
Cally terus saja teringat dengan apa yang diucapkan Sonya padanya tempo hari, hatinya kembali terluka bahkan itu membuka kembali luka lamanya. Cukup lama ia terdiam didalam kamar hingga ia memutuskan untuk berendam dikamar mandinya.
"Lebih baik gue berendam aja biar rileks," ucapnya sambil menghilang dibalik pintu kamar mandinya.
Setelah mendengar semua yang diceritakan oleh David, mereka kini ikut merasa geram dengan apa yang sudah keluarga Daniel lakukan terhadap Cally. Bahkan kini ada Vira yang juga ikut menyerang Cally tanpa tahu permasalahannya.
"Aku nggak bisa biarin ini semua, aku harus kasih mereka pelajaran," seru Letta menggebu-gebu.
Arga menahan istrinya agar tak terpancing emosinya, ia takut jika hal itu akan membuat depresi istrinya kambuh kembali. Letta yang sudah terbawa emosinya tak ingin mendengarkan suaminya. "Cukup selama ini aku diam yank, aku nggak bisa biarin saudara aku terluka lagi."
"Aku tahu tapi nggak dengan tindakan gegabah gini yank."
"Apa yang dikatakan suami kamu bener nak, biarkan papa yang memikirkan apa yang harus kita lakuin."
"Kalau menurut mama David sudah memberikan solusi untuk kita semua."
Semua mata kini menatap heran pada Elena, meminta penjelasan atas apa yang tadi ia ucapkan.
"Maksud mama gimana," tanya Reno pada istrinya.
"Bukannya tadi David sudah bilang kala solusinya adalah menjadikan Cally istrinya."
Semua orang terlihat syok dengan jawaban yang diberikan oleh Elena, namun itulah nyatanya sebab David sendiri yang mengutarakan saat dirinya bercerita. "Tante, bukan gitu maksdu saya juga."
"Bukan gimana sih Vid, bukannya kamu udah ngenalin Cally sebagai istri kamu sama mereka semua. Apa salahnya kita jadikan itu nyata.
"Aku bakal dukung apapun itu keputusan kak David juga Cally, asalkan itu berasal dari hati kalian masing-masing."
"Gue setuju sama Letta, ini adalah pernikahan dan harus berasal dari hati masing-masing."
"Ehm, tapi sebaiknya ini kita bicarakan sama Cally juga ya. Saya nggak mau mengambil keputusan tanpa melibatkan dia," ucap David.
"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kalian para laki-laki segera pergi bekerja karena uang nggak jatuh dari langit," seru Letta mengusir Arga juga David, membuat Reno juga Elena tertawa dibuatnya.
"Sesuai permintaan nyonya Arga saja," serempak Arga juga David sambil bangkit dari duduknya.
Dirumah sakit,
Arum yang tengah histeris membuat para suster begitu kewalahan, kini entah apa lagi yang membuat Arum kambuh bahkan sangat-sangat histeris jadinya.
"Tenang dulu buk, tolong tenang."
Seorang suster terus saja mencoba menenangkan Arum yang terus saja berteriak histeris, namun sudah lama mencoba tak sedikit membuat Arum tenang jadinya.
Dan tak berapa lama seorang suster datang dengan membawa sebuah suntikan diatas nampannya. Ia datang dengan sangat tergesa-gesa menghampiri para rekan-rekannya.
"Dimana dokter Daniel?"
"Diruangannya, beliau meminta saya memberikan suntikan penenang dengan dosis dua kali lipat."
"Apa kamu yakin."
"Tentu saja."
"Baiklah, kalian pegangi dia. Biar saya yang berikan suntikan ini."
Arum sempat berteriak saat suntikan itu menusuk kulitnya, perlahan tenaganya mulai lemas hingga ia tak sadarkan diri. Namun tak berapa lama tubuh Arum yang baru saja diletakkan diatas ranjang mendadak kejang.
"Kenapa ini, ada apa sama pasien."
"Cepat panggil dokter Daniel kesini."
Daniel dengan sangat panik berlari menuju dimana Arum berada, ia tak menyangka jika pasien yang histeris adalah Arum mommy nya Cally. Ia sungguh menyesal dengan apa yang ia lakukan, ia benar-benar takut jika sesuatu hal buruk terjadi pada Arum.
Dan apa yang ditakutkannya benar terjadi, kini ia hanya bisa menatap tubuh Arum yang sudah terbujur kaku. Pukulan yang sangat besar bagi Daniel dengan apa yang telah dilakukannya, kini ia hanya bisa bersandar pada dinding.
Dirumahnya,
Kini Letta tengah menikmati siang harinya sambil bersantai menonton tv setelah Cally pergi untuk menjemput anak-anak. Tiba-tiba saja ponselnay berdering dari nomor yang tak dikenalnya, ragu namun pada akhirnya Letta memberanikan diri untuk menerimanya.
Wajahnya memucat mendengarkan apa yang kini tengah disampaikan oleh sang penelponnya. Tubuhnya lemas, air matanya berurai membanjiri wajahnya.
"Nggak, nggak mungkin."
Semua tiba-tiba saja kabur dari pandangannya, perlahan kini semua gelap hingga tubuhnya jatuh tak sadarkan diri. Olla berteriak histeris melihat Letta tergeletak tak sadarkan diri dilantai.
"Oma, opa tolong."
Olla memangku kepala Letta, gadis kecil itu terus berusaha membangunkan Letta agar segera bangun. "Tante, tante kenapa. Bangun dong, kaki Olla udah kesemutan."
"Olla, astaga apa yang terjadi nak," kaget Elena juga Reno yang melihat keduanya.
"Aduh opa oma, tolongin dulu ini. Kaki Olla mati rasa."
Reno mengangkat tubuh Letta dan membawanya keatas sofa. "Dasar bocah."