
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Edo pulang dengan Meya setelah puas bermain bersama seharian, namun dahinya berkerut saat melihat pintu rumahnya terbuka. Ia yang curiga segera membawa Meya masuk, dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat rumahnya begitu kacau.
"Awas nak, ada banyak pecahan kaca," ucap Edo pada cucunya.
"Kek, kenapa rumahnya berantakan sih?"
"Kakek juga nggak tahu, kita periksa dulu yuk," ajaknya.
Semakin masuk semakin berantakan pula rumah itu, bahkan Edo menelan salivanya saat melihat ada banyak darah menghiasi lantainya.
"Mamy," teriak Meya yang melihat Vira meringkuk ketakutan disudut ruangan.
Meya menangis melihat mamy nya yang begitu kacau bahkan tak ada pandangan yang jelas ditujunya. Edo mendekatinya, memeriksa luka yang ada diwajah Vira.
"Ada apa ini, dimana mama," tanya Edo.
"Mama? nggak, jangan panggil mama aku takut," memeluk kedua kakinya.
"Vira ada apa ini, kamu kenapa?"
"Mamy mamy kenapa," tangis bocah kecil itu.
"Ini semua gara-gara wanita ****** Cally, dia menerobos masuk dan melukai Vira," seru Sonya yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Edo menatap penampilan istrinya yang tak kalah kacaunya, baju dengan tangannya penuh dengan darah dengan rambut yang begitu berantakan.
"Apa yang kamu lakukan," tanya Edo pada istrinya dengan tatapan tajam.
"Aku? Apa yang bisa aku lakukan, lihatlah aku juga diserangnya," ucapnya membela diri.
"Jangan berbohong Sonya," teriak Edo yang bangkit dari posisinya.
"Mamy. Kakek tolong mamy," histeris Meya melihat tubuh Vira jatuh tak sadarkan diri.
Edo segera membawa tubuh Vira, namun ia juga tak lupa menggandeng tangan cucunya untuk ikut bersamannya. Didalam mobil Meya terus saja menangisi mamy nya, Sonya juga terus saja merancu menyalahkan Cally.
"Tutup mulutmu itu, jangan racuni cucuku," bentak Edo pada Sonya.
"Apa yang aku lakuin, aku juga korban perempuan itu. Tapi lihatlah kamu terus saja memarahiku," ucap Sonya berpura-pura sedih demi simpatik dari cucunya.
Ada kilatan kemarahan pada Meya saat mengucapkan hal tersebut, Edo melihatnya dan ia memilih untuk tak menanggapinya agar tak membuat Meya lebih marah.
Dan setibanya dirumah sakit Vira segera dilarikan ke UGD untuk mendapat pertolongan pertama. Disaat mereka semua mengantar Vira, mata Meya melihat sosok wanita yang telah melukai mamy nya.
"Aku juga nggak terima karena tante udah bikin mamy aku sakit."
Pandangan mata Letta juga Cally kini menatap gadis kecil seusia Laisa berdiri didepannya dengan tatapan penuh kebencian. Cally bangkit dan hendak mendekati Meya, namun gadis itu malah memundurkan langkahnya.
"Jangan dekat-dekat, kalian semua jahat," teriak Meya.
"Nak, kamu kenapa? Jangan ribut disini," ucap Letta.
"Kamu sama saja dengan tante jahat ini," menunjuk Cally.
"Cally, siapa sih dia?"
"Dia anaknya Daniel, lupa?"
"Oh, anak Daniel," ucapnya sambil menganggukan kepalanya.
"Apa yang saya lakuin sampai kamu semarah ini," tanya Cally pada Meya.
"Tante melukai mamy ku, membuat mamy takut juga berdarah," serunya.
"Ketakutan, tante yang bikin," tanyanya menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja kamu, lalu siapa," sahut Sonya yang muncul dengan tiba-tiba.
"Dialah nak yang melukai nenek juga mamy mu, membuat kami terluka," ucap Sonya memanas-manasi cucunya.
"Busuk, baru kali ini saya melihat nenek yang membodohi cucunya sendiri," sindir Letta.
"Ini masalah antara kita, jangan pernah bermain-main dengan melibatkan anak-anak didalamnya," ucap Cally memperingati Sonya dengan tatapannya.
"Jangan berani-beraninya pada nenekku, aku bakal lindungin nenek dari kalian yang jahat."
"Anak kecil, sebaiknya kamu lihat dulu dengan benar. Disini siapa yang jahat dan siapa yang dijadikan jahat."
"Cukup Ta, dia masih anak-anak."
"Sorry."
Sonya tersenyum sinis menatap Letta juga Cally yang tak bisa berbuat banyak karena ada Meya dihadapannya. Sonya tahu jika keduanya tak akan bertindak selama ada Meya didepan matanya, dan itu digunakannya untuk menguras emosi dari Cally juga Letta.
"Kenapa, takut? tadi berani," ejek Sonya.
"Letta stop!"
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...