CallyDaniel

CallyDaniel
45—Daniel vs Arletta



Letta keluar, didepannya kini berdiri Daniel dengan amarah yang sangat jelas dapat dibacanya. Letta tau apa yang menjadi tujuan kedatangan laki-laki tersebut kerumahnya, namun ia hanya bisa diam menunggu apa yang akan dilakukannya.


"Dimana Cally," tanya Daniel menahan emosinya.


"Cally sudah pergi dengan suaminya," ucap Letta yang dengan sengaja menyebutkan status David.


"AKhhhh, kalian semua benar-benar jahat! Kalian sudah memaksa Cally menikahi laki-laki yang sama sekali tak dicintainya," teriak Daniel.


"Olla, masuk ke kamar ya. Jangan keluar sebelum mama Letta minta."


"Baik mama Letta," segera berlari naik kedalam kamarnya.


Kini Letta kembali menatap Daniel, dengan sangat tengan Letta duduk dihadapan Daniel yang masih setia berdiri tegak. Namun tiba-tiba penjaga masuk, namun Letta memberikan isyarat agar tak ada yang mengganggu keduanya.


"Siapa yang memaksa Cally? Menurut anda apakah kakak saya itu bisa dipaksa," tanya Letta dengan senyumnya.


"Kalian semua pasti mengancamnya, iya kan," bentaknya.


"Asal bicara tanpa bukti, itu adalah anda dokter Daniel. Anda yang tidak bisa memperjuangkan kakak saya, lantas mengapa sekarang anda datang kepada saya dengan marah-marah?"


"Saya tidak terima kalian menikahkan Cally dengan David," serunya dengan suara beratnya.


"Apa hak anda tidak terima, siapa anda?"


"Saya adalah laki-laki yang sangat mencintai Cally dengan setulus hati saya."


"Salah. Anda adalah laki-laki yang mengagungkan cinta tapi hanya diam saja saat wanita anda dipermalukan oleh orang tua anda," sindir Letta yang kembali mengingatkan akan hinaan kedua orang tuanya.


Daniel terdiam, ingin rasanya ia membantah semua ucapan Letta namun apa yang dikatakan memang benar adanya. Selama bertahun-tahun rasa bersalah Daniel pikul sendiri, rasa bersalah membiarkan wanitanya sakit hati oleh perbuatan orang tuanya.


"Pergilah dokter Daniel, Cally sudah bahagia dengan pilihannya."


Daniel terdiam, kakinya terasa sangat berat untuk melangkah meninggalkan rumah Arga.


"Tentang kecelakaan anda, saya sungguh tidak tahu apa penyebabnya. Saya hanya disana melihat mobil itu terguling tanpa berniat membantu anda," ucap Daniel.


"Jadi anda melihat istri saya meregang nyawanya tanpa berniat menolongnya, dokter Daniel yang terhormat," geram Arga mendengar apa yang baru saja didengarnya.


Daniel terkejut mendengar suara bariton yang didengarnya, membelikka tubuhnya dan ia bisa melihat Arga berdiri dengan tegap dan bersipa menyantapnya. Tak hanya Daniel, bahkan Letta juga terkejut dengan kedatangan suaminya.


.....


...


Meninggalkan keributan dirumah milik Arga, kita tengah terlihat keromantiasan sepasang suami istri yang tak bisa lepas satu sama lainnya. Lelah menjalani perjalanan seharian membuat tubuh keduanya terasa begitu lelah, sesampainya didalam vila yang sudah disiapkan Elena kedunya memilih merebahkan diri diatas ranjang yang sangat empuk.


"Kak, mandi dulu gih. Bersihin badan dulu," ucap Cally menarik tangan David agar bangkit dari tidurnya.


"Nanti dulu ya sayang, capek banget ini," ucapnya sambil memejamkan kedua matanya.


Wajah Cally memanas mendengar sapaan yang baru saja diucapkan oleh suaminya, tangannya tiba-tiba terasa begitu kaku saat memegang tangan suaminya. David membuka matanya saat menyadari ada yang aneh dengan istrinya, dan benar saja dugaannya kini ia melihat dengan jelas wajah malu-malu milik istrinya.


"Sayang," goda David menggoyangkan tangannya yang sedari tadi dipegangi oleh Cally.


"Apaan sih kak," malu-malunya menundukkan kepalanya.


Bangkit dari tidurnya, David menarik Cally hingga terduduk diatas pangkuannya. David adalah laki-laki normal yang tak bisa bertahan lama jika berada dalam satu ruang seperti ini bersama dengan Cally.


David mulai menghirup bau khas tubuh istrinya, mencium ceruk leher Cally hingga berubah menjadi gigitan yang menggelikan.


"Ahh," desah Cally tanpa sadar.


"Boleh nggak kalau sekarang," tanya David saat masakan tubuh istrinya menegang dengan sentuhan tangan nakalnya.


"Ta-tapi aku bau kak, belum mandi," cicit Cally tak bisa menutupi kegugupannya.


"Mandinya nanti aja setelah kita berkeringat," bisiknya tepat ditelinga Cally. Bahkan David dengan sengaja meniup telinga itu hingga membuat Cally bergeliat geli.


"Geli kak David," protes Cally.


"Boleh nggak nih," tanyanya lagi.


"Ehm, gimana ya kak?"


David yang gemas kembali memberikan gigitan manja pada leher istrinya. Meninggalkan jejak yang sangat disukainya.


"Boleh nggak nih," tak sabar