CallyDaniel

CallyDaniel
54—Dibalik Niat Busuk



"Bagaimana kak," tanya Cally saat David baru saja masuk kedalam kamarnya.


Wajah David nampak sangat lesu tak bersemangat, ia benar-benar tak bisa berbuat sesuatu saat ini. Kapal yang mereka tumpangi masih dalam pelayarannya, masih jauh untuk sampai ditempat yang dituju. Dan David hanya bisa menggelengkan kepalanya menyahuti pertanyaan sang istri.


Cally tahu jika David pasti sudah berusaha, dan ia juga tahu kalau hasilnya pasti tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Cally membawa David kedalam pelukannya, mendekap erat tubuh suaminya yang saat ini merasa tak berguna.


"Kita pasti bisa mendapatkan cara. Hari sudah malam, sebaiknya kita beristirahat," ajaknya yang menuntun David naik keatas ranjang. Saling mendekap erat satu sama lain, kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu akhirnya bisa tertidur pulas.


Suara ketukan pintu menggangu tidur cantik Cally, ketukan yang tak ada hentinya yang membuat Cally begitu jengkel dibuatnya.


"Buta apa ya, masih begitu pagi udah gangguin orang aja," gumam Cally sambil berjalan kearah pintu kamarnya.


"Halo," sapa Tami saat Cally menampakkan dirinya dari balik pintu.


"Ngapain ini cewek pagi-pagi kesini," batin Cally begitu tak suka.


"Ada apa ya?"


"Oh maaf jika saya mengganggu tidur nona sa-


"Sudah tau masih aja berdiri disini," sela Cally dengan begitu ketus.


Tami hanya menampakkan senyum kecutnya menghadapi ucapan ketus dari Cally.


"Maaf, tapi saya datang kesini mau mengajak David untuk berolah raga karena sejak dulu dia selalu berolah raga."


Darah Cally rasanya sudah mau mendidih mendengar mulut manis Tami mengutarana niatnya, rasanya ingin sekali ia mencabik-cabik wanita yang ada dihadapannya kini. Dulu Cally akan langsung menghabisi lawannya jika membuatnya tak suka, tapi Cally yang ini berbeda.


Dengan sangat tenang ia bersandar pada pintu sambil memainkan ikat bajunya. Senyum kemenanganpun ia tampilkan walau belum berperang.


"Lahan kapal ini terlalu kecil kalau nona Tami mau mengajak suami saya berolah raga."


"Haha, anda tidak usah khawatir. Kami bisa menggunakan fasilitas yang disediakan kapal ini."


"Benar-benar tak tahu malu, belum menyerah juga," batin Cally.


"Ehm, tapi sepertinya nggak perlu."


"Kenapa nona Cally, ini kebiasaan David dan anda jangan mengubah sesuatu yang baik."


"Bukan begitu nona Tami, aduh gimana ya cara ngomongnya," pura-puranya dengan sangat sempurna.


"Ada apa nona Cally," tanya Tami yang sudah mulai merasa begitu emosi.


Cally membuka sedikit baju yang digunakannya, menampakkan begitu banya jejak yang diukir oleh suaminya. Tangannya mengepal saat dengan sengaja Cally menunjukka jejak kepemilikan David ditubuhnya.


"Asal anda tahu, suami saya sampai nggak ngasih saya tidur karena kesenangan olah rasa sama saya," bisik Cally dengan sengaja, membuat suaranya terdengar begitu manis namun menusuk musuhnya.


"Jadi saya rasa suami saya tidak membutuhkan olah raga lagi, karena apa? Karena dia sudah kelelahan berolah raga dengan saya diatas ranjang," menekan setiap kata dalam kalimatnya.


Tanpa diduga, David yang terbangun dari tidurnya segera turun dan mencari istrinya. Sambil matanya terpejam, David memeluk istrinya dari belakang hingga mengejutkan kedua wanita yang sedang bersitegang.


"Sayang, kenapa udah bangun," tanya David dengan suara paraunya.


"Sayang, tidur lagi ya. Pasti masih capek kan," mesra Cally dengan sengaja.


"Cium dulu."


David dengan segera ******* habis bibir istrinya didepan Tami yang masih berdiri didepan mereka, tak hanya bibirnya yang bekerja bahkan tangan nakal David dengan liar bermain ditempatnya dan Cally hanya diam membiarkannya saja.


"Ahhh," desah Cally dengan sengaja yang membuat David semakin menggila.


Dengan sekali tarik David sudah mendekap istrinya, kemudian dengan sangat keras menutup pintu dan menguncinya. Tami tak dapat menyembunyikan amarahnya, wajahnya memerah menahan marah melihat apa yang tengah keduanya lakukan.


"Gue pastiin, gue kali ini nggak akan kehilangan David lagi. Cukup Seruni, nggak akan ada wanita lain lagi."


......


...


Jakarta,


Arletta tertidur dipangkuan suaminya, begitu juga Elena yang juga tertidur dipangkuan suaminya. Namun tidak dengan Shaka, laki-laki itu masih diam berdiri ditempatnya sambil terus mengawasi adiknya.


Orland terbangun dan melihat Shaka masih sama seperti semalam. Hatinya sangat sakit melihat Shaka bersikap seperti itu.


"Arga, Ga bangun. Loe lihat Shaka," bisik Orland yang berusaha membangunkan Arga.


Bukan Arga yang terbangun, tapi Reno. Reno begitu tak tega melihat cucu laki-lakinya tersiksa begitu, ingin sekali ia berlari dan memeluk Shaka dalam damainya. Mata Arga mulai terbuka perlahan, ia mengikuti arah pandang Reno juga Orland.


"Land, tolong jaga Letta."


Dengan perlahan ia meletakkna kepala istrinya pada bantal tidur, kini ia melangkah maju menghampiri anak laki-lakinya.


"Boy, ikut papa," Shaka tak bergeming dari tempatnya.


Arga tahu apapun yang diucapkannya tak akan pernah membuat Shaka berbicara, satu-satunya cara adalah memaksanya.


"Papa lepasin aku, lepasin kau papa!"