CallyDaniel

CallyDaniel
83‐Gugatan Cerai



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Edo mulai tak tahan dengan istrinya itu, ia memaksa Sonya untuk segera memberitahu dimana ia menyekap Laisa. Namun sekuat Edo memaksa maka sekuat itupula Sonya berdalih tak tahu.


"Akhh! Cucu kita ada pada mereka, apa kamu benar-benar tidak perduli lagi," tanya Edo penuh emosi.


"Mana mungkin aku tidak perduli dengan cucuku sendiri. Percayalah mereka tidak akan berani berbuat apapun pada Meya kita."


Edo begitu emosi, ia mencengkram kedua sisi bahu Sonya dengan begitu kuatnya. Sonya kesakitan, cengkraman suaminya benar-benar membuatnya kesakitan. Ia berusaha memberontak namun Edo begitu kencang mencengkram dirinya.


"Sakit," teriak Sonya.


Edo menghempaskan tubuh Sonya hingga tersungkur kelantai dengan begitu kerasnya, lantas ia megambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


"Halo," seru Edo.


"------- "


"Saya ada tugas untuk anda, tolong siapkan juga surat gugatan cerai untuk saya!"


Sonya terkejut bukan main dengan permintaan suaminya kepada sang pengacara, ia tak percaya jika Edo akan menceraikannya hanya karena masalah ini.


Ia bergegas bangkit dan merebut ponsel dan membuangnya kesembarang arah. Sonya begitu murka dengan keputusan suaminya, ia begitu tak terima diceraikan hanya karena menculik Laisa.


"Apa mau kamu sebenarnya!" bentak Sonya dengan tatapan tajamnya.


"Lepaskan anak itu dan cucuku kembali," singkat Edo.


"Nggak bisa, mintalah yang lainnya jangan itu," berjalan menjauhi suaminya.


Edo tak lagi berkata-kata, ia juga berbalik dan merapikan pakaiannya kedalam koper miliknya. Rasanya ia sudah tak mengenal lagi istrinya, Sonya yang sasat ini sudah gelap dengan ambisi juga dendamnya.


Awalnya ia membantu sang istri melampiaskan amarahnya namun seiring berjalannya waktu ia tak menyangka jika dendam itu menguasai seluruh hati istrinya. Hingga hari ini ia sudah tak bisa lagi memahaminya dan sudah tak bisa berdiri disebelahnya, Sonya kini sudah begitu keterlaluan dengan mengorbankan keselamatan cucu semata wayangnya.


"Baik! Baik kalau itu maumu Edo, kita pisah dan pergi dari sini!"


Sonya begitu dikuasai emosi, ia tak tahu apa yang ia sedang lakukan saat ini. Edo sungguh-sungguh keluar dari rumah membawa semua pakaian miliknya, ingin sekali Sonya menggapai kembali suaminya.


Kini Sonya hanya bisa menangis tersedu-sedu meratapi kepergian suaminya, sebenarnya tak hanya Edo namun Daniel juga sudah meninggalkan rumah itu tanpa Sonya tahu.


Kini Sonya begitu murka, tatapan murkanya penuh dengan bara. Ia bangkit dan berjalan keluar dari rumahnya. Ia kehilangan kendalinya, ia mengendarai mobil dengan begitu kencang bahkan tak jarang melanggar lalu lintas kota.


"Dimana bocah tengik itu," teriak Sonya yang ternyata pergi mendatangi markas tersembunyinya.


Semua orang begitu terkejut dengan kedatangan Sonya, terlebih kini Sonya datang dengan amarah yang begitu meledak-ledak. Mereka takut jika kedatangan Sonya akan menyakiti Laisa yang ternyata sedang terlelap dengan begitu nyamannya.


"Dimana dia, katakan," bentak Sonya.


"Bos, bocah itu sudah tidur. Sebaiknya besok sa-


"Kamu mengaturku! Siapa bos disini," teriaknya murka.


"Bu,, bukannya begitu bos."


Sonya melihat segelas bir penuh didalam gelas besar, dengan cepat ia mengambilnya dan membawanya pergi. Semu orang tekejut, mereka begitu takut jika hal buruk menimpa bocah lucu mereka.


Beberapa dari mereka mengikuti Sonya dengan begitu tergesa-gesa, sedang yang lainnya berjaga agar Sonya tak berbuat hal buruk pada Laisa.


Sonya melihat Laisa tertidur dengan begitu nyenyaknya, ia tak suka. Ia tak suka Laisa tak menangis ketakutan, ia mau Laisa menjerit bahkan memohon dengan air matanya.


Byurr..


"Bos," teriak serempak anak buah Sonya.


Uhuk uhuk uhukkk ..


Dengan kejamnya Sonya menyiramkan bir itu tepat mengenai wajah Laisa, Laisa terbatuk-batuk bahkan muntah dan terbangun dari tidurnya.


Melihat bocah kecil itu muntah, dua orang anak buah Sonya segera menghampairinya dan membersihkannya. Mereka memberikan Laisa air dan meminumkannya, berharap bir tersebut tak masuk dan tertelan oleh bocah malang itu.


"Menyingkir kalian semua, tinggalkan kami," bentak Sonya murka.


Ditempat lain, Cally begitu terkejut saat menerima sebuah pesan juga video dari Edo.


"Astaga!"


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...