CallyDaniel

CallyDaniel
67‐Kisah lama



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Tami tak tinggal diam saat Letta masih saja menarik rambutnya ketika keduanya berada didalam lift, hanya berdua namun aura membunuhnya makin pekat.


"Lepaskan atau gue patahin tangan loe ini," berontak Tami yang kesulitan melepaskan cengkraman tangan Letta.


"Manusia yang tidak tahu dimana posisinya berada, gue sedang berbaik hati akan mengajari loe bagaimana melihat posisi diri sendiri," ucapnya yang hanya menatap Tami dari pantulan pintu lift didepannya.


Sedang kelima orang yang tertinggal kini sedang berusaha mengejar Letta yang membawa Tami, Arga menyadari kemarahan istrinya dan ia tak ingin hal buruk menimpa Letta lagi. Didalam lift Arga terus saja menggerutu saat dirasa lift berjalan begitu lama.


Letta tiba dilantai dasar, kini sudah hampir waktunya jam makan siang jadi banyak karyawan yang berlalu lalang. Letta menyunggingkan senyumannya ketika melihat situasi lobby yang sedikit lebih ramai dari biasanya.


"Kebetulan ramai."


"Nggak, jangan gue mohon jangan lakuin itu. Gue nggak mau malu," menahan tubuhnya didalam lift.


"Terlambat, seharusnya loe mikir seribu kali sebelum mendatangi suami orang dan mengaku selingkuhannya."


Dengan sekali dorong membuat tubuh Tami tersungkur kelantai, banyak orang yang terkejut dan berkerumun. Letta keluar dari dalam lift, melipat tangannya sambil berdiri tepat disebalah Tami yang masih tak ingin mengangkat wajahnya.


"Kalian ada yang mengenal dia," tanya Letta dengan suara kerasnya.


"Dia yang tadi datang dan mengaku sebagai selingkuhan tuan Arga nyonya."


"Benar, ini wanita tak tahu malu yang mencoba menggoda si bos kita.


"Benar-benar nggak tahu malu."


"Kalian benar, dia adalah wanita yang tengah bermimpi menaiki ranjang dengan suamiku. Wanita yang tega menyakiti hati wanita lainnya," menekan kata sambil melirik Tami dibawahnnya.


"Jangan keterlaluan, bahkan gue belum melakukan apapun dengan suami loe!"


"Jadi loe berharap melakukan sesuatu dulu baru gue bisa menghukum loe ini, seperti itukah ?"


"Cih, bahkan Arga juga akan terpikat dengan diriku ini tanpa gue harus bersusah payah menggodanya," menantang Letta dengan kata-katanya.


"Lancang sekali, tutup mulut busukmu itu," teriak Arga berjalan mendekati istrinya.


"Ambilkan saya gunting," ucap Letta dengan malasnya melihat Arga berdiri disampingnya.


"Ini nyonya," seru salah satu pegawai yang kebetulan membawa gunting ditangannya.


"Terlalu menganggap diri sendiri cantik juga nggak baik, jadi gue bantu loe introspeksi diri gimana," berjongkok disamping Tami.


Crassss ..


Letta memotong rambut Tami, semua orang tercengang dengan aksi berani dari Letta barusan terutama Arga yang merasa statusnya sedang tidak baik-baik saja dihati istrinya.


Tangan Tami terkepal dan bergetar menahan amarahnya, ingin sekali ia bangkit dan membalas apa yang telah Letta lakukan tapi ia terlalu takut untuk mengangkat wajahnya dan menatap mereka semua.


Sekali bahkan kini tiga kali Letta memotong rambut Tami sembarangan. Semua orang bergidik ngeri dengan kemarahan Letta, tak ada yang berani menyela kegiatan yang sedang berlangsung tersebut.


"Penjaga," teriak Letta sambil membersihkan tangannya.


"Kami nyonya," datang lima orang berseragam dengan badan kekarnya.


"Bawa perempuan ini pergi, pastikan jangan pernah ia kembali menginjakkan kakinya disini!"


"Baik nyonya."


Dua orang penjaga membawa paksa tubuh Tami yang bergetar menahan kemarahannya, namun baru beberapa langkah saja Tami sudah menghentikan langkahnya. Ia bersuara tanpa memandang lawan bicaranya.


"Seharusnya kematian itu merenggut nyawa anda nyonya Arletta yang terhormat, tapi sayangnya keberuntungan juga kesialan tengah bertukar nasib disaat yang tidak tepat."


Kelima orang itu terkejut dengan apa yang diucapkan Tami, terlebih Letta yang ada sangkut pautnya dengan apa yang diucapkan gadis itu. Letta menahan dirinya agar tak kembali tenggelam dalam traumanya, ia menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan.


Ingin sekali David maju dan menanyakan lebih jelas tentang apa yang Tami bicarakan, namun Cally menahannya dan memintanya melihat kearah depan.


"Kalian semua bubar, kembali bekerja. Kalian diperbolehkan turun ketika ada perintah dari saya," ucap Arga yang membubarkan karyawannya dengan segera.


Letta melangkah maju dan kini berdiri tepat didepan Tami, wajahnya sudah lagi tak berekspresi. Hanya tatapan tajam juga aura membunuh yang kini menyelimuti lobby tersebut.


"Katakan, apa maksud ucapan loe barusan?"


"Hhaha, nggak akan. Loe nggak berhak tahu," sinis Tami menatap balik Letta.


Plakk..


"Disini bukan tempat dimana loe bisa bernegosiasi, hanya ada dua pilihan. Katakan atau simpan sampai MATI!"


Tami menggigil mendengar penuturan Letta, begitu santai namun penuh penekanan juga sangat menyudutkan. Kalau ia berbicara itu sama hal nya ia juga menggali lubang kuburnya sendiri, tapi kalau tidak makan Letta tak akan menyerah kepadanya.


"Kak Orland," panggil Letta masih dengan menatap Tami.


"Ada apa," melangkah maju sedikit lebih dekat.


"Bawa wanita ini ketempat biasa, pastikan ikat dengan sangat kencang."


Bahkan Letta yang lembut kini tengah menghilang, hanya ada kemarahan juga sakit hati yang dipancarkannya lewat kedua matanya.


Dengan bantuan Cally, Orland membawa paksa tubuh Tami dan memasukkannya kedalam mobil miliknya.


"Loe salah cari lawan ini Tami," bisik Cally begitu bahagia melihat ketakutan Tami kali ini.


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...