaan mamanya, setiap kali melihat mamanya maka bayangan Daniel akan terus muncul dipikirannya.
"Aku membencinya kak," lirih Laisa pada Shaka.
Shaka mengerti dengan apa yang dirasakan adiknya saat ini, ia tak hentinya membelai kepala adiknya. "Kakak tau itu."
"Tapi jangan lupa, dokter bilang ini hanya kondisi sementara. Jadi kita doakan mama biar cepet bangun."
"Apa yang sedang kalian lakukan," tanya David yang datang bersama dengan Cally.
Shaka mengurai pelukannya, ia menghapus jejak air mata adiknya agar tak terus menangis. David yang sudah sangat mengenal kedua bocah itu menatap lekat keduanya, ia merasa ada yang disembunyikan oleh mereka.
"Nggak ayah, adik cuma lagi sedih lihat mama tadi."
Cally berjongkok menggengam kedua tangan Laisa, perlahan gadis kecil itu menengadahkan kepalanya menatap Cally yang juga sedang menatapnya.
"Mama sister," ucapnya mencebikkan bibrinya.
Cally memeluk tubuh kecil itu, merengkuh dan memberikannya rasa nyaman. Cally menguatkan Laisa untuk tetap tabah dengan keadaan semuanya. "Mama pasti bangun."
Shaka menatap lekat adiknya, ia sangat khawatir jika adiknya itu akan berbuat hal yang akan membuatnya dalam bahaya. Shaka sama seperti Arga, pendiam dan tak banyak mengeluarkan ekspresinya. Namun dibalik sikapnya itu ia sangat menyayangi Laisa adik kecilnya.
"Kalian semua pulang dulu ya sama opa juga oma, biar ayah sama sister yang jaga," ucap David pada keempat bocah didepannya.
"Yasudahlah kalau kalian semua memaksa," ucap Olla.
"Nggak ada yang maksa kamu juga nak," seru Orland dari kejauhan yang berjalan menghampiri orang tuanya.
.....
...
"Dari mana saja kamu," teriaknya saat melihat Daniel masuk kedalam rumah dengan raut wajah masamnya.
Daniel menatap heran mamanya yang kini sudah berada didepannya. Alis nya bertaut saat melihat ekspresi yang ditampilkan oleh mamanya tersebut.
Plakkkk..
Satu tamparan tepat mendarat diwajah Daniel yang berada didepannya. "Apa yang mama lakuin," tanya Daniel heran.
"Tenangkan dirimu ma," ucap Edo yang melihat istrinya dalam keadaan penuh emosi.
"Daniel duduklah," perintah Edo dengan nada dinginnya.
Kini ketiganya duduk terdiam dalam satu ruangan, Daniel juga tak berani untuk memulai pembicaraan.
"Sejak kapan papa ajarin kamu untuk mukul perempuan."
Daniel tak berani menyahuti papanya, ia juga tahu apa kesalahannya hingga membuat kedua orang tuanya kini murka.
"Kalau orang tua tanya itu dijawab!"
"Daniel, jawab papa."
"Maaf pa," hanya itu yang mampu Daniel ucapkan.
"Jangan minta maaf sama kita, sana minta maaf sama istri kamu."
"Nggak!"
"Danie," teriak Sonya.
"Mah, udah jangan marahin suami aku lagi ya. Aku baik-baik aja kok," menahan tangan Sonya agar tak menyerang anaknya.
"Diam! Nggak usah drama lagi," bentak Daniel.
Vira menangis mendengar bentakan suaminya, ia berpura-pura sangat terluka agar mendapat simpati dari kedua mertuanya. "Kamu yang diam! Gara-gara wanita murahan itu kamu berani membentak juga memukul istri kamu."
"Jangan salahin Cally ma, cukup!"