CallyDaniel

CallyDaniel
84‐Ketahuan



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


"Ada apa. Siapa yang mengirimkan pesannya," tanya David yang kini berada didalam kamar dengan istrinya.


Didalam rekaman itu memperlihatkan saat Sonya menyiram Laisa dengan bir ditangannya. Tak hanya itu, Cally sampai menangis saat melihat Laisa terbatuk hingga memuntahkan sesuatu dari mulutnya.


"Sayang apa apa bis itu ketelan sama Laisa ya," panik Cally berurai air mata.


"Tenang sayang, lihatlah masih ada yang melindungi Laisa disana."


David memperhatikan wajah-wajah yang melindungi keponakannya itu, ada rasa lega sebab Laisa tak terluka sedikitpun.


"Sayang ada alamatnya," seru David.


Keduanya lantas bergegas keluar dari kamar dan hendak pergi menemui Letta dikamarnya. Tapi ternyata Arga Letta juga Shaka sedang berada diruang tengah.


"Arga ada info," seru Cally terburu-buru.


Semua orang terbangun mendengar suara Cally yang begitu keras, dan kini mereka bersama-sama melihat rekaman yang Edo berikan.


Tanpa sepengetahuan Sonya, Edo tak benar-benar pergi dari rumahnya. Ia bersembunyi didalam bagasi mobil Sonya sebab ia yakin malam ini istrinya itu akan menemui Laisa. Benar dugaannya, tak sia-sia ia kekurangan oksigen jika hasilnya bisa menyelamatkan cucunya.


Ia juga marah saat melihat Sonya menyiram Laisa dengan bir itu, ia tak bisa membayangkan jika yang ada diposisi Laisa adalah cucunya Meya. Hancur mungkin seluruh hatinya jika itu terjadi dengan Meya.


Tak hanya kepada Cally, namun Edo juga mengirimkan video juga alamat tersebut pada Daniel anaknya.


"Kita segera kesana," seru Letta.


"Tunggu, tapi kita semua tak bisa pergi," seru Arga.


"Nggak! Aku mau pergi," seru Shaka dengan tatapan tajamnya pada Arga.


"Baiklah. Jesika sama mama dirumah jaga Mira sama Olla, selebihnya ikut tapi ikuti instruksiku," terang Arga.


Jarak yang mereka tempuh cukup jauh, keluar dari kawasan kota Jakarta. Hingga mentari mulai menunjukkan sinarnya mereka baru tiba tak jauh dari tempat yang Edo berikan.


"Benar disini," tanya Arga yang kini sedang berkumpul dengan yang lainnya.


"Shaka yakin. Papa lihat, itu orang yang nolongin adik," tunjuk Shaka pada sosok laki-laki yang sedang membuang sesuatu itu.


"Benar saja ternyata." seru Cally.


"Kalian sudah tiba," seru Edo yang keluar dari persembunyiannya.


"Tuan Edo," serempak semuanya.


"aku menunggu kalian semalaman disini, akhirnya kalian tiba. Saya fikir kalian menganggap saya berbohong."


"Terima kasih tuan Edo membantu kami."


"Apa kalian membawa cucuku, bisakah saya melihatnya sebentar saja?'


Cally menganggukan kepalanya, ia membawa Edo mendekati mobil miliknya. Perlahan ia membuka pintu dan memperlihatkan Meya yang masih begitu pulas dalam tidurnya.


"Apa cucuku menyusahkan kalian," tanya Edo berkaca-kaca.


"Dia sangatlah pintar, begitu tenang dan penurut."


"Syukurlah," lega Edo lalu berbalik kembali menemui semua orang.


"Saya menyesal dengan apa yang sudah istri saya lakukan, saya benar-benar tak mengira jika akan jadi seperti ini," sesal Edo dengan keputusannya terdahulu membantu Sonya balas dendam.


"Lupakan semuanya, tujuan kita hanya satu yaitu membawa adikku kembali dengan selamat," tegas Shaka menatap rumah yang sudah tak terawat didepannya.


"Benar. Aku sudah mengatur beberapa penjaga untuk membantu kalian masuk, sisanya kalian bisa mencari Laisa."


"Kita bergerak sekarang."


Shaka yang sudah tak sabar segera ditahan oleh Arga, ia kembali mengingatkan putranya untuk tak berbuat hal buruk lagi didepan banyak orang.


Kini mereka bersama-sama mulai melangkah perlahan menuju rumah itu, Cally menggendong Meya dengan penuh hati-hati dan Edo terharu melihatnya.


"Halo semuanya, apa kalian sedang mencari anak ini?"


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••


...